Jeritan Malam Part 18 : Sebuah Pembuktian Ke Enam Dan Sejarah Mess

0
93
malesbanget.com

Mas dikin pun menanyakan apakah kita akan melanjutkan perjalanan ini atau tidak? Aku tahu dengan maksud mas dikin, tujuan pertama kami hingga akhirnya kami menginjakan kaki di tempat ini tidak lain karena rasa penasaran dengan apa yang di lakukan hesti di tempat ini. Kepergian hesti tidak akan mengurungkan langkah kami untuk mengetahui tempat apa yang hesti datangi dan apa yang di lakukannya disana. Andaikan memang di balik kegelapan itu ada suatu rumah setidaknya minto dan yang lain bisa membersihkan diri dari kotoran dan menghilangkan bau yang semakin menusuk hidung.

Akan tetapi minto tidak berani karena menurutnya tempat ini angker. Dan aku pun penasaran apa yang minto lihat dan minto berkata jika dia sudah dari awal punya perasaan tidak enak, di saat keinginan aku untuk buang hajat sepertinya akan segera berakhir, aku melihat sesuatu. Awalnya aku berfikir suara yang timbul diantara rerimbunan di depan aku adalah suara yang di sebabkan oleh angina tau binatang malam lainnya, akan tetapi perlahan demi perlahan minto menghentikan ceritanya dan berusaha menyulut rokok lalu menghisapnya dalam-dalam. Perlahan rerimbunan semak belukar itu mulai terbisak, aku melihat seekor ular besar sangat besar dan andai aku gambarkan badan ular itu sebersar batang pohon kelapa dengan sisiknya yang berwarna hitam.

Mendengar cerita minto, aku langsung berfikir bahwa kejadian ini merupakan hal yang normal, di tempat seperti ini dimana pohon besar dan semak belukar begitu mendominasi sangat terasa wajar akan jehadiran binatang-binatang liar, seperti ular, babi atau pun macan. Jadi tidak ada yang aneh dengan apa yang di saksikan minto. Namun menurut minto ketika dia melihat bagian kepalanya, kepala ular itu terlihat menatap aku dengan sorot mata yang tajam, mata itu terlihat meruncing di setiap sudutnya dengan warna merah di kedua matanya. Indra pun mulai ketakutan mendengar cerita minto. Dan menurut minto yang paling tidak masuk akal, aku melihat seperti ada mahkota ada di atas kepala ular itu. Desisan dan sorot mata ular itu tidak bisa aku lupakan dalam waktu yang cepat. Aku bisa melihat rasa keberanian yang sebelumnya masih membara di wajah indra, minto dan dikin kini terlihat mulai redup.

Aku pun menyuruh mereka tunggu disini dan aku bilang aku akan jalan sendiri mencarinya. Dan bergegas segera melangkahkan kaki menaiki gundukan batu alam yang menyerupai tangga. Terlihat indra kini berdiri menyusul langkah aku hingga kahirnya minto dan dikin mengikuti juga. Rasa dingin, letih dan lapar yang kami rasakan seakan berjalan seirama dengan jarum jam yang mengantarkan malam berjalan menuju ke sempurnaan dengan sejuta misterinya. Ingin rasanya menghentikan langkah kaki ini dan berkata menyerah akan sebuah kata pembuktian, hingga akhirnya tatapan mata kami menangkap sebuah rumah, sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana seperti layaknya rumah-rumah di pedesaan yang tertinggal.

Cahaya obor terlihat menerangi sekitar rumah begitu juga dengan satu titik cahaya lilin yang terlihat memancarkan cahayanya dari dalam rumah. Aku berharap sambil berharap usulan yang keluar dari mulutnya, tatapan indra terlihat begitu tajam menatap bangunan yang dalam hitungan beberapa langkah kami akan mencapainya, rasa curiga terpancar dari wajahnya, begitu juga dengan tatapan minto dan mas dikin, entah apa yang akan kami temui di sana, kini tatapan indra terlihat berpaling ke arah minto dan mas dikin, terlihat anggukan kepala mereka, seakan sudah mengerti akan langkah kami selanjtunya.

Setibanya di rumah itu, lama tidak terdengar jawaban dari dalam rumah yang tampak tertutup rapat dan hanya menyisakan sebuah jendela yang di biarkan terbuka. Terdengar suara lirih mas dikin di iringi jari tangannya yang menunjuk pada sosok yang terlihat diam mematung menatap kami, dalam gelapnya malam dan sinar cahaya yang bersumber dari obor, kami masih bisa melihat wajah sosok menatap kami dengan tatapan dingi. Orang ini sama dengan orang yang kami lihat di kegelapan malam, seorang dengan bentuk tubuh tidak normal diantara kedua belah tanganya.

Namun ada kecurigaan dan ketidaksenangan dari raut wajahnya melihat kehadiran kami, lama terdiam dengan tatapan mata yang sama. Sebuah suara yang terdengar serak terucap dari mulut nya terlihat sepeti mengunyah sesuatu menanyakan siapa kita. Saat itu kami hanya bisa terdiam dan tidak bisa menjawab apa yang di tanyakannya, sepertinya kami terbius dengan keanehan dan kemisteriusan yang ada. Tidak lama terlihat pria muda dengan senyum ramah dan itu membuat kami semua lega dan tenang. Seketika kita di persilahkan duduk dalam kegelapan malam.

Saat itu kami memberitahukan jika kedatangan kami di karenakan ke sasar dan bukan kesengajaan. Dan saat itu orang yang bernama mba wodo itu menyurh aku meneruskan cerita aku. Dan aku bilang aku mengikuti wanita yang bernama hesti. tidak lama pun aku memohon ijin agar teman-teman aku di beri ijin membersihkan badan dan mereka semua menuju kebelakang rumah. Tatapan tajam mbah wodo melihat aku dan ia berkata dirinya sangat mengenal aku, bahkan aku di suruh melihat gerakan telapak tangan di depan wajahnya secara turun naik. Nah, baca terus ya kisah aku di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here