Jeritan Malam 2 Part Kesebelas : Fenomena Goib Mulai Menampakan Eksistensinya 3

0
82
malesbanget.com

Akhirnya terdengar suara yang sangat aku nanti-nantikan, suara yang keluar dari mulut mama bagaikan sebuah cahaya yang menerangi kegelapan yang aku rasakan, sirna sudah kecemasan yang sedari tadi begitu menghantui aku. Aku seraya mengambil korek api yang tersimpan di saku celana, nyala api yang keluar dari batang korek api yang aku nyalakan seketika menyibak kegelapan yang ada. Terlihat mama yang terbaring di ranjang dan bi nani yang tertunduk di sudut kamar dengan wajah kebingungan. Segera aku datangi bi nani dan menyerahkan kotak korek api yang berada di genggaman tangan aku.

Aku pun meminta tolong bi nani untuk nyalakan korek api ini supaya tidak mati lagi. Bi nani melihat aku dan berharap aku bisa memberikan penjelasan secara lebih terperinci. Aku pun mencoba memberikan senyuman kepada mama, semoga senyuman ini bisa menghapus kecurgiaan mama atas apa yang terjadi. Setelah tidak kelihatan lagi kecurigaan di wajah mama. Segera aku langkahkan kaki menuju gudang yang berada di halaman teras belakang, sesekali aku mencoba menoleh kebelakang, entah mengapa aku begitu merasakan kehadiran mereka yang terus mengikuti setiap langkah aku. Aku tidak sanggup melalui malam ini seorang diri, bergegas aku melangkahkan kaki ke kamar dan aku tidak ingin mama menanti kedatangan aku terlalu lama di dalam kegelapan.

Terdengar suara dedi begitu melihat kehadiran aku, raut wajahnya terlihat begitu tegang dan hembusan asap rokok yang keluar dari mulutnya seperti tidak sanggup mengusir ketegangan di wajahnya. Aku sambil memperhatikan asbak yang sudah penuh dengan abu dan punting rokok. Dedi pun menerangkan jika dirinya mendengarkan rintihan wanita dan suara nya benar-benar membuat nyali tidak ada. Suara itu seperti dari semua sudut ruangan kamar ini dan serasa kaku tubuh aku mendengar suara itu, ucap dedi. Wajah dedi tampak menegang begitu melewati ruang makan sebuah ruangan yang harus aku lalui jika menuju halaman belakang. Dedi mencoba membuang jauh-jauh pandangannya dari kursi dan meja makan yang berada di kegelapan.

Saat itu aku mencoba berikan isyarat pada dedi agar berhenti berbicara tentang ceritanya. Aku pun sambil menhentak pergelangan tangan yang di gengganm dedi, aku bisa merasakan telapak tangan dedi begitu dingin menyentuh kulit pergelangan tangan aku. Dengan sisa-sisa keberanian yang coba kami kumpulkan, akhirnya kami tiba di depan gudang yang berada di halaman belakang. Wajah dedi terlihat begitu tegang dan ekspresi wajahnya seperti tidak sanggup lagi untuk menahan diri menceritakan apa yang telah di lihatnya. Dedi begitu gugup dan tatapan matanya memperhatikan jemari tangan aku yang terlihat gemetar mencoba membuka pintu gudang. Terlihat dedi mencoba mengusap-usap tengkuk lehernya, tatapan mata aku yang memperhatikan tingkah laku dedi sekilas bisa melihat apa yang berada di belakang aku dan dedi, seorang wanita dengan wajah pucat berdiri sedang memainkan rambutnya yang tergerai dan baju nya terlihat putih memanjang menutupi kakinya. Pakaian itu terlihat lusuh dan kusam. Tidak ada sama sekali raut keceriaan dari wajahnya. Sorot matanya terlihat kosong dan dingin. Seolah-olah mencoba menerangkan kesakitan yang dia rasakan.

Untuk sesaat aku terpana dalam rasa takut yang semakin aku rasakan tapi rasa ketakutan itu semakin bertambah besar begitu tahu sosok wanita yang memperhatikan kami.Aku hampir berteriak dan segera aku memalingkan wajah dari sosok wanita itu dan wajah dedi yang semula terlihat tegang kini bertambah tegang begitu melihat ekspresi wajah aku. Dedi berusaha tidak menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang telah aku lihat. Aku sambil menarik dedi dengan rasa penasaran kadua telapak tanganya berusaha mengusir ketegangan pada tengkuk lehernya.

Terlihat dedi menggelengkan kepalanya dan melihat gelengan kepala dedi aku menyimpulkan berarti mereka masih ada di sekitar kami. Dedi kembali sambil menepuk bahu aku, sekilas aku menatap dedi lalu melanjutkan mencari bola lampu pengganti. Sebisa mungkin aku tidak akan menunjukkan rasa tegang yang aku rasakan saat ini. Saat aku pelan menghela nafas, ada hembusan angin dingin yang aku rasakan begitu menyebutkan nama itu dan lampu gudang yang semula terlihat redup kini terlihat semakin memudarkan cahaya.

Akhirnya mati sama sekali dan meninggalkan kegelapan di dalam ruangan gudang yang semakin bertambah dingin tanpa penerangan cahaya lampu, terasa sekali dedi mencengkram bahu aku dengan erat. Lama kami terdiam merasakan sensasi yang ada hingga akhirnya terdengar suara yang berasal dari luar gudang. Suara rantai yang di tarik dengan cara di seret begitu jelas terdengar dan suara itu bagaikan sebuah nada.

Dan secara bersamaan suara yang keluar dari mulut dedi seperti berbarengan dengan suara rintihan wanita yang terdengar lirih penuh dengan kesakitan hingga mampu membuat bulu kuduk aku dan dedi menebal. Aku tidak menyalahkannya atas ketakutannya dan andai aku harus mengangkat dedi keluar ruangan ini akan aku lakukan. Tapi semua itu tidak semudah rencana yang ada dalam pikiran aku dan rasa takut yang aku rasakan masih mendominasi diantara keberanian yang aku coba bangun.

Namun ada hal yang membuat aku tenang saat mang iwan mengatakan jika mala mini keluarga andira bisa tidur nyenyak. Karena keadaan yang tenang. Ceritannya bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here