Jeritan Malam Part 14 : Sebuah Pembuktian Ke Dua Dan Teruangkapnya Sejarah Mess

0
26
malesbanget.com

Berat yang aku rasakan dan semuanya semakin terasa berat ketika terdengar suara mas dikin memanggil nama aku, terdengar langkah kakinya begitu cepat menyusul, di antara detak jantung aku yang berdebar kencang, kini terasa tangan mas dikin yang berusaha menarik baju di pundak aku, ini benar-benar tidak masuk akal. Sangat gila dan di luar kemampuan aku untuk memahami ini semua. Andaikan makhluk astral mana mungkin bisa bertingkah laku seperti manusia. Berlari mengejar langkah aku, seperti seekor predator yang mengejar mangsanya, dengan seluruh keberanian yang tersisa akhirnya aku beranikan diri untuk menolehkan kepala ke belakang. Terlihat wajah mas dikin yang panic dan penuh ketakutan. Wajah itu merupakan wajah mas dikin yang aku kenal, sangat berbeda dengan wajah yang aku lihat di dapur tadi.

Mas dikin pun menyadarkan aku dan aku mendengar keras suara mas dikin dengan keras sambil menggerakan pundak aku, ada secercah keberanian yang muncul mendengar suara mas dikin yang berusaha menyadarkan aku entah dari apa, tapi ada juga rasa takut dan kawatir dengan sosok mas dikin yang sekarang berada tepat di belakang aku, aku tidak ingin makhluk ini berhasil memperdaya dan menakuti aku untuk yang kedua kalinya.

Aku pun mencoba untuk memperhatikan secara seksama wajah mas dikin, hati kecil aku menilai ada kejujuran dari ucapannya dan itu cukup menjadi dasar untuk aku mempercayainya. Aku pun meyakinkan bahwa itu adalah mas dikin dan mas dikin pun meyakinkan aku bahwa dirinya adalah mas dikin. Karena mendengar cerita aku bahwa aku melihat mas dikin di dapur mas dikin pun bilang tadi seharusnya dirinya ikut mas minti dan pak indra saja.

Saat itu aku sangat tidak mengetahui apa yang mas dikin ucapkan. Nada bingung terdengar dari pertanyaan aku, akhirnya berkisahlah mas dikin tentang kejadian yang baru saja terjadi, rupanya sosok yang berada di dapur tadi memang mas dikin adanya, justru keanehan terjadi pada diri aku. Saat itu aku mengajak mas dikin makan bersama namun menurut keterangan mas dikin jika aku berbicara sendiri entah dengan siapa.

Akhirnya aku jelaskan kepada mas dikin tentang peristiwa yang baru saja aku alami, terdengar tidak masuk akal dan terkesan mengada-ada. Andai di ruang tamu ini ada orang lain selain mas dikin, aku tidak akan menceritakan apa yang baru saja aku alami. Bercerita sesuatu yang tidak masuk akal hanya akan membuat aku seperti orang bodoh yang sedang berkhayal.

Setelah kejadian tadi mas dikin menyarankan agar rencana aku tadi pagi lebih baik di batalkan karena dirinya merasakan sesuatu yang tidak enak. Saat itu aku mencoba meredakan ketakutan mas dikin, kembali lagi tercium bau bangkai seperti bau yang tercium di dapur tadi, pandangan aku menatap mas dikin dengan harapan mas dikin mencium juga bau yang tercium aku.

Terlihat mas dikin sedang komat kami membaca sesuatu, bisa aku rasakan udara di ruang tamu yang biasanya terasa hangat kini seperti terjamah kekuatan tak kasat mata itu, terasa dingin dan lembab, samar-samar terdengar suara seperti orang yang sedang membenturkan sesuatu ke lantai.

Mata mas dikin memberikan isyarat bahwa sumber suara itu berasal dari teras depan, aku coba memberikan isyarat balik kepada mas dikin untuk mencari tahu penyebab suara aneh itu, dengan sangat perlahan mas dikin mencoba menyikap gorden dan mencoba melihat apa yang terjadi. Aku mencoba ikut mengintip keluar dan memang betul apa yang dikatakan mas dikin, hanya cahaya redup lampu teras yang sedikit menerangi gelapnya malam yang aku saksikan. Kembali aku mengajak mas dikin untuk duduk dan memutuskan menunggu kehadiran minto dan indra, seiring waktu yang terus berjalan tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Suasana malam ini terasa hening bahkan aku bisa mendengar bunyi jarum yang berdetak, mungkin keheningan ini di karenakan rasa takut, cemas, penasaran yang aku rasakan dan semua perasaan itu sepeti tercampur aduk dalam pikiran aku.

Mas dikin pun bercerita tentang kebiasaannya yang selalu keluar rumah di saat kami bekerja di rumah dan terkadang di saat malam tiba, mas dikin sering beralaskan keluar ingin berpartisipasi menjaga keamanan, runtuh sudah pandangan aku yang beranggapan bahwa mas dikin adalah orang yang bisa aku andalkan di saat terjadi sesuatu di karenakan aku melihat ketenangan mas dikin menghadapi fenomena ini.

Kini mas dikin akut duduk bersila di samping aku, aku bingung apa yang harus aku ucapkan untuk berinteraksi dengan mereka untuk sementara kami hanya duduk dengan pandangan menatap kegelapan malam, 20 menit berlalu tanpa ada suatu kejadia apapun, mungkin kami salah melakukan ritual ini, bosan rasanya menghadapi kenyataan ini, dimana suara-suara itu, dimana makhluk yang biasanya mengganggu itu, dimana harimau yang konon katanya jelmaan kujang tua ini, dimana bau bangkai muncul. Cerita ini akan berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here