Jeritan Malam Part 11 : Kunjungan Wulan 1 Ke Mess Yang Tidak Diharapkan

0
93
malesbanget.com

Rupanya perbincangan ini telah melunturkan semua rasa canggung berganti menjadi keakraban sampai saat ini aku masih merasa nyama dan tidak melihat keanehan dari wanita ini, sungguh jauh dari kesan wanita misterius dengan ilmu pemikat. Hesti pun menanyakan rencana aku setelah ini akan kemana. Aku pun bilang bahwa aku juga belum tahu dan mungkin aku akan kembali ke mess. Saat itu hesti menawarkan aku bahwa dirinya akan menemani aku berjalan karena dirinya sedang tidak ada rencana kemana-mana. Saat aku mau bayar hesti melarangn aku bayar dan aku di beri gratis makan. Beberapa tatapn mata terlihat seperti berbicara ketidaksukaan mereka atas keberuntungan aku.

Hesti mengajak aku berputar-putar melihat situasi kota, banyak yang tidak aku ketahui dari kota ini sambil sesekali mampir ke tempat jajanan kecil di pinggiran jalan, rasanya aneh merasakan aku sebagai lelaki di bonceng sepeda motor oleh wanita. Wangi tubuh dan rambut hesti yang tertiup angin malam begitu menggoda naluri aku sebgai lelaki. Hesti bilang jangan kaku karena dia jadi tidak enak membawa motornya.

Aku pun minta maaf pada hesti karena aku tidak biasa di bonceng meskipun sebetulnya bukan karena itu. Hesti pun melajukan motornya menuju mess dan terlihat sekali hesti sudah mengetahui seluk beluk jalan menuju mess. Sesampainya di mess terlihat pintu mess masih tertutup rapat sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 malam, rupanya mas dikin, minto dan indra masih berada di luar sana, segera aku mempersilahkan hesti masuk dan duduk di ruang tamu, setelah berganti baju aku kembali dengan menghidangkan secangkir the hangat. Terlihat hesti duduk dengan menumpangkan kaki kanan pada lutut kirinya, tertutup tapi masih menyingkapkan rok mininya.

Aku menyuruh hesti minum agar aku bisa memalingkan mata dari pemandangan ini, entah ini perasaan aku saja atau mungkin terbawa suasana, sosok hesti yang semula terlihat biasa, makin lama semakin terlihat semakin cantik seakan setiap menit yang bertambah mengiringi perubahan kecantikannya. Saat itu hesti tanya kenapa aku tidak tanya kenapa dirinya bisa tahu jalan menuju mess, aku pun terdiam karena takut menyinggungnya. Hesti berkata bahwa dia yakin jika aku pasti sudah tahu.

Saat itu hesti tanya apakah diri aku percaya jika dirinya adalah orang yang jahat dan seketika aku bilang jika aku tidak percaya. Setiap kata yang keluar dari mulut hesti bagaikan kalimat yang keluar dari mulut seorang pujangga, terasa halus, memanjakan dan membuai. Aku berfikir ulang untuk mempercayai omongan indra dan minto. Akhirnya kami terlibat sebuah pergumulan layaknya aku bergumul dengan indra, namun yang membedakan hanyalah dalam pergumulan ini ada hawa nafsu birahi yang timbul di setiap pergerakan tubuh. Aku pun mengajak hesti ke kamar dengan nafas memburu sambil menarik tangan hesti menuju kamar, ketika mendapati pintu kamar sudah terbuka dan hendak melangkahkan kaki ke dalam kamar, mendadak langkah hesti terhenti. Tatapan matanya kea rah dalam kamar segera menghentikan segala aktifitas kamu, entah apa yang dia lihat tapi apapun itu mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar.

Hesti menarik kembali tangan aku dan mengajak aku ke ruang tamu lagi. Di saat semua itu mulai akan berlanjut dengan hubungan layaknya hubungan seorang suami istri, terlihat pintu ruang tamu terbuka diiringi kemunculan indra dan minto, terlihat rasa kaget di wajah indra dan minto begitu menyaksikan apa yang kami lakukan di ruang tamu, begitu juga dengan aku dan hesti yang tidak menyangka kehadiran mereka yang tiba-tiba, dalam sekejap hesti langsung merapikan pakaiannya dan pergi tanpa sempat mengambil pakaian dalamnya yang masih di lantai.

Aku pun coba memanggil hesti agar dia tidak pergi, terlihat indra dan minto menghalangi langkah aku dan menyaksikan kepergian hesti. Setelah hesti terlihat pergi dengan menggunakan sepeda motornya, minto mendorong aku dengan kerasnya hingga aku jatuh ke kursi. Dia bilang aku boleh main gila tapi jangan dengan wanita itu, ucap nada emosi minto. Dari sore saja kamu ikut kami bersenang-senangan bukan dengan hesti. Setelah emosi minto reda dia dengan segera minta maaf kepadaku.

Pagi harinya aku terbangun dan tidak merasakan gangguan sama sekali, namun terdengar sebuah percakapan yang berasal dari ruang tamu. Aku langsung mengambil handuk dan keluar kamar untuk mandi. Terlihat mas dikin sedang berada di ruang tamu bersama wanita yang tidak lain adalah wulan. Aku kaget berlari sambil memeluknya, kini minto dan indra sudah bangun dan ikut bergabung menyambut wulan.

Aku mandi dan air pun sangat segar dan entah mengapa ada rasa rindu dengan hesti dan tidak lama tersadar aku ingat jika pakaian dalam hesti di bawah bantal belum aku pindah dan wulan sudah masuk kamar, seketika aku langsung lari dan aku mendapati kamar aku sudah rapid an pakaian dalam hesti sudah tersusun rapi di lemari aku. Lanjutan cerita nya berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here