Jeritan Malam Part 13 : Sebuah Pembuktian Dan Terungkapnya Mess

0
49
malesbanget.com

Melanjutkan kisah sebelum nya atas kekaguman teman-teman aku, aku mengtakan pada mereka jika ini hanya benda biasa yang mempunyai segi lebih dari keunikan dan mungkin nilai harganya. Dan keris yang ada di tangan minto segera aku ambil kembali dan segera membungkusnya, berdosa rasanya bila melihat orang yang sudah begitu mempercayai hal-hal yang bersifat mistis akan menjadi lebih percaya lagi karena efek keunikan keris. Saat itu indra bertanya apakah aku pernah berguru, namun aku bukanlah orang yang suka menggeluti hal-hal seperti itu, aku hanya belajar pelajaran normal seperti layaknya orang-orang normal lainnya.

Tadinya aku tidak bisa memungkiri sebelum aku menginjakkan mess ini, aku merupakan sosok yang paling merendahkan pemikiran orang-orang yang berfikiran sempit yang selalu menghubungkan semua fenomena alam yang aneh dengan sesuatu yang berbau misteri. Tetapi selama aku berada di mess ini ada berbagai macam kejadian aneh yang sulit aku jelaskan dengan akal sehat, tampak sekali raut mukanya yang kaget seakan melihat sesuatu di dalam kamar aku, begitu juga dengan keris orang pintar yang bisa terpental dengan sendirinya. Hati kecil aku berkata mungkin benar adanya keberadaan makhluk-makhluk tidak kasat mata itu, tapi kembali lagi pemikiran sehat aku menolaknya. Pemikiran sehat aku hanya mengakui semua ituhanyalah sebuah fenomena alam yang belum bisa di jelaskan dengan ilmu pengetahuan saat ini.

Aku menunjukkan keris itu untuk sebuah pembuktian. Ada rasa ingin untuk menceritakan semua kejadian yang berhubungan dengan keris atau kujang itu, tampak keseriusan di wajah mereka mencoba menyimak setiap detil kalimat aku. Sebelum membuktikan benda ini pada hesti, aku ingin membuktikan benda ini memang punya aura kekuatan di rumah ini. Lalu aku berucap kalian harus dukung aku jika ingin mengetahui mess ini dan latar belakangnya. akhirnya aku menanyakan pada mas dikin, bagian rumah mana yang mas dikin sering di ganggu dengan kejadian aneh. Mas dikin pun menjawab bagian dapur dan kamar mandi, tapi dapur lebih sering terjadi gangguan karena di situ tempat di temukannya kerangka-kerangka itu.

Rencana pun sudah siap, aku dengan minto cari hiburan di luar dulu, sebelum nanti malam aku stress. Indra pun menarik tangan minto, terlihat minto mencoba mengajak mas dikin. Akhirnya mas dikin menolak karena mau menemani reza saja. Aku pun segera tidur dan berharap semuanya berjalan lancar nanti malam. Tidak lama mas dikin membangunkan aku karena jam sudah menunjukan pukul 8 malam dan rupanya aku tertidur sangat lama hingga kedatangan malam pun tidak aku sadari.

Mas dikin pun meminta maaf karena sudah membangunkan aku. Mas dikin kawatir aku tidurnya terlalu lama. Tidak lama segera bergegas melangkah menuju dapur, tampaknya dia sedang menyiapkan sesuatu, tanpa berfikir lama segera aku menghampiri mas diki dan benar perkiraan aku ternyata mas dikin sudah menyiapkan makanan untuk makan malam. Aku pun menanyakan indra dan minto dan mas dikin menjelaskan jika indra dan minto masih belum datang hingga saat ini.

Aku pun mengajak mas dikin untuk menemani aku makan agar tidak sepi, tampak mas dikin tidak menjawab dan hanya menganggukan kepala. Mas dikin pun menanyakan tentang rencana aku akan membuktikan sesuatu. Terlihat dia terlalu asik memainkan sendok nasi di tangan kanannya. Mas dikin seperti ketakutan dan aku bilang mas dikin tidak perlu takut dan kawatir semuanya pasti berjalan lancar.

Aku pun berkata jika mas dikin kan sudah sering lihat setan di film horor, jadi mas dikin tidak harus kaget atau takut lagi.Kini tercium bau bangkai yang menyeruak menusuk hidung, hampir setiap malam selama aku berada di mess ini, bau itu selalu tercium tanpa mengenal waktu kedatangannya, sirna sudah keinginan aku untuk melanjutkan makan mala mini, bau bangkai yang aku rasakan mala mini melebihi bau yang aku rasakan malam-malam sebelumnya, tampak mas dikin sama sekali tidak terganggu dengan bau bangkai ini.

Ketika itu mas dikin menundukkan kepala nya dan aku bilang padanya agar besok beli pewangi dan mengganti lampu yang lebih terang, akan tetapi mas dikin menjawab dengan suara lebih berat dan serak, tangan yang semula memainkan sendok kini terlihat bergerak kea rah kepala, terlihat seperti orang yang sedang merapihkan rambut. Dalam setiap belaian tanganya kini terlihat beberapa helai rambut. Kulit kepala yang terlepas meninggalkan luka seperti luka kulita yang terkelupas, semua kejadian ini sontak membuat aku kaget.

Aku coba untuk memberanikan diri diantara rasa ketakutan itu, sebelum semuanya terasa terlambat, akhirnya aku beranikan diri untuk keluar dari situasi ini dengan mencoba berlari di antara persendian yang mulai terasa kau, sungguh efek takut ini sudah mematikan semua susunan saraf pergerakan aku. Di antara dua pilihan untuk berlari menuju kamar tidur atau berlari keluar rumah, akhirnya aku ptutskan untuk berlari sekuatnya menuju pintu keluar rumah walaupun dengan langkah yang terasa berat. Dan kelajutannya masih di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here