Jeritan Malam 2 Part Kesepuluh : Fenomena Goib Mulai Menampakan Eksistensinya 2

0
83
malesbanget.com

Enggan rasanya di saat seperti ini aku harus memaksa mama untuk menceritakan apa yang sebenarnya di alami mama. Jika membayangkan rentetan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sebelumnya sepertinya keengganan itu harus aku hilangkan. Aku tidak menginginkan ada sesuatu yang menimpa mama aku. Saat itu aku masih terdiam terpaku mendengarkan perbincangan aku dengan mama. Tanpa bisa menutupi kekawatiran bi nani pun melangkah keluar kamar. Tatapan mama terlihat menerawang seperti ada sesuatu yang ingin di katakana tapi sangat sulit untuk di ucapkan. Mama bilang saat itu mama melihat bapak dengan suara mama yang bergetar.

Mama melihat bapak kamu meronta-ronta kesakitan, ucap mama kepada aku. Dan ada beberapa anak kecil tapi entah mamah harus menyebut apa karena mereka sangat buruk dan menyeramkan. Mereka mengerubuti bapak kamu dan menyeretnya, mama bisa merasakan kesakitan bapak kamu. Beban berat yang mama rasakan telah melepaskan genggaman tangannya. Kedua tangannya berusaha menutupi wajahnya seakan akan berharap apa yang di lihatnya adalah sebuah mimpi saja.

Bapak melambaikan tangan nya ke mama seperti minta tolong, ucap mama. Mendengar lanjutan cerita mama, aku langsung menyimpulkan bahwa inilah yang telah membuat mama menyebrangi jalan di luar ambang kesadarannya. Mama pun menangis teringat akan apa yang terjadi dengan bapak. Kembali mama memegang tangan aku, tatapan matanya seperti berharap agar aku bisa mempercayai apa yang di cerikan mama. Aku pun lirih bahkan nyaris tidak terdengar karena tertutup suara isak tangis, ingin rasanya aku menjelaskan prosesi ritual yang aku lakukan tapi aku merasa itu bukanlah sebuah langkah yang bijak. Tatapan mama terlihat kosong menatap langit-langit kamar. Tanpa aku sadari aku sudah ada di kamar andira dan telapak tangan andira terasa hangat menyentuh punggung aku. Meskipu begitu aku bisa merasakan kesedihan dari getaran tangannya, mungkin dia sudah terlalu lama menyaksikan percakapan aku dan mama.

Mama pun berkata agar dirinya tidak salah memilih dengan pandangan mama yang semula memandang langit-langit dengan tatapan kosong kini sedikit berganti dengan sorot mata kebahagiaan. Mama pun menyuruh aku cepat-cepat menikah karena mama sudah tidak kuat di tinggal bapak, ucap mama padaku. Mama mengatakan jika dirinya ingin menyusul bapak. Hati aku sangat getir merasakan dari setiap ucapan mama. Lanjutan perkataan yang ingin aku ucapkan rasanya seperti menempel di lidah ini, sepertinya aku tidak sanggup untuk mengecewakan mama dengan mengatakan bahwa aku belum siap untuk mengabulkan permintaan mama. Bayangan tentang sketsa bayi yang tergambar dalam riak air itu begitu menghantui pikiran aku.

Mama dengan nada penasaran bertanya dan andira yang kini berdiri di samping aku seketika itu juga menundukkan wajah karena ada kekecewaan yang bisa aku rasakan. Andai dia tahu alasan penolakan aku, mungkin dia tidak akan merasakan kekecewaan ini. Saat itu aku tidak kuat untuk berlama-lama di kamar ini melihat kekecewaan mama dan andira. Dengan langkah gontai aku tinggalkan kamar dan meninggalkan mama dan andira dalam kekecewaan. Tanpa terasa malam beranjak semakin larut, hembusan asap rokok yang keluar dari mulut aku seakan-akan tidak bisa mengusir rasa yang aku rasakan. Semua terasa begitu sunyi sangat sunyi melebihi kesunyian dari malam-malam sebelumnya.

Sesekali tatapan mata aku menyapu setiap sudut taman yang berada di teras depan, beberapa bagian sudut taman yang masih belum terjamah penerangan seperti menyembunyikan sesuatu di balik kegelapannya. Saat itu dedi memanggil aku namun ketika aku mencari sumber suaranya dan berusaha mencari sosok dedi yang akhirnya sama sekali tidak kelihatan. Untuk sesaat aku terpaku hingga akhirnya aku merasakan hembusan angin dingin yang berasal dari teras dan hembusan yang sudah sangat biasa aku alami di saat aku menemui kejadian-kejadian aneh. Akan tetapi kali ini yang yang membuat beda hembusan angin itu membawa aroma busuk yang teramat menusuk hidung.

Aku pun memaki agar jangan memasuki rumah ini dengan rasa antara rasa takut yang aku rasakan. Masih sedikit keberanian yang berusaha aku tunjukan kepada makhluk-makhluk tak berwujud itu. Walaupun aku yakin keberanian yang aku tunjukan akan berakhir sia-sia. Untuk pertama kali nya aku setelah sekian lamanya aku meninggalkan mess tua itu, suara dencingan rantai yang pernah aku dengar di mess itu, kembali bisa aku dengan di rumah ini. Aku pun lirih menerima kenyataan yang ada, ini sungguh tidak masuk akal karena bagaimana mungkin mereka bisa menempel seperti benalu dan ikut aku sampai rumah ini. Apakah ada hubungannya antara ritual yang sudah aku lakukan dengan makhluk-makhluk goib penunggu mess itu.

Kembali terdengar suara rimbunan daun yang berada di kegelapan dan hembusan angin dingin yang terasa lebih keras dari yang pertama kembali aku rasakan. Rimbunan dedaunan yang bergoyang-goyang antara kegelapan malam seakan-akan member aku tanda kehadiran mereka. Semakin lama aku melihat ke rerimbunan daun itu, semakin bertambah juga gambaran terror yang mereka berikan dan itu sudah cukup membuat nyali aku semakin menciut. Saat aku melewati kamar mama tiba-tiba bola lampu berubah seperti darah dan terlihat semakin memerah. Ada suara wanita yang merintih dan sorot mata aku mencoba menembus kegelapan kamar. Ceritanya akan bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here