Jeritan Malam Part 19 : Sebuah Pembuktian Ke Tujuh Dan Sejarah Mess

0
76
malesbanget.com

Entah karena rasa lelah yang aku alami telah mengganggu pandangan mata ini, aku melihat pergerakan mbah wodo yang semula terlihat cepat kini mulai melambat. Di antara pergerakan tangannya yang mulai melambat, wajah mbah wodo yang semula terlihat muda dengan pancaran pesonanya kini perlahan berubah bentuknya. Aku coba untuk mengedipkan mata beberapa kali untuk meyakinkan pengelihatan ini, wajah mbah wodo terlihat beberapa kali mengalami perubahan seiring pergerakan tangannya naik turu, kini wajah mbah wodo terlihat berubah menjadi wajah seorang pria tua dengan garis-garis keriput di wajahnya, aku coba untuk mengingat kembali wajah yang begitu familiar dalam ingatan ini.

Terkejut aku memaksa aku berangsur mundur, wajah orang tua yang kini aku lihat adalah wajah dari seseorang yang pernah aku temui di kereta dengan semua celotehan mistisnya. Belum hilang rasa terkejut aku dan ketakutan yang aku alami, terlihat mba wodo mengusap mukanya dengan menggunakan telapak tanganya, kini muka orang tua itu berganti wajah ke semula. Entah ilmu sihir apa yang baru saja mbah wodo tunjukan. Tidak lama mba wodo menanyakan asal aku. Mba wodo menanyakan dimana harimau pendamping aku, aku tinggalkan? Aku pun tidak paham dengan pertanyaan mba wodo mengenai harimau itu.

Aku pun di paksa jujur dan jangan membodohi dia, terlihat wajahnya menatap pepohonan besar yang berada di sekeliling rumah, mulutnya yang bergerak-gerak seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak kasat mata. Aku pun bicara tegas jika aku tidak tahu apa yang dia katakan. Seketika aku bertanya bagaimana mbah wodo bisa merubah wajah seperti tadi, namun mbah wodo kembali bertanya bagaimana bisa aku tidak mempercayai hal goib? Aku terdiam sesaat, berupaya mencari jawaban yang rasional.

Aku pun bicara jika aku lebih suka percaya logika berfikir untuk menjawab fenomena goib, ilmu pengetahuan yang aku pelajari mengajarkan aku untuk menggali segala potensi kekuatan yang di miliki manusia atau alam ini. Tidak selalu kita harus menghubungkan setiap kejanggalan dengan hal-hal klenik atau berbau mistis. Mbah wodo pun mengucapkan jika dia memaknainya seperti sebuah tantangan atau keinginan membuktikan. Saat itu keinginan aku untuk menjawabnya terpaksa aku tahan. Aku tidak ingin suasana yang terlihat sudah agak bersahabat menjadi panas kembali. Aku pun bertanya dengan rasa penasaran yang sudah tidak bisa aku tahan lagi, samar-samar terdengar suara seperti wanita tertawa yang entah dari mana asalnya. Terlihat pandangan mba wodo seperti memperhatikan sesuatu hingga akhirnya aku bisa merasakan ada sentuhan di wajah aku. Seperti sentuhan rambut yang turun dari bagian atas kepala lalu akhirnya menyentuh kulit wajah ini. Secara refleks aku langsung mengibaskan tangan berupaya menyingkirkan benda yang menimbulkan sensasi ini.

Tapi aku seperti mengibaskan sesuatu yang tidak ada. Obor yang berada di depan rumah dengan nyala api yang cukup besar kini terlihat seperti bergoyang-goyang seperti tertiup hembusan angin yang cukup kuat. Tapi ada hal yang aneh karena aku tidak melihat ada satupun pepohonan yang bergoyang tertiup angin. Bahkan untuk mendengar detakan jantung aku yang kini berdegup dengan kencang, bisa aku rasakan nyala api itu kini perlahan demi perlahan meredup dan kian meredup.

Bahkan nyaris mematikan sinarnya, di saat itu di kala tatapan mata aku seolah-olah terhipnotis oleh sebuah kekuatan yang membimbing tatapan mata ini untuk menatap deretan pohon besar di depan rumah, terlihat sebuah bayangan hitam yang dalam posisi tegak berdiri dan perlahan. Aku berusaha menunjukan kepada mbh wodo keberadaan sesuatu yang aku lihat tapi mulut ini terasa seperti di kunci oleh rasa takut, kaget dan tidak percaya terlihat mbah wodo seperti mengacuhkan ucapan dan gerakan tangan aku, tatapan matanya hanya terpaku pada kepulan asap yang keluar dari mulutnya, kini bayangan hitam itu mulai menampakkan wujud aslinya seiring bau busuk yang tajam menusuk hidung. Nyala obor yang semula nyaris padam perlahan mulai membesar bisa di katakana prosesnya berjalan sangat lambat, bahkan nyaris berjalan beriringan dengan kian nyatanya.

Wujud makhluk menyeramkan dengan bulu lebat hitam yang menutupi tubuhnya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas rupa wajahnya tapi sorot matanya terlihat merah menyala dalam kegelapan malam hingga akhirnya makhluk itu seperti membesar dan meninggi pada akhirnya hanya menyisakan dua kakiknya yang besar dengan bulu-bulu kasar yang menutupi kulitnya seperti layaknya monyet. Terdengar suara teriakan yang berasal dari samping rumah di iringi langkah kaki yang terdengar seperti berlari, pikiran aku langsung tertuju pada indra, minto dan dikin hingga memaksa aku untuk mengalihkan pandangan ke samping rumah, tampak mas dikin terlihat dengan nafas tersengal-sengal di susul indra dan minto.

Mba wodo pun tersenyum dan mengisyaratkan masih kah aku berfikir dengan rasional? tidak lama indra tanya kenapa wajah aku seperti kaget seperti itu? seketika minto berhenti mengucapkan ocehan kasarnya. Tidak lama setelah kejadian tadi aku bertanya lagi tempat apa ini? jika tidak di jawab aku berfikir kita berempat dan mbah wodo berdua, aku yakin masih bisa mengalahkannya, akan aku paksa dia bicara walau harus introgasi seperti perang. Dan kisah ini masih berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here