Jeritan Malam 2 Part Keenambelas : Fenomena Goib Mulai Menampakan Eksistensinya 8

0
88
malesbanget.com

Aku pun mencoba menunjukan ketenangan di tengah ketakutan yang aku rasakan adalah sesuatu yang tidak mudah. Apapun aku tunjukan ketenangan dalam berbicara hal itu tidak bisa menutupi ekspresi ketakutan pada wajah aku. Seiring ucapan dedi, aku merasakan hawa dingin di salah satu bagian bahu aku, kesadaran aku perlahan seperti terhisap oleh hawa dingin yang terus merasuk ke dalam tubuh hingga akhirnya aku benar-benar kehilangan kesadaran. Aroma wangi bunga kemuning yang terbawa angin seketika menyadarkan aku dari ketidaksadaran. Tatapan mata aku terasa samar ketika sinar cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah lubang angin dan jendela menyinari wajah ini. Terlihat seorang gadis yang terbius dalam lamunan sepertinya tidak menyadari keberadaan aku yang telah sadar.

Segelas air putih yang berada di atas meja seperti sebuah embun penyejuk diantara rasa kering yang aku rasakan di tenggorokan ini. Keinginan untuk menggapai gelas dan menghilangkan dahaga yang aku rasakan sepertinya hanyalah sebuah keinginan saja. Andira pun merasa senang melihat aku yang sudah sadar, andira pun dengan wajah ceria menyadari aku sudah tersadar dengan sigap tangannya mengambil gelas yang berada di atas meja. Tangan kanan andira terlihat mencoba membantu aku duduk dan disaat seperti ini bisa aku rasakan sisi feminim dari seorang andira. Dari tiap tutur kata dan tingkah lakunya mencerminkan kasih sayang dan perhatiannya kepada aku. Mendengar pertanyaan yang diajukan andira, memori pikiran aku kembali teringat pada kejadian yang terjadi semalam. Sebuah kejadian yang mengantarkan aku pada ketidaksadaran. Tatapan mata aku mencari sosok dedi yang kini tidak terlihat keberadaanya di kamar ini.

Terlihat wajah andira seperti menyimpan sesuatu yang belum sempat di utarakannya. Aku pun menanyakan apa yang hendak andira katakan. Kembali terlihat andira hanya terdiam sambil mencoba mengusap tetesan air mata yang kini membasahi pipinya. Dari ekspresi wajahnya jelas menggambarkan bahwa telah terjadi sesuatu yang telah menyentuh hatinya hingga mampu membuatnya meneteskan air mata. Semuanya ini jelas memancing rasa penasaran aku. Andir bukanlah sosok gadis yang mudah meneteskan air mata. Dia pun mengatakan jika dia tidak mau berlama-lama dalam situasi ini, dimana menit demi menit seperti titian waktu yang mengantarkan kita dalam sebuah kecemasan. Lama andira terdiam, dari tatap matanya bisa aku rasakan bahwa apa yang telah diucapkannya adalah bagian dari jutaan keluh kesah yang ada di hatinya.

Aku pun meminta agar andira jujur dengan apa yang hendak dia katakan. Naluri aku mengatakan ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh andira, tanpa menunggu lama jawaban dari andira yang masih terdiam dalam kebisuan, segera aku beranjak dari tempat tidur untuk mencari tahu apa yang yang sebenarnya terjadi. Andira pun menahan laju langkah aku tapi keinginan aku sudah terlalu kuat, langkah kaki ini tidak akan berhenti. Semakin besar keinginan andira untuk menghentikan langkah aku, semakin besar juga kecurigaan aku akan apa yang mungkin telah terjadi di rumah ini. Seiring langkah aku yang terus berjalan meninggalkan kamar dan semakin mendekati ruang tengah, semakin juga aku merasakan perbedaan, ruang televisi yang biasanya di tempati mama uantuk menghabiskan waktunya baik itu hanya untuk sekedar menonton tv atau mengerjakan rajutan tangannya. Kini terlihat sepi dan aku pun memanggil mama dan berharap kemunculan mama.

Setelah lama menanti dan berharap sebuah balasan jawaban dari mama yang tidak kunjung terdengar. Akhirnya aku putuskan untuk menuju ke kamar mama dan melihat andira hanya berdiri terpaku di ruang televisi, hati aku semakin kuat mengatakan bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di rumah ini.

Kembali aku memanggil mama tapi bukan sebuah jawaban yang menentramkan hati yang aku terima, kini tatapan mata aku hanya menemukan sebuah pemandangan yang sangat tidak aku inginkan. Tempat tidur besar itu kini terlihat kosong. Sekosong pemikiran aku yang tidak bisa menjawab apa yang telah terjadi. Mendapati mama yang tidak bisa aku temukan di kamar ini hanya sati nama yang terlintas di pikiran aku yang bisa menjawab semua ini. Terlihat andira berjalan menghampiri aku dengan semua keraguannya. Andira sambil menduduki kursi yang berada tepat di samping aku, untuk sesaat aku hanya terdiam membisu dan masih jengel yang aku rasakan setelah tidak menemukan jawaban dari andira atas apa yang telah terjadi di rumah ini.

Dan tidak lama dengan isak tangis andira menceritakan apa yang telah terjadi. Andira berkata jika dia sudah mendengar semua apa yang aku katakan pada dedi. Papa andira pun pada saat itu sangat marah dengan apa yang kamu lakukan, ucap andira. Aku hanya terdiam dan menunggu kelanjutan dari ucapan andira hingga akhirnya ketika suara azan subuh terdengar, saya memberanikan diri untuk keluar kamar dan mengambil air wudhu. Terlintas di pikiran saya untuk mengajak mama kamu melaksanakan solat subuh secara berjamaah. Ketika andira membuka pintu kamar mama andira mendapati mama sedang berdiri di jendela seakan-akan sedang bicara dengan seorang yang berada di kegelapan.

Akhirnya aku sampai di ruang IGD hingga akhirnya langkah terhenti karena teringat oleh bapak. Akhirnya terucap begitu menyaksikan gambaran kelam yang tersaji di hadapan mata ini, sungguh menyentuh titik emosi terdalam. Ceritanya ini bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here