Jeritan Malam 2 Part Keempat : Kedatangan Om Wisnu Dan Sebuah Rencana

0
68
malesbanget.com

Saat itu mang iwan mengajak aku solat, tapi aku menyuruh mang iwan duluan dan aku akan menyusul. Aku menjawab mang iwan sambil membuang pandangan dari tatapan mata mang iwan yang penuh selidik, ada rasa getir yang aku rasakan di saat aku harus berulang-ulang kali mencari alasan menghindar dari sebuah kewajiban beribadah. Ada perasaan lega mendapati mang iwan tidak berusaha menyelidiki lebih lanjut perihal kecenderungan aku menhindari ajakannya, entah sampai kapan aku harus memendam semua penderitaan yang aku terima setelah semua prosesi ritual itu. Setelah lam menunggu akhirnya tepat jam tujuh malam sosok yang aku tunggu-tunggu akhirnya menampakan batang hidungnya.

Ketika itu akhirnya dedi datang meskipun terlambat karena keadaan jalan bogor yang terkenal dengan macetnya, terlihat kekesalan di wajah dedi ketika perkataannya sudah memasuki ranah kata macet. Akhirnya aku mengajak dedi mengobrol di dalam, karena aku mulai merasa tidak nyaman di luar rumah. Sambil mengajaknya masuk aku mengambil bungkusan rokok yang berada di meja. Tatapan mata aku mencoba menghindari semua sudut taman yang tidak terkena cahaya penerangan lampu taman, entah mengapa aku kini bisa merasakan bahwa di kegelapan sana seperti ada berpasang-pasangan mata yang sedang mengawasi setiap aktivitas yang aku lakukan.

Sambil merebahkan tubuhnya di kasur dedi bertanya apa yang terjadi? setelah semua kejadian yang aku alami, sekarang aku jadi agak peka, aku bisa merasakan seperti ada yang sedang memperhatikan kita di kegelapan sana, tapi bukan hanya kegelapan, sekali hingga dua kali terkadang aku bisa merasakan dan melihat kehadiran mereka dan itu sungguh membuat aku merasa tidak nyaman. Setelah aku ceritakan seketika dedi beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela yang mengarah ke taman. Tatapan matanya mencoba melihat setiap sudut taman, mungkin dia sedang merasakan apa yang tengah aku rasakan.

Aku pun cerita jika aku takut dengan semua kejadian belakangan ini karena sungguh di luar akal sehat aku. Silih berganti orang-orang yang aku sayangi pergi meninggalkan aku, aku tidak mau kejadian ini juga menimpa nyokap aku. Lalu dedi cerita jika petugas ICU yang bertugas saat malam peristiwa kecelakaan itu terjadi sempat bercerita kalau mereka mengalami beberapa peristiwa aneh. Peristiwa aneh seperti bau bangkai di ruangan ICU, tempat sampah yang terbuka dan menutup sendiri, bahkan ada seorang perawat seperti melihat sosok bayangan hitam yang terlihat hilir mudik di depan pintu masuk ICU.

Aku pun membenarkan jika bau bangkai itu memang mengisyaratkan kehadiran mereka, bahkan bi nani pernah bercerita jika dirinya pernah beberapa kali mencium bau bangkai di rumah ini. Sebaiknya kita mencari cara untuk menghentikan semua ini, ucap dedi. Sebaiknya kita jangan terlalu cepat menyimpulkan akan apa yang di lihat dan apa yang akan terjadi beberapa hari kedepan ini. Aku mencoba memberikan ide, sebuah ide yang berlandaskan keinginan aku untuk lebih meyakinkan lagi bahwa semua yang terjadi ini ada hubungannya dengan ritual yang pernah aku lakukan.

Tidak lama aku bergegas melangkahkan kaki menuju ke kamar bi nani yang letaknya tidak jauh dari dapur. Sambil mengetuk pintu kamar bi nani, lama tidak ada jawaban hingga akhirnya terdengar suara putaran kunci. Di sini aku memastikan kesehatan bi nani setelah peristiwa tadi pagi. Terlihat bi nani berusaha membuka mukena yang di kenakannya, rupanya dia baru selesai melaksanakan solat isya. Saat itu juga aku minta bi nani menyiapkan makanan sambil aku melihat keberadaan mang iwan di sekitar namun tidak ada. Aku bergegas pergi menuju ke kamar belakang yang terletak di luar rumah utama, ada perasaan tidak jika harus kembali melalui lokasi taman belakang yang penerangan lampunya tidak begitu memadai.

Tidak lama aku mengetuk pintu kamar mang iwan namun tidak ada jawaban dan dengan segera tanpa ijin aku memasuki kamar mang iwan, begitu memasuki kamar situasi terasa begitu gelap tanpa ada penerangan sama sekali dari cahaya lampu kamar yang terlihat sengaja di matikan, walau hanya bermodalkan pengelihatan yang seadanya tapi aku masih bisa melihat sosok tubuh yang terlihat sedang tidur di atas ranjang, aku coba untuk menyalakan saklar lampu yang berada tidak jauh dari pintu kamar hingga akhirnya aku harus mendapati kenyataan bahwa lampu tidak menyala seperti yang aku harapkan. Saat itu aku memanggil mang iwan untuk makan akan tetapi mang iwan mengatakan nanti saja dengan nada suara agak berat dan serak seperti orang sakit.

Tapi tidak lama mama memberitahu aku jika mang iwan sidah pulang dari tadi karena istrinya sakit, seketika aku kaget karena mama juga menunjukkan kunci kamar belakang yang terkunci oleh mama. Sejenak berfikir lalu tadi siapa yang memanggil aku dan tidur di ranjang kamar belakang. Cerita nya masih bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here