Jeritan Malam Part 15 : Sebuah Pembuktian Ke Tiga Dan Terungkapnya Sejarah Mess

0
57
malesbanget.com

Tepukan ke arah kening untuk membinasakan nyamuk yang menghisap darah ini sepertinya menjadi puncak keputusasaan aku terhadap semua penantian ini. Aku berkata ini semua adalah hal yang omong kosong dan seketika aku bangkit dari duduk yang hampir membuat keram kaki ini. Aku juga menumbuhkan rasa keberanian mas dikin agar kita harus berani karena jika berani hal-hal yang berbau mistis itu tidak ada. Menurut aku rasa takut yang membuat kita berimajinasi dan membentuk sosok-sosok aneh dan suara-suara aneh itu. Untuk kedua kalinya dalam hidup aku sesajen ada di lantai menjadi santapan kaki ini.

Akhirnya aku bertanya pada mas dikin, mas dikin member sesajen untuk siapa? mas dikin pun bercanda bahwa mengambil kepala ayam dari dalam cawan dan melemparkannya keluar pagar. Kembalinya mas dikin mengingatkan aku dalam rasa takut dan kekawatiran di wajahnya, sesaat tatapan aku menatap mas dikin lalu kemudian berpaling pada kujang yang berada di genggaman tangan ini. Tanpa berfikir lagi apakah kujang itu mempunyai nilai yang tinggi, segera aku lempar benda itu ke rumput yang masih berada di dalam halaman rumah, tampak mas dikin hanya menggelengkan kepala tanpa berusaha menghalangi.

Aku pun besok berniat untuk tidak masuk kerja, bukan mau membuktikan apapun tetapi aku mau minta maaf karena sudah berfikir buruk tentang dia. Setelah itu baru kita ambil waktu tepat berkunjung ke tempat mba warsono. Setelah semua pembuktian terasa sia-sia, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, sebelum masuk terlihat mas dikin mencoba membereskan sesaji yang terlihat berantakan.

Mas dikin segera menghentikannya dan ikut bergegas ke dalam rumah kemudian lanjut membersihkan pecahan piring nasi yang berserakan di lantai, aku coba menemani mas dikin dengan obrolan ringan, disela-sela hampir selesainya mas dikin merapihkan meja makan dan hendak beranjak untuk tidur, tatapan mata mas dikin tampak kaku tanpa berkedip menatap aku, entah apa yang dilihatnya hingga membuat dia segugup itu, jangnakan untuk berkata secara benar, untuk sekedar mengedipkan matanya saja terasa sulit.

Aku tidak bisa membayangkan apabila peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu kini terjadi lagi menimpa aku, bayangan aku tentang wajah mas dikin yang berubah menjadi orang tua renta segera memenuhi imajinasi aku. Aku pun berkata jangan sampai rasa takut aku itu membentuk imajinasi mistis. Saat itu aku penasaran untuk perlahan melihat ke belakang tubuh aku, tidak ada apa-apa selain lukisan yang tergantung di dinding dan lemari jati yang tampak tua, kawatir mas dikin akan bertingkah aneh sepeti yang pernah terjadi dengan indra. Dengan segera aku tarik tubuh mas dikin untuk menuju ruang tengah, terdengar suara mas dikin yang masih terbata-bata mencoba menerangkan apa yang di lihatnya. Tatap aku sugesti untuk membentuk rasa nyaman, hal itu aku ucapkan untuk menenangkan mas dikin. Setelah terlihat mas dikin agak tenang, segera aku ulangi pertanyaan yang sama.

Mas dikin mencoba menerangkan apa yang baru saja dilihatnya, tatapan matanya melihat rambut yang menembus langit-langit dapur, tergerai turun secara perlahan hingga akhirnya menyentuh lantai, rambut itu turun secara perlahan hingga akhirnya menyentuh lantai, rambut itu turun tepat di belakang aku bahkan terangnya lagi ada sebagian rambut yang menyentuh pundak aku sebelum lantai, ini sangat tidak mungkin, bagaimana bisa aku tidak merasakan semua itu.

Mata aku masih menatap langit-langit kamar, ada kebanggan yang tersirat dari tatapan ini, aku sudah berhasil membuktikan bahwa semua kejadian ini adalah imajinasi buah dari ketakutan, terbayang wajah indra, minto dan dikin yang masih saja terjebak dalam rasa takut itu. Belum sampai mata ini berhasil di pejamkan, tiba-tiba keadaan menjadi gelap gulita rupanya listrik di mess ini turun, terdengar suara dari luar kamar. Rasa panic menyelimuti kita dan lampu pun mati. Lama aku menanti lampu ini menyala hingga akhirnya sebuah hembusan dingin terasa menerpa leher dan wajah ini, dalam suasana gelap gulita seperti ini aku masih bisa membedakan antara hembusan angin dengan hembusan nafas, rasa keberanian dan kebanggaan yang tadi bagaikan mahkota di kepala aku terasa sirna, aku bisa merasakan dan mendengar setiap tarikan dan hembusan nafasnya, terasa dekat sekali di samping wajah ini, bulu kuduk yang menjadi sinyal kita. Keinginan aku untuk berteriak memanggil mas diki sepeti tercekat dalam tenggorokan ini.

Terdengar suara minto mengetuk pintu kamar aku, sinar cahaya pagi seperti menyadarkan aku dari mimpi buruk yang panjang, ada rasa pegal dan nyeri di seluruh tubuh ini, keinginan aku untuk bangkit terhalang kenyataan yang ada. Tidak lama minto membawa aku menuju rumah sakit, tatapan mata mas dikin seolah bisa memberikan aku gambaran tentang apa yang dipikirkannya, terlihat mas dikin mencoba menahan laju langkah minto dan menceritakan kejadian semalam. Dan aku pun bertanya minto dan indra kemana saja semalam. Nah kisahnya masih berlanjtu terus di part berikutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here