Jeritan Malam 2 Part Pertama : Adanya Tumbal Dan Keyakinan Itu Semakin Menipis

0
90
malesbanget.com

Saat itu bapak mengalami kecelakaan dan sekarang dalam kondisi kome di rumah sakit. Sebuah hal yang mengantarkan langkah kaki aku yang terlihat menapaki lorong panjang koridor rumah sakit yang terasa sunyi dan dingin, sesekali langkah kaki ini berhenti saat ada lorong gelap yang tidak ada lampu penerangan. Jika tidak mengingat ada orang di depan sana yang sedang bertarung mempertahankan hidup, mungkin aku sudah memutuskan untuk berbalik arah dan menjauhi lorong panjang yang sunyi ini.

Tidak lama ada sapaan yang menanyakan aku sedang apa? dengan iringan tepukan halus di punggung, spontan membuat sebagian tubuh aku terasa lemas karena terkejut. Berat rasanya untuk menolehkan pandangan ini ke belakang bila nantinya menemui pemandangan yang sangat membuat aku merasa tidak nyaman. Hingga akhirnya aku putuskan untuk tetap menoleh walaupun bulu kuduk terasa semakin menebal.

Seorang pria yang aku lihat masih muda dan seumuran dengan aku. Mencoba menyadarkan aku yang masih terdiam menatapnya. Lama aku terdiam mencoba memperhatikan wajah pria tersebut dan semakin lama aku memperhatikan semakin yakinlah bahwa pria yang berada tepat di belakang aku ini adalah seorang yang pernah aku kenal. Ternyata itu adalah dedi. Sempat ragu sambil membalikan tubuh menghadap pria yang terlihat menggunakan baju seragam keamanan sebuah rumah sakit. Nama yang tertulis di bajunya bisa aku pastikan bahwa ini memang dedi yang aku kenal. Seseorang yang telah lama menghilang dari kehidupan aku semenjak kelulusan kita dari sebuah sekolah menengah atas di daerah bogor. Walaupun wajahnya sudah tidak muda seperti dulu tapi aku masi bisa tetap mengenalinya. Kini terlihat dedi terdiam dengan wajah bingung.

Tatapan terlihat mencoba kembali mengenali aku di tengah pencahayaan lampu yang redup. Ini merupakan suatu perjumpaan yang sangat tidak aku rencanakan. Ada rasa gembira yang aku rasakan dalam perjumpaan ini, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Momen pertemuan ini sangat tidak pas, di saat sebuah kabar buruk di tengah mala mini membuat sebuah kepedihan di hati ini, sebuah perjumpaan dengan kawan lama yang seharusnya aku rayakan dengan penuh canda tawa kini urung aku lakukan.

Wajah aku yang sedih membuat dedi bertanya ada apa dengan aku? ingin rasanya aku tidak menumpahkan semua kejadian yang aku alami pada seseorang yang selama ini sudah lama tidak aku jumpai, tapi beban ini terasa berat sangat berat hingga wajah aku tidak bisa untuk di tutupi. Hingga akhirnya aku menceritakan semua kejadian-kejadian buruk yang datang silih berganti dalam kehidupan aku, tanpa basa basi untuk memberikan jawaban simpati atas semua kejadian yang aku alami. Dedi menarik tangan aku untuk segera menuju ke ruang ICU. Sesampainya disana untuk beberapa saat dedi meninggalkan aku di sebuah kursi tunggu, terlihat dia mencoba mencari informasi kepada petugas keamanan dan beberapa perawat yang bertugas disana. Dari perbincangan yang terlihat , aku bisa merasakan bahwa mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Lama aku terdiam menunggu informasi yang akan dedi sampaikan, hingga akhirnya aku putuskan untuk segera menghampiri dedi di karenakan rasa ingintahu aku akan kondisi bapak yang belum bisa aku pastikan kondisi terakhirnya. Belum sempat kaki ini melangkah menghampiri dedi, tanpa sengaja tatapan mata aku menangkap seorang laki-laki tua sedang berdiri di pertigaan koridor rumah sakit dengan tatapan dinginya. Terasa redup cahya lampu yang menerangi wajah orang tua ini di tambah lagi dengan jarak pandang yang tidak terlalu dekat.

Semua ini menghalangi pengelihatan aku untuk memastikan siapa dia? tapi untuk sesaat aku kembali terpaku melihat dari posturnya. Gerakan tubuh serta wajah yang tidak begitu terasa asing. Walau terlihat samar dalam redupnya cahaya lampu, aku bisa merasa yakin bahwa sosok itu orang yang aku kenal. Terdengar suara teriakan dedi yang memaksa aku untuk memalingkan pandangan ini dari sosok lelaki tua tadi, terlihat dedi memberikan isyarat agar aku datang kepada nya.

Kini aku melihat sosok pria tua itu kembali terlihat dengan tubuh membelakangi aku, terlihat seperti berjalan dan akhirnya menghilang memasuki sebuah ruangan yang berada di ujung koridor, melihat bentuk dan gerak badanya, aku kembali meyakinkan diri bahwa sosok itu adalah sosok bapak yang menemani aku sedari kecil hingga dewasa. Dengan pelan aku berusaha membuang ketakutan yang kini mulai terasa menghantui pikiran aku. Rasa penasaran yang begitu kuat telah mengalahkan rasa takut yang aku rasakan, dengan perlahan aku mulai melangkah menapaki jalan koridor rumah sakit, sesekali langkah aku kembali terhenti begitu memasuki bagian koridor yang lampunya tidak menyala. Semua terasa begitu dingin dan sunyi dengan menutup semua rasa takut yang aku rasakan. Akhirnya langkah kaki aku terhenti, kini di depan aku tampak sebuah pintu kayu yang terlihat agak besar dan tua dengan kondisi tertutup rapat.

Dedi pun bicara jika ruangan ini merupakan kamar jenasah. Dan tidak lama aku mengajak dedi ke ruangan ICU. Tidak lama dokter pun menjelaskan detil keadaan bapak aku. Dan pada pukul 01.30 malam bapak aku menghembuskan nafas terakhirnya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat jenasah bapak dan minta maaf padanya. Cerita nya bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here