Jeritan Malam Part 17 : Sebuah Pembuktian Ke Lima Dan Sejarah Mess

0
91
malesbanget.com

Saat itu indra berkata bahwa kita buta daerah ini, indra dengan suara bergetar entah karena di sebabkan dinginnya malam atau karena tercekam rasa takut. Akhirnya mas dikin menurunkan ransel sambil meletakkan tas pinggang yang aku bawa ke bawah kursi, aku tidak mau kujang yang aku bawa ini akan menghambat perjalanan kami. Minto pun terheran tentang isi ransel aku yang sangat berat, indra pun meraba ransel aku yang tampak penuh dengan isinya. Akhirnya aku katakana sebaiknya kita semua jalan sebelum hesti jauh karena suara motor hesti sudah tidak terdengar lagi.

Mas dikin pun menanyakan bagaimana mobilnya dengan perasaan kawatir. Karena saat itu memang tempat itu agak sepi dan menjauhi jalan setapak yang akan kita lalui, aku pun bilang jika mas dikin tidak berani mas dikin boleh menunggu disini sambil meledek. Mas dikin pun mengatakan bahwa dirinya tidak berani. Dengan bermodalkan senter yang memang sengaja sudah aku persiapkan sebelum berangkat, kami mulai menapaki jalan setapak, jalan ini terlihat tidak terlalu banyak di lalui banyak kendaraan selain jalanya yang sudah rusak. Jalan ini sepertinya hanya di ketahui beberapa gelintir orang saja yang memang mempuyai tujuan ke tempat ini hingga akhrinya langkah kami menemui akhir dari jalan beraspal.

Saat itu aku hanya mengangguk tanpa menunjukan rasa kawatir yang aku rasakan, tempat ini sangat terasa sepi, dingin dengan kumpulan pohon besat yang seolah-olah mengawasi kami dengan sejuta misterinya. Saat itu kami semua mencari dimana mba warsono tinggal. Namun mas dikin menjelaskan jika belum sampai. Tatapan aku kembali menatap jalan setapak yang terlihat tidak berujung dalam gelapnya malam dank abut tipis yang menghalangi pandangan mata, hanya ada dua pilihan diantara langkah kaki yang terhenti ini, mengurungkan niat mengikuti hesti dan hidup dalam rasa penasaran atau tetap mengikutinya dengan resiko yang tidak kami ketahui di depan sana. Setelah berdebat cukup lama akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ini hingga akhirnya setelah semakin jauh kami melangkah, tatapan mata kami terhenti pada satu titik dimana motor yang di kendarai hesti terlihat terparkir.

Saat itu terlihat teman-teman aku memperingatkan aku untuk lebih hati-hati. Aku pun berjalan mengendap-endap menghampiri motor yang terparkir, mata kami serempak mencoba mencari keberadaan hesti dalam gelapnya malam. Aku mencoba mengarahkan senter untuk menembus kegelapan malam, gila rasanya ketika aku harus memutuskan arah langkah dimana kami sangat terasa asing dengan tempat ini, bayangan aku tentang ancaman hewan-hewan malam yang mungkin sedang mengintai kami bagaikan sebuah terror yang memberikan aku peringatan untuk membatalkan pencarian ini.

Tidak lama mas dikin menyurhku melihat sambil menunjuk jalan setapak kecil dengan bebatuan besar yang berpola seperti layaknya sebuah anak tangga hasil karya alam. Sepertinya itu jalannya menurut teman-teman aku, dimana saat itu tatapannya menatap anak tangga, keterbatasan daya pengelihatan kami hanya menyisakan sebuah tanda tanya besar akan apa yang akan kami temui di kegelapan sana. Telihat minto menghisap rokoknya lebih dalam lagi tapi itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa takut yang dia rasakan.

Indra bertanya apakah aku membawa keris kujang itu, sambil indra mencoba menghimpun keberaniannya, dia berharap kujang ini bisa memberikan sugesti keberanian yang lebih di banding yang sekarang dia rasakan. Entah kebohongan yang baik atau buruk, aku hanya berharap ini akan menjadi sebuah awal jawaban dari semua kejadian-kejadian aneh yang aku alami selama ini.

Yang pasti walaupun minto sakit perut namun tidak bisa disini. Aku coba memberikan solusi dengan menunjuk ke rerimbunan semak belukar, terlihat indra dan mas dikin kini sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, tapi semuanya kembali menjadi sunyi seiring isyarat yang aku berikan untuk menghentikan semua keriuhan ini. Tampak keraguan terlihat dari wajah minto untuk menyingkap rerimbunan semak belukar yang kini ada di hadapan matanya. Minto pun berkata bahwa kami semua tega karena menghilang dalam rimbunnya semak belukar. Lalu tidak lama kami mendengar suara minto dengan penuh kepanikan dan dengan segera kami berlarian menerjang gelapnya malam dan semak belukar yang menghadang, cahaya senter yang masih menyala cukuplah menunjukan keberadaan minto.

Tidak lama kami menanyakan apa yang terjadi dengan minto? Tidak lama aku menyuruh matikan cahaya senter sambil memberikan isyarat untuk menghentikan percakapan, begitu menyadari terdengar suara samar-samar dari kejauhan tapi perlahan demi perlahan suara itu kian mendekat hingga akhirnya menampakkan wujud seorang wanita dengan tiga pria yang menemaninnya. Dengan segera aku menyuruh mas dikin untuk memakaikan celana ke minto. Cahaya senter aku menemukan botolan air mineral yang aku berikan masih tampak utuh berada di tanah tanpa ada tanda sudah di gunakan, cukuplah tanda-tanda untuk aku artikan apa yang sedang terjadi, akhirnya dengan memakai air yang ada indra dan dikin membersihkan tangannya dari kotoran yang menempel. Setelah cukup lama akhrinya minto bisa menguasai rasa takutnya. Dan hesti pun hilang karena minto sakit perut tadi. Nah, cerita nya berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here