Jeritan Malam 2 Part Kelima : Kedatangan Om Wisnu Dan Sebuah Rencana Bagian 2

0
31
malesbanget.com

Dedi pun berkata jika rasa penasaran aku sejak dulu sering melibatkan aku dalam sebuah masalah. Aku pun teringat sejak dulu rasa penasaran aku selalu menjerumuskan aku dalam sebuah masalah besar. Saat itu pun aku menyuruh dedi menunggu di luar saja, akan tetapi dedi pun seraya mendorong tubuh aku untuk meneruskan langkah, genggaman tangan dedi seakan seperti terekat dengan erat di kaos yang aku kenakan, perlahan langkah aku mulai mendekati pintu kamar mandi dan mencoba membukanya, seiring dengan daun pintu yang mulai sedikit terbuka dengan sangat perlahan irama jantung aku semakin berdetak dengan cepat berpacu dengan imajinasi yang terbangun di pikiran ini, makhluk-makhluk ini seakan-akan tidak pernah bosannya memberikan kejutan demi kejutan yang membuat aku terbalut dalam rasa ketakutan.

Sejenak dedi terdiam dengan tatapan mata tidak luput dari genggaman jari tangan aku pada gagang pintu kamar mandi. Atau mungkin salah satu dari kita pingsan dan yang masih sadar lari terbirit-birit. Terdengar suara tawa yang hampir menyerupai suara tawa seorang wanita, terdengar begitu pelan tapi sudah cukup memberikan efek ketegangan ini semakin bertambah. Seakan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, suara dedi yang hampir terdengar menyerupai sebuah jeritan, sudah cukup untuk aku memalingkan muka ke arahnya.

Ketika dedi bilang jika itu buka dirinya, ekspresi muka dedi menunjukan bahwa dia tidak sedang bermain-main dengan ucapannya, ucapan yang keluar dari mulut dedi sudah cukup memberikan aku sebuah asumsi bahwa ada sesuatu yang sedang mencoba memberikan terror di kamar ini. Lama aku terdiam menatap dedi hingga akhirnya aku memutuskan untuk melawan semua ketakutan ini. Jari-jari tangan aku yang memegang gagang pintu kamar mandi gemetar seolah-olah menunjukan sebuah perdebatan akan rasa penasaran dan ketakutan yang aku rasakan hingga akhirnya secara perlahan daun pintu mulai berhasil aku buka seluruhnya dan yang aku dapati hanyalah hembusan angin dingin yang menerpa wajah ini tanpa ada siapa pun.

Ada kelegaan yang aku rasakan melihat kondisi kamar mandi tidak seseram yang aku bayangkan. Tapi hembusan angin dingin yang aku rasakan seperti mencoba mengingatkan aku akan hembusan angin yang aku rasakan di mess tua itu. Seperti mereka mencoba memberikan tanda akan kehadiran mereka di rumah ini. Andaikan memang itu benar sungguh ini merupakan hal yang sangat tidak aku harapkan. Aku mulai memasuki kamar mandi di iringi dengan tatapan mata dedi yang mencoba mengamati semua sudut kamar mandi. Aku kembali seraya melangkahkan keluar kamar mandi dan mulai berjalan keluar kamar, dengan suara langkah dedi yang mengikuti dari belakang. Aku menyesal memberitahukan semua ini, wajah dedi yang terlihat tidak mengerti akan maksud aku. Dia hanya menatap kosong, berharap aku menjelaskan lebih detil. Dengan dia mengetahui ini semua, pikiran-pikiran dengan imajinasi dan gambaran akan sosok-sosok yang pernah aku temui. Itulah yang mereka manffatkan dengan memanfaatkan ruang kosong di pikirkan kita. Lalu dedi bilang jika itu bukanlah imajinasi tapi nyata ada di depan mata dedi sendiri. Akhirnya aku mengajak dedi makan dulu karena ruang makan yang terletak tidak jauh dari dapur, raut wajah dedi yang semula menunjukkan ketegangan kini berganti dengan sebuah kegembiraan karena adanya tawaran makan yang aku ajukan.

Ketika itu mama tidak ada dan aku berfikir mama masih nonton tv. Aku mencoba mendengar tanda-tanda suara tv yang masih menyala. Semua terasa sangat sunyi hingga suara sendok yang beradu dengan piring makan pun kini bisa terdengar seperti sebuah simponi di keheningan malam. Sosok bapak yang telah pergi begitu menyisakan kesunyian di rumah ini, tanpa terasa mata aku mulai berkaca-kaca membayangkan sosok yang telah menemani aku sedari kecil hingga sedewasa ini.

Tidak lama aku dan dedi terdiman dalam lamunan hingga akhirnya kehadiran bi nani menyadarkan kami dari semua lamunan itu. Bi nani bertanya kenapa mang iwan tidak ikut makan sambil membereskan piring. Lalu aku bilang jika mang iwan sudah pulang. Bi nani pun cerita jika ada yang membangunkan dia dan suara nya adalah suara mang iwan. Tadi dia mengetuk-ngetuk pintu kamar bibi. Bi nani mencoba menerangkan apa yang dia alami, lama aku terdiam tidak menjawab pertanyaan bi nani.

Akhirnya aku coba berbohong dan mengatakan jika mang iwan memang membangunkan bibi dahulu lalu segera pulang setelah itu karena ada urusan yang penting. Saat itu sorot mata dedi terlihat tajam menatap aku, rupanya dia mengetahui akan kebohongan yang baru saja aku ucapkan. Setelah itu kami mencoba melewati ruang tv dimana mama menonton hingga akhirnya terlihat sosok wanita sambil memainkan helai demi helai rambutnya tanpa menghiraukan kehadiran kami. Dan tidak lama wanita ini menolehkan wajahnya ke tempat kami berdiri.

Aku pun meminta maaf pada dedi karena sudah melibatkannya dalam masalah yang entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dedi pun tidak masalah dan percakapan ini di akhiri dengan mulai terlelap tidur. Nah, cerita nya akan berlanjut di berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here