Jeritan Malam 2 Part Kelimabelas : Fenomena Goib Mulai Menampakan Eksistensinya 7

0
84
malesbanget.com

Hembusan dingin angin malam semakin bertambah dingin seiring dengan turunnya butiran air hujan. Pijaran cahaya kilat di langit seperti memberikan isyarat bahwa hujan akan turun semakin lebat. Dengan perlahan aku tinggalkan teras depan dan menuju kamar mandi yang berada tepat di bawah anak tangga yang mengarah ke lantai atas.

Mungkin jika aku tidak mendapatkan jaminan perkataan orang-orang pintar itu, aku akan berfikir ulang untuk melangkahkan kaki ke ruang tengah. Ruang itu merupakan tempat dimana mama selalu menghabiskan waktunya menonton televisi. Ruang dimana terdapat piano tua yang banyak menyimpan kenangan bersama wulan. Ruang dimana deretan anak tangga yang mengarah ke lantai atas bagaikan sebuah pintu gerbang yang akan mengantarkan aku pada sebuah dimensi alam yang berbeda.

Sebuah kaset yang berisi lantunan ayat-ayat suci telah berhasil menghentikan langkah aku, dalam sekejap kini radio tape tua telah berhasil dengan sempurna memperdengarkan suara lantunan ayat-ayat suci dan bagi aku ini merupakan sesuatu yang positif disaat aku harus membangun kembali sebuah suasana nyaman di rumah ini. Aku pun pelan seraya melangkahkan kaki memasuki kamar mandi, ruangan yang memang di khususkan untuk tempat mandi ini bisa menempatkan sebuah bathub berukuran besar dengan ornament putih yang menghiasi seluruh ruangan. Sungguh sebuah tempat yang ideal untuk menghilangkan kepenatan yang aku rasakan. Lama terdiam di dalam dinginnya air, mencoba mengingat kembali semua kejadian-kejadian yang telah aku lewati baik dalam masa suka maupun duka. Akhirnya mata ini mulai terasa lelah dan hendak terpejam, mendadak aku mendengar suara lantunan ayat suci yang semula terdengar dengan volume suara yang layak di terima telinga ini, kini terdengar semakin keras seperti ada seseorang yang yang dengan sengaja memutar volume suara itu pada tingkat suara maksimal.

Ini jelas bisa mengagetkan aku dan mungkin semua orang yang sedang terlelap di rumah ini, belum sempat aku bangkit dari bathub untuk mengecilkan suara volume tape tua itu, kini suasana di dalam ruangan kamar mandi menjadi gelap gulita. Terasa hening tidak terdengar lagi suara lengkingan tape tua itu, hanya bisa terdiam dinginnya air. Dengan sambil menduga-duga apa yang terjadi tentu suara lengkingan tape tua itu masih akan tetap tendengar tapi kenyataan yang aku dapati suara itu sama sekali tidak terdengar. Aku bisa menyimpulkan ini merupakan pemadaman listrik menyeluruh di rumah ini.

Namun bayangan akan hal yang menyeramkan kini bermain-main dalam pikiran aku menyingkirkan segala hal positif yang telah aku tanamkan. Andai ini memang benar karena ulah makhluktak kasat mata itu maka benar sudah dugaan aku bahwa apa yang di katakana orang pintar itu adalah sebuah kebohongan belaka, mereka tidak mengusir makhluk goib itu mereka menipu. Aku pun dengan segera keluar dari tempat ini sebelum halusinasi aku bertambah parah. Belum sempat separuh badan aku terangkat dari bathtub, aku merasakan sesuatu yang terasa sangat dingin tersentuh oleh telapak tangan ini. Andai aku gambarkan seperti layaknya aku menyentuh pergelangan tangan seseorang. Aku berada di kamar mandi seorang diri tanpa ada seorang pun di dalamnya diantara rasa takut yang mulai kembali bermain di hati ini. Aku coba meberanikan diri untuk semakin meraba yang aku sentuh dan ini bukan halusinasi aku, ini nyata terjadi dan bisa aku rasakan pergelangan tangan itu hingga ke jari jemari tanganya. Terasa sangat dingin hingga akhirnya benda yang aku duga sebagai pergelangan tangan itu mulai menyentak dan melepaskan diri dari rabaan tangan aku.

Belum sempat kata-kata positif itu megusir semua rasa ketakutan aku, kini aku kembali di hadapi sebuah kenyataan ketika aku harus kembali merasakan sebuah sentuhan di sekitar punggung aku seperti layaknya seseorang yang sedang memainkan kuku-kuku lentiknya di atas kulit. Aku bisa merasakan setiap pergerakannya, ini benar-benar sentuhan psikis yang baru pertama kali aku rasakan di rumah ini dan sungguh eksterm.

Saat itu aku sangat ingin berteriak dan melepaskan semua kekesalan yang aku rasakan dalam sebuah cucuran air mata dan entah mengapa aku merasakan di setiap keberanian yang aku coba pupuk satu persatu menjadi sebuah keberanian yang kuat. Mereka selalu bisa hadir dan memberikan sebuah nuansa ketakutan melebihi sebuah keberanian yang coba aku bangun dan mereka seperti selalu bisa mengetahui bahwa aka nada celah ksong yang akan bisa meruntuhkan semua keberanian itu. Rupanya Tuhan masih berpihak pada aku dan terasa silau mata aku menatap sinar cahaya lampu yang mulai menyala.

Aku pun bersyukur kepada Tuhan karena kenikmatan ini tidak bisa di beli dengan uang, dimana lantunan ayat-ayat suci ini membuat aku menjadi bangkit dari bathub dan menuju ruang tengah untuk mematikan tape. Diantara rasa percaya dan tidak percaya aku bisa melihat posisi volume suara yang sebelumnya hanya berada di level normal kini sudah berubah pada level maksimal. Cerita ini akan berlanjut di part berikut nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here