Jeritan Malam 2 Part Ketujuh : Kedatangan Om Wisnu Dan Sebuah Rencana Bagian 4

0
54
malesbanget.com

Saat itu aku pun mencari jalan keluar untuk mengakhiri semua ini dan seiring berjalannya waktu. Dan seakan saat dedi menyuruh aku mencari jalan keluar secepatnya sebelum ada korban lagi dengan helaan nafas yang keluar dari dedi. Terdengar suara ketukan pintu kamar berbarengan dengan terdengarnya suara mamah. Mama mengatakan jika om wisnu dan istrinya mau keluar sebentar, aku pun di suruh menjaga rumah dan kebetulan andira tidak ikut juga. Mama pun member isyarat akan maksud kedatangan keluarga om wisnu, entah mengapa saat mama mulai melangkah pergi, aku seperti melihat sebuah bayangan hitam yang mengikutinya dan itu jelas menimbulkan kekawatiran dalam diri. Saat itu aku panggil mama dan mengatakan pada mama agar tidak pulang terlalu malam.

Tanpa terasa hari pun mulai beranjak petang, suara kumandang adzan magrib mulai terdengar salaing bersautan dari beberapa mesjid yang berada tidak jauh dari rumah, lama aku terdiam menikmati angin dingin yang berhembus memasuki kamar melalui kamar yang sengaja aku biarkan terbuka, hingga akhirnya kegelapan pun datang dan memaksa aku untuk segera menutup jendela rapat-rapat. Dedi tidak lama melebarkan sajadah sambil mengatakan kenapa aku tidak solat? aku hanya terdiam mendengar pertanyaa dedi, untuk kesekian kalinya aku kembali hanya terdiam dan mungkin memberikan alasan tidak masuk akal untuk menolak ajakan beribadah itu seakan mengerti dengan problema yang sedang aku hadapi, dedi tidak berusaha untuk mencari jawaban dan dia terlihat khusuk menjalankan ibadah.

Tidak lama terdengar om wisnu memanggil dan tampak mama juga. Om wisnu dan tante disya sudah berdiri di depan pintu teras dengan berjalan perlahan om wisnu menghampiri aku meninggalkan tante disya yang sedang asyik berbicara dengan mama. Saat itu om wisnu memanggil aku dan aku melihat ekspresi wajah bingung om wisnu yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Tadi saat mau wudhu di tempat wudhu atas ada seorang wanita muda, mungkin seumuran dengan andira sedang sakit karena wajahnya pucat sekali dan om pun coba menghampiri tapi dia malah pergi , ucap om wisnu. Mendengar keterangan yang di berikan om wisnu, keinginan aku agar tidak terjadi kejadian yang meneror mereka kini tampaknya hanyalaj tinggal sebuah harapan.

Aku pun coba menyembunyikan ketika om wisnu menanyakan tentang sosok wanita itu. Aku pun jawab itu yang bantu-bantu di rumah ini dan masih kerabat dari bi nani. Aku coba berbohong dan aku berharap semoga om wisnu tidak menanyakan hal ini kepada mama maupun kepada bi nani. Entah sosok siapa yang telah om wisnu lihat tapi jika mendengar keterangan yang om wisnu berikan sepertinya tanda-tanda itu mengarah pada sosok wulan. Saat itu pun mama berpamitan dan bergegas untuk pergi menaiki mobil. Ketika aku menanyakan andira ternyata dia masih solat di kamarnya.

Akhirnya mobil pun secara perlahan meninggalkan halaman rumah, meninggalkan aku beserta rasa kawatir yang menghantui pikiran ini. Setelah lama terdiam menatap mobil yang perlahan mulai menghilang dari pandangan, akhirnya aku pun melangkahkan kaki ke dalam rumah. Tidak lama bi nani terlihat berjalan tergesa-gesa menghampiri kami dan mengatakan ada apa dengan neng andira? sontak membuat aku langsung berdiri dari kursi, begitu juga dengan dedi, pikiran aku langsung membayangkan hal buruk yang terjadi pada andira.

Saat itu neng andira bernyanyi sinden jawa dan mana mungkin dia bisa bernyanyi sinden dan hingga akhirnya langkah kaki kami terhenti di depan pintu kamar tamu yang menutup rapat, lama kami saling berpandangan satu sama lain dan mencoba suara nyanyian sinden yang di ceritakan oleh bi nani. Setelah menunggu suara nyanyian sinden yang bi nani ceritakan tidak terdengar. Akhirnya aku beranikan diri untuk mengetuk pintu kamar, akhirnya dedi mencoba menempelkan telinganya pada pintu, wajahnya terlihat serius mencoba mendengar suara nyanyian sinden yang terdengar oleh bi nani. Seperti seseorang yang sedang menyanyi sinden, ucap dedi. Aku pun ikut menempelkan telinga pada pintu hingga akhirnya secara samar-samar aku bisa mendengar nyanyian itu, sebuah lagu yang sama sekali tidak aku mengerti artinya.

Seperti layaknya sinden yang melantunkan sebuah lagu lagam jawa dan terdengar pelan tapi semakin lama suara itu seperti memberikan aura mistis yang membuat bulu kuduk aku seketika berdiri. Akhirnya aku putuskan untuk membuka pintu secara paksa dengan menggunakan alat. Dan bermodalkan besi panjang yang berujung pipih dan akhirnya aku kembali ke lantai atas. Belum sempat menyentuh pintu terdengar suara putaran anak pintu yang perlahan mulai terbuka hingga akhirnya sesosok tubuh muncul dari balik daun pintu yang terbuka.

Di situ andiron menjelaskan jika setelah selesai solat dirinya merasa sangat ngantuk lalu tidur. Dan untung saja kalian membangunkan saya dengan senyum manisnya. Akhirnya kami pun mengajak andira untuk makan malam karena makan malamnya sudah siap dan andira berkata jika dia ingin ganti baju dulu karena dia masih menggunakan pakaian solat. Terlihat andira menunjukan mukena yang masih di kenakannya, hingga akhirnya pintu pun kembali tertutup, lama kami terdiam dan saling berpandangan satu sama lain, seakan tidak percaya dengan penjelasan yang baru saja andira berikan. Nah kisah ini akan berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here