Jeritan Malam 2 Part Ketiga : Adanya Tumbal Dan Keyakinan Itu Semakin Menipis

0
59
malesbanget.com

Setelah itu aku melihat semua ruangan penyimpanan benda antic berantakan. Aku memperhatikan keris dan benda antic lainnya yang terlihat berserakan di lantai, sungguh sangat tidak logis jika melihat rak tempat menyimpan keris dan benda antic lainnya terlihat masih berdiri dengan kokohnya, bagaimana mungkin benda-benda ini bisa berserakan di lantai, tatapan mata aku berputar mengawasi setiap sudut ruangan, baru kali ini aku memasuki ruangan tempat bapak biasa menyimpan benda-benda antic koleksinya, hingga akhirnya tatapan mata aku tertuju pada sebuah wasah yang terletak di sudut ruangan. Aku sambil mengangkat wadah kecil yang berisi bunga yang sudah layu dan semangkok cairan yang tercium sangat wangi, dalam pikiran aku langsung teringat pada sesajen yang pernah aku temui di mess tua itu.

Menurut bibi jika benda itu selalu di gunakan bapak untuk memandikan benda-benda antik koleksinya. Aku dengan setengah berfikir akan arti kata memandikan, sungguh aneh untuk memaknai semua itu, mungkin jika tujuan dari semua itu adalah untuk memberikan perawatan dan menghilangkan bau yang kurang enak dari benda-benda tua itu. Bagi aku itu masih bisa diterima oleh akal sehat.

Lalu aku meminta tolong bibi untuk sapu dan membersihkan ruangan ini karena sepertinya sudah lama tidak bapak bersihkan. Terlihat bibi keluar dan kembali lagi dengan sapu di tangannya. Aku mulai melangkahkan kaki keluar ruangan, baru saja beberapa langkah aku meninggalkan ruangan kembali, aku mendengar suara yang cukup keras seperti layaknya pintu yang terbanting. aku bisa menebak bahwa sumber asal suara itu berasal dari arah belakang aku. Terdengar suara bibi berteriak untuk membuka kan pintu di iringi dengan suara pukulan tangannya pada daun pintu, mendengar suara teriakan bibi yang terdengar sangat panic dengan segera aku langsung berlari ke arah pintu dan mencoba membukanya.

Namun saat itu pintu terkunci dan bibi tidak menguncinya. Kali ini terdengar suara teriakan dari mulut bibi yang sudah bercampur aduk dengan isak tangis. Dengan sekuat tenaga aku mencoba kembali membuka pintu yang terasa berat untuk di buka seperti ada kekuatan yang menahan semua upaya yang aku lakukan. Aku pun sedikit kesal karena usaha aku gagal, hingga akhirnya terdengar suara yang berasal dari seorang yang sangat tidak aku harapkan mengetahui apa yang terjadi.

Tidak lama mama berdiri memandang aku dengan raut wajah keheranan. Mama pun marah dan menyuruh aku dengan segera membuka pintu karena kasihan dengan bibi. Dengan sigap tangan aku mencoba membuka pintu kamar, tapi kembali semua usaha kami terasa sia-sia hingga akhirnya kembali terdengar suara yang berasal dari dalam ruangan, seperti layaknya suara benda-benda yang berjatuhan. Terdengar kembali suara teriakan bibi hingga akhirnya suara itu tidak terdengar lagi. Akhirnya aku dan mama saling bertatapan dan berpandangan dengan penuh tanda tanya akan apa yang terjadi di dalam ruangan. Segera aku meminta bantuan mang iwan dan berlari menuruni anak tangga dan menuju ke teras taman, melihat aku datang dengan wajah panic, mang iwan mungkin sudah bisa menduga bahwa ada hal aneh yang terjadi.

Aku pun dan mang iwan kembali menuju ke kamar bi nani terkunci, begitu langkah kaki ini tepat berada di lantai atas betapa terkejutnya aku mendapati pemandangan mama yang terlihat berdiri terpaku di luar kamar dengan tatapan mata memandangke dalam kamar yang kini terlihat pintunya sudah terbuka lebar. Aku bingung karena mana mungkin mama bisa membuka pintu itu. Mang iwan menoleh sejenak bagitu mendengar ucapan aku, lalu dia melangkah mendekati mama yang tampak masih kaget menyaksikan kondisi di dalam kamar, sejenak mang iwan mencoba menenangkan mama, lalu kemudian pergi berjalan memasuki kamar.

Bergegas aku berjalan memasuki kamar di ringi tatapan mata mama yang berharap sebuah penjelasan dari mulut aku, alangkah terkejutnya aku begitu mendapati pemandangan di dalam kamar yang terlihat sangat berantakan. Semua benda antic yang semula telah di letakkan pada tempatnya kini kembali terlihat berserakan di lantai. Sebagian terlihat ada yang menimpa tubuh bi nani yang terkapar tidak sadarkan diri. Dengan bantuan mang iwan akhirnya dengan susah payah kami meindahkan tubuh bi nani ke kamar tempat dimana tamu biasa tidur bila datang berkunjung dan menginap.

Kejadian siang ini benar-benar membalikan sedikit kepercayaan aku yang semula sedikit mempercayai apa yang pernah di katakana mang iwan tentang keberadaan kujang yang mempunyai fungsi untuk menjaga aku selama merantau bekerja. Andai memang benda-benda antic koleksi bapak mempunyai fungsi menjaga anggota keluarga ini dari berbagai macam gangguan, bagaimana mungkin peristiwa ini bisa terjadi. Aku berfikir akan memberikan jaminan keamanan dan bersifat baik. Kini berbalik memberikan sebuah terror atau semua benda-benda itu memberikan suatu kebaikan setelah bapak melayani semua kebutuhan benda-benda itu dengan memberikan wadah berbentuk sesajen yang aku temukan di dalam kamar. Ketika mang iwan bertanya yang terjadi sejenak aku berfikir akhirnya aku menceritakan semua kejadian dan ritual yang telah aku lakukan, seakan tidak percaya dengan cerita aku, wajah mang iwan terkejut. Disini mang iwan menyarankan apa tidak sebaiknya saya mencari solusi nya dari ritual itu. Dan ceritanya akan berlanjut lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here