Jeritan Malam 2 Part Ketigabelas : Fenomena Goib Mulai Menampakkan Eksistensinya 5

0
82
malesbanget.com

Melanjutkan cerita sebelumnya dimana om wisnu dan mama ingin membicarakan sesuatu. Rencana ini merupakan rencan lama dan kami sudah sepakat untuk menjodohkan aku dengan andira, dimana kami berharap dapat di realisasikan dalam waktu dekat, ucap om wisnu. Om wisnu pun berkata jika aku dan andira sebaiknya cepat menikah dan mama sudah terllau tua untuk terlalu lama menunggu pernikahan kamu. Terlihat mama memberikan isyarat agar aku tidak melanjutkan perkataan yang akan aku ucapkan. Om wisnu dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu bertanya padaku tentang hal itu, lama aku terdiam mencoba menimbang dampat dari lanjutan perkataan yang aku ucapkan.

Aku pun mengatakan jika aku bukan menolak perjodohan ini namun sebaiknya ini di tunda dahulu karena aku pun belum siap. Terlihat wajah om wisnu yang terkejut, mungkin dia tidak menyangka aku akan berkata seperti itu, wajah andira yang semula hanya tertunduk kini terlihat tajam menatap aku. Aku pun hanya bisa terdiam seribu kata begitu om wisnu mencoba meminta aku memberikan alasannya. Raut wajah mama terlihat tidak sabar menanti alasan yang akan aku berikan tapi kembali aku hanya bisa terdiam tanpa suara sedikit pun. Tidak lama om wisnu menanyakan dimana kujang atau keris tua yang pernah om berikan kepada bapak kamu. Om wisnu menjelaskan jika dia sengaja memberika itu kepada ayahku untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada aku.

Dan om wisnu bilang kujang itu untuk menjaga aku dan om wisnu pun sudah sangat paham dengan sifat aku yang selalu ingin tahu sesuatu yang belum aku ketahui. Dengan berbohong aku pun berpura-pura tidak mengetahui arah pembicaraan ini. Saat itu om wisnu pun curiga dengan alasan penundaan yang aku inginkan dan ada hubungannya dengan kujang atau keris tua ini. Ada rasa geram begitu mendengar kembali lanjutan lanjutan perkataan om wisnu, dimana aku tidak ingin mengetahui semua kejadian gila yang pernah aku alami.

Jika kujang atau keris tua tidak ada hubungannya dengan alasan penundaan aku, maka om wisnu ingin melihat kujang itu dan seketika terlihat andira mencoba menahan kelanjutan perkataan ayahnya, mungkin dia ikut merasakan tekanan yang aku rasakan. Andai memang ada hubungannya maka om akan coba membantu kamu, ucap om wisnu. Sebaiknya kamu juga menjaga benda-benda antic peninggalan ayah kamu, mereka semua membutuhkan perawatan dan membutuhkan pelayanan serta mereka akan menjaga kamu, ucap om wisnu kembali.

Memori aku kembali teringat akan kejadian semalam, dimana aroma wangi kemenyan begitu sangat aku rasakan, tanpa banyak berbasa basi lagi segera aku berlari menuju lantai atas, mencoba memeriksa setiap sudut ruangan dan alangkah terkejut ketika begitu sampai dengan kenyataan kembali sebuah benda yang sangat aku tidak mau keberadaannya di rumah ini terdapat sesajen kecil yang di letakan di sudut ruangan. Entah mengapa begitu melihat sesajen yang berada di sudut ruangan, insting aku berkata ini bukanlah sesajen pertama yang akan aku lihat, tatapan mata aku langsung menuju pada kamar dimana bapak menyimpan benda-benda antiknya. Perlahan aku mulai mendekati kamar dan mendapati sebuah anak kunci yang masih melekat pada daun pintu.

Aku pun membuka pintu kamar dan benar saja sesuai dengan perkiraan aku, sebuah sesajen tampak di lantai sudut ruangan dengan aroma wanginkemenyan sisa-sisa semalam masih begitu jelas tercium di ruangan penyimpanan ini. Membayangkan kelancanganyang telah om wisnu perbuat ingin rasanya aku melabrak dan mengusirnya dari rumah ini tapi semua itu tidak aku lakukan. Aku pun sambil menaruh dua buah sesajen itu di atas meja, rasa emosi yang aku rasakan masih tergambar jelas di wajah ini. Seketika om wisnu menjelaskan bahwa itu hal yang biasa di lakukan oleh bapak kamu di rumah ini.

Karena mama yang begitu sedih akhirnya aku bercerita tentang kejadian-kejadian aneh yang telah aku alami termasuk ritual yang telah aku lakukan, seakan tidak percaya dengan yang aku ceritakan, kini genangan air mata yang sedari tadi telah memenuhi kedua bola mata mama telah berganti menjadi sebuah tangisan kecil. Saat itu ingin aku mengatakan bahwa kejadian yang menimpa bapak mungkin saja tidak berhubungan dengan ritual yang aku lakukan, mungkinsaja itu adalah sebuah prose salami yang dinamakan dengan takdir. Tapi semua kata-kata itu seolah-olah melekat di lidah dan tidak bisa aku ucapkan. Semua ritual yang telah aku lakukan telah menempatkan aku dalam sebuah posisi yang tidak mungkin untuk aku berikan argument ilmiah yang bisa di terima akal sehat.

Saat itu mama berkata jika jadi ini alasan aku menunda pernikahan, aku pun hanya terdiam membisu mendengar perkataan mama, terlihat kini andira mulai bisa mengerti dengan alasan aku menunda semua rencana pernikahan itu. Aku pun berkata jika aku tidak akan membiarkan sesuatu buruk terjadi pada mama. Kini kemarahan mama berganti dengan sebuah rasa kasih sayang dan sebuah kepercayaan bahwa aku akan menjaga mama walau seberat apapun rintangannya. Tanpa terasa sinar lembayung senja perlahan mulai memancarkan keindahannya, seiring waktu yang terus berjalan kini semua keindahan itu perlahan mulai memudar berganti dengan kegelapan malam yang sesekali tersingkap oleh senyuman rembulan. Semua akan berlanjut ke part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here