Jeritan Malam 2 Part Keenam : Kedatangan Om Wisnu Dan Sebuah Rencana Bagian 3

0
80
malesbanget.com

Terdengar suara ketukan pintu di iringi suara mama yang mencoba membangunkan aku yang masih tertidur lelap, cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela lubang angin seolah memberikan tanda bahwa hari mulai beranjak siang. Terdengar suara dedi bersamaan dengan kehadiran dirinya yang muncul dari dalam kamar mandi, aku hanya tersenyum kecil lalu beranjak bangun dan menuju kamar mandi. Hari ini merupakan hari yang aku tunggu kedatangannya, sebuah cerita yang terlontar dari mulut mang iwan. Hal itu mengantarkan aku pada sebuah rasa penasaran akan kebenaran ceritanya. Aku penasaran apa benar perjodohan itu dan sosok wanita yang akan aku temui nanti. Sungguh ironis rasanya di zaman yang sudah semodern ini masih ada tradisi pernikahan atas dasar sebuah perjodohan.

Tidak lama aku berpamitan kepada mama yang terlihat sedang memainkan sebuah jarum rajutan di tangannya. Saat itu dedi menunggu di luar rumah dan mama pun memberitahukan pada aku jika aku tidak perlu membawa mobil dan yang membawa mobilnya mang iwan saja. Saat itu aku bergegas melangkakan kaki keluar rumah, terlihat mang iwan dan dedi yang tampaknya sedang asik terlibat dalam percakapan. Tanpa sengaja aku pun mengingat kejadian semalam dan tampaknya iwan risih begitu mendapati aku yang hanya terdiam memandangnya.

Aku pun memberikan tanda pada dedi agar tidak menjelaskan apa yang telah aku alami semalam, dengan segera kami menaiki mobil dan terlihat wajah mang iwan yang masih menampakkan rasa keheranan atas perlakuan aku kepadanya. Sesekali tatapan matanya mencoba memandang aku melalui kaca spion dalam. Saat itu kita langsung menuju ke stasiun, kedua tangannya terlihat sibuk memainkan kemudi kendaraan karena kemacetan di kota bogor. Akhirnya aku menyuruh mang iwan untuk makan dulu karena lapar. Aku mencoba mengerti dengan apa yang mereka rasakan, terlihat raut kegembiraan di wajah dedi maupun mang iwan hingga akhirnya mang iwan menghentikan laju kendaraannya di sebuah rumah makan cepat saji.

Dedi pun bertanya pukul berapa teman mama aku itu akan sampai? Aku sambil melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11, sesekali aku memergoki beberapa pasang mata wanita yang mencoba mencuri pandang ke arah aku sambil memamerkan senyum manisnya. Entah mengapa aku merasa semua ini terasa janggal, terasa aneh, karena hampir selama ini aku merasakan. Aku bukanlah seseorang yang pantas untuk menjadi buah perhatian.

Dedi pun mengatakan mungkin ini pengaruh dari ritual yang sudah kamu lakukan. Dedi pun penasaran dengan efek dari ritual yang kamu lakukan itu, matanya terlihat memandang seorang ibu muda yang terlihat sedang memainkan hp nya, memang untuk beberapa kali aku memergokinya mencoba mencuri pandang ke arah kami. Aku pun berkata jika wanita yang memandangi aku merupakan wanita yang sudah bersuami. Dedi pun mengatakan jika dia tidak mau aku terlibat lebih jauh lagi. Mang iwan yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan kami sepertinya mulai merasa tidak sabar dengan hasil semua pembuktian ini hingga dengan penuh keraguan aku melangkahkan kaki menuju sosok ibu muda itu.

Saat itu aku mencoba berkenalan dengan nya sebagai cara untuk membuktikan ritual yang sudah pernah aku jalanani tidak lama ibu muda itu tersenyum dan memberikan kartu nama nya kepadaku karena aku ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. Bahkan wanita itu berharap ada pertemuan selanjutnya. Aku pun sesekali bermain mata dengan wanita tersebut dan kini terlihat wanita itu sudah bersama dengan seorang pria yang di pastikan itu adalah suaminya. Setelah merasa cukup mengisi perut ini akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju stasiun. Siang ini kondisi lalu lintas kota bogor tersa begitu padat, sesekali laju kendaraan yang di kendarai mang iwan terjebak dalam kemacetan panjang baik itu yang di sebabkan antrian lampu merah ataupun angkot yang berhenti dengan seenaknya. Hingga akhirnya terdengar dering telepon masuk yang memberikan sebuah kabar bahwa om wisnu sudah tiba di stasiun.

Aku pun membuka pembicaraan di telepon begitu menginjakan kaki di stasiun, tatapan mata aku berusaha mencari sosok om wisnu di antara gerak aktifitas di dalam stasiun. Akhirnya om wisnu memberitahukan keberadaanya di sebuah ruang tunggu dengan perasaan yang tidak menentu aku melangkahkan kaki ke tempat dimana om wisnu berada. Terlihat seorang pria melambaikan tanganya ke arah aku. Sejenak aku terdiam mencoba menyamakan sosok yang berada dalam pandangan aku dengan gambaran sosok om wisnu yang pernah mama jelaskan. Aku pun segera menjabatkan tangan aku begitu menghampirinya, terlihat anggukan dari kepalanya.

Saat itu aku bertanya kenapa om wisnu sendiri, namun ternyata anak istri nya sedang berada di toilet. Tidak lama mereka datang dan ada dua orang wanita sedang berjalan menuju arah kami. Tampak dari kejauhan seorang wanita yang sudah cukup berumur dengan seorang wanita muda yang mengenakan setelan baju dan celana jeans lengkap dengan ransel di punggungnya.

Tidak lama tas om wisnu dan keluarga di bawakan menuju kamar tamu di atas. Dan dedi pun berharap agar mala mini tidak ada kejadian yang aneh-aneh. Pikiran aku masih dipenuhi dengan bayangan tumbal itu, andai tumbal dari prosesi itu memang nyata adanya aku harus segera mengakhiri semua ini. Cerita ini akan berlanjut di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here