Jeritan Malam 2 Part Ketujuhbelas : Pembersihan Hal Goib Dan Sebuah Perlawanan

0
87
malesbanget.com

Saat itu aku menanyakan keadaan mama pada om wisnu, namun om wisnu hanya bisa terdiam membisu, ekspresi wajahnya masih menunjukan sisa-sisa kekesalannya terhadap aku. Jari jemari tangan aku masih mencoba memegang kedua tangan mama yang bergerak tidak menentu. Suara yang keluar dari mulutnya seperti menggambarkan bentuk komunikasi dua arah yang terlihat sangat janggal. Sesekali tatapan mata mama yang terlihat kosong dan dingin menerawang ke segala penjuru ruangan. Aku pun membisikan mama dengan pelan, namun tidak terlihat respon dari mama atas bisikan yang aku berikan, mama terlihat terlalu sibuk dalam permainan imajinasinya sendiri, entah sudah berapa kali aku harus mengulangi bisikan-bisikan itu hingga akhirnya terlihat tanda kesadaran pada diri mama walau itu hanya sekejap.

Jari jemari tangannya terlihat semakin erat menggenggam tangan aku. Dengan penuh kekawatiran hati aku mengatakan ada sesuatu yang buruk pada pengelihatan mama, tatapan mata mama yang terlihat kosong seperti tidak menyadari keberadaan aku. Ketika mama mengatakan jika dirinya tidak bisa melihat aku, aku hanya bisa terdiam dalam linngan air mata begitu menyadari bahwa yang aku perkirakan benar adanya. Rasa sesal yang aku rasakan bagaikan sebuah anak panah yang menghujam dan melukai hati aku, aku benar-benar merasa gagal untuk melindungi orang yang benar-benar aku sayangi.

Mama pun berteriak ketika itu dan hingga akhirnya hanya kalimat yang keluar tanpa berpanjang lebar dari mulut mama, segera aku tinggalkan mama menuju dokter yang bertugas. Beberapa orang perawat terlihat memperhatikan aku, mungkin mereka sudah terbiasa untuk menghadapi situasi seperti ini, situasi dimana seseorang bermain-main dalam sisi emosionalnya. Aku pun bertanya apa yang terjadi dengan mama aku dan dokter pun berkonsultasi dengan dokter lain yang ada di sampingnya. Namun dokter pun kaget saat aku menjelaskan jika kondisi mama seminggu yang lalu baik-baik saja. Hampir seharian aku terombang ambing dalam rasa cemas melihat kondisi mama yang belum menunjukan tanda-tanda kesembuhan, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan mama di rumah sakit. Semua ini aku putuskan setelah melalui pertimbangan aku yang matang, aku ingin mama menjalani semua pemeriksaan medis ini secara lebih intensif lagi. Selain tujuan utama aku yaitu ingin menghindari mama kemblai ke rumah dalam waktu dekat ini.

Aku pun sambil mencoba menerangkan langkah-langkah yang harus dia mbil dalam soal biaya pengobatan mama. Bi nani dan mang iwan pun hampir bersamaan bertanya aku akan kemana? Terlihat dari raut wajahnya akan ketidaksetujuan akan langkah selanjutnya yang akan aku utarakan. Setelah mencoba memberikan penjelasan secara panjang lebar terlihat wajah bi nani dan mang iwan terlihat lebih menerima atas keputusan yang telah aku buat. Aku pun bisa melihat ekspresi ketidak optimisan dari wajah om wisnu seiring ucapan yang terlontar dari mulut mang iwan. Meninggalkan mama terbaring di rumah sakit dalam kondisi yang serba tidak pasti adalah sebuah pilihan yang berat tapi semua harus aku lakukan, aku ingin semua ini berakhir, aku tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi orang-orang yang aku sayangi. Dedi pun memberikan aku semangat begitu melihat aku yang terdiam dalam sebuah lamunan panjang, tidak banyak percakapan yang terjadi selama perjalanan pulang ini, semua terdiam dalam lamunannya, sebuah lamunan tentang akhir kisah kelam ini.

Tepat jam 7 malam, akhirnya rental yang aku pesan untuk mengantar kepulangan om wisnu dan keluarga tiba di rumah, setelah mengemas semua perlengkapan, terlihat om wisnu berjalan menuruni anak tangga di iringi oleh tante disya dan andira. Tidak lama mereka pamit dan member pesan agar tidak usah sungkan jika ingin menghubungi mereka apabila butuh pertolongan. Om wisnu pun tersenyum, terlihat tante disya mencoba memalingkan pandangannya dari aku, mungkin dia merasa iba meninggalkan aku dalam situasi seperti ini. Terlihat ekspresi kekecewaan di wajah andira, entah apa yang telah dibicarakan oleh andira dan om wisnu, sebelumnya tapi aku bisa mengerti dengan keputusan yang diambil oleh om wisnu.

Seiring langkah andira yang mulai menjauh hingga akhirnya menghilang meninggalkan rumah, aku hanya bisa terdiam menyaksikan semua momen ini, sempat terlintas dalam pikiran aku bahwa ini adalah momen terakhir aku bisa berjumpa dengan andira. Tertegun aku mendengar ucapan yang keluar dari mulut dedi, entah alasan apa yang membuatnya berbicara seperti itu. Om wisnu tidak ada hentinya menyalahkan semua tindakan yang telah aku perbuat dan awalnya aku menanggapi semua itu biasa saja. Namun lama-lama aku berfikir orang itu terlalu mengganggap benar dirinya sendiri. Apalagi saat dia berbicara tentang sesajen yang telah aku buang itu, jelas sekali terlihat ketidaksukaannya. Terlihat dedi menganggukan kepalanya, tanda dia bisa memaklumi dengan apa yang aku lakukan.

Namun ketika aku membicarakan rencana aku tidak lama aku mendengar suara daun pintu yang dibanting dan itu jelas berasal dari dalam rumah, untuk sesaat aku dan dedi hanya bisa berpandangan hingga akhirnya kembali terdengar suara pecahan benda yang terjatuh, seperti mempunyai rasa keingintahuan yang sama, aku dan dedi segera bergegas menuju kedalam rumah dan mencari asal sumber suara itu. Dan suara yang terdengar dari sosok yang berada di samping aku telah memaksa aku untuk menutup mata ini. Cerita ini bersambung di part selanjutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here