Jeritan Malam 2 Part Kesembilan : Fenomena Goib Mulai Menampakkan Eksistensinya

0
39
malesbanget.com

Untuk sekian lama aku dan dedi hanya bisa terdiam tepaku tanpa beranjak dari tempat kami berdiri. Aku hanya bisa merasakan semakin lama suara deringan itu bagaikan sebuah simponi nada yang memberikan efek kecemasan yang mendalam, hingga akhirnya suara deringan itu terhenti sesaat dan kembali terdengar memecah kesunyian. Dedi pun menyurh aku mengangkat telepon itu sambil mendorong tubuh aku untuk melangkahkan kaki kedalam rumah. Ada keraguan yang aku rasakan, berat rasanya melangkahkan kaki kedalam rumah hanya untuk mengangkat telepon dan mendengar sebuah kabar yang sama sekali tidak aku ketahui itu sebuah kabar baik atau sebuah kabar buruk. Kembali dedi mendorong tubuh aku, akspresi wajahnya menampakan rasa ingin tahu akan kabar yang akan kami terima.

Aku pun meminta dedi menemani aku dengan penuh kekawatiran, walau sudah beberapa kali aku mengalami fenomena-fenomena aneh, aku belum bisa mengalahkan semua rasa ketakutan yang aku rasakan, fenomena-fenomena itu seperti meninggalkan sebuah trauma mendalam yang tidak mungkin hilang dalam jangka waktu lama. Tatapan dedi yang terlihat tajam memperhatikan setiap sudut ruangan yang mengarah ke ruang makan, hingga akhirnya aku mulai memberanikan diri melangkah menuju ke ruang tengah tempat dimana mama selalu menghabiskan waktu menonton televisi. Suara deringan telepon yang terus terdengar membuat jantung aku berpacu semakin cepat. Dedi setengah berteriak begitu melihat aku masih berdiri mematung di depan meja telepon. Dengan gemetar aku mulai mengangkat gagang telepon dan lama aku terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga akhirnya terdengar suara dari seseorang disana dengan nada suara panik.

Saat itu yang sedang berbicara adalah mang iwan, dimana aku merasa berkecamuk saat mendengar suara mang iwan. Terasa janggal dan tidak pernah terjadi, mang iwan menghubungi aku di saat dia sedang bertugas mengantar mama ataupun bapak ke suatu tempat. Aku pun menjawab telepon dengan penuh rasa kekawatiran, terlintas gambaran tentang bayangan hitam yang mengikuti mama. Suara mang iwan terdengar terputus-putus dan itu jelas semakin menambah kecemasan yang aku rasakan. Kemudian lama tidak terdengar kelanjutan ucapan mang iwan, rasa cemas yang aku rasakan kini semakin bertambah besar, gambaran akan kejadian buruk seperti memenuhi pikiran ini.

Saat itu nada suara aku pun meninggi seperti menggambarkan luapan emosi yang aku rasakan. Dan mang iwan pun bilang jika mama sedang ada di rumah sakit. Mendengar itu dari mang iwan sontak membuat tubuh aku merasa lunglai, trauma masih begitu aku rasakan, rasanya aku masih tidak sanggup untuk mendengar perkataan tentang rumah sakit. Bayangan akan kematian bapak masih begitu menghantui dan kini aku harus bersiap kembali mendengar kata-kata itu. Ganggang telepon yang semula berada di genggaman tangan seketika terlepas dari tangan aku. Rasanya aku tidak sanggup lagi untuk mendengar lanjutan keterangan yang di berikan mang iwan. Dedi yang semula hanya berdiri memperhatikan seketika itu juga mengambil ganggang telepon yang jatuh dan kembali mengangguk-anggukan kepalanya. Kedua tangan dedi mencengkram begitu kuat bahu aku dengan sorot mata yang terlihat menatap tajam.

Aku pun tanya apa yang terjadi mama? saat itu tubuh aku terasa lemas dan hanya pasrah yang membuat aku kuat untuk mengucapkan itu semua. Dan mang iwan bilang jika mama mengalami kecelakaan. Tapi meski begitu sebaiknya kita ke rumah sakit dan aku pun terduduk lemas di lantai. Terlihat andira berdiri di ujung tangga dengan penuh tatapan tanda tanya. Mungkin keributan yang kami timbulkan telah memancing andira untuk keluar kamar. Ketika itu dedi mengatakan pada andira jika mama reza masuk rumah sakit dan seketika andira terdiam terpaku dengan ekspresi tidak percaya akan yang di dengarnya.

Setelah itu tidak beberapa lama andira muncul dengan kaos putih dan celana jeans tanpa ada sedikitpun make up yang menghiasi wajahnya. Terlihat sederhana jauh dari kesan wanita modis. Dan dedi pun member isyarat agar andira duduk di belakang menemani aku. Akhirnya mobil berlalu meninggalkan rumah dengan membawa sebuah tanda tanya besar di hati aku, apakah yang melatar belakangi kecelakaan mama? Andira pun menggenggam tangan aku dengan jari-jemari yang halus. Entah kenapa di saat momen ini aku bisa merasakan kembali rasa kasih sayang dan rasa perhatian yang selama ini telah hilang seiring dengan kepergian wulan. Sesekali terlihat dedi tertangkap mata mencoba mencuri pandang melalui kaca spion dalam.

Saat itu langkah kami menuju ruang IGD dengan penuh ketenangan dedi berjalan mendahului kami sambil sesekali menyapa petugas rumah sakit yang di kenalnya, hingga akhirnya langkah kaki kami berhenti di depan IGD dengan deretan bangku tunggu yang menghiasinya. Seiring langkah kaki memasuki ruangan IGD detak jantung aku berpacu cepat dan memandang tirai-tirai putih yang memisahkan setiap tempat tidur yang berada di ruangan IGD yang mengingatkan aku pada sebuah kenangan buruk juga trauma mendalam. Saat itu mama sudah pulang dan menurut keterangan dokter mama aku meminta tolong dan teriak-teriak.

Wajah andira dan dedi terlihat melihat ke arah aku dan seakan meminta sebuah penjelasan. Saat itu aku menggenggam erat jemari mama dengan harapan mama akan kuat memberikan sebuah keterangan dan kekuatan untuk menceritakn semua yang telah terjadi. Cerita akan berlanjut di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here