Jeritan Malam 2 Part keempat belas : Fenomena Goib Mulai Menampakan Eksistensinya 6

0
91
malesbanget.com

Seakan mengerti dengan kekawatiran yang aku rasakan, rombongan orang pintar itu melakukan sebuah ritual yang aku sendiri tidak mengerti maksud dan tujuan dari gerakan-gerakan yang mereka lakukan di ritual itu. Tampak pak limbo mulai mengadakan kontak komunikasi dengan makhluk tak kasat mata itu. Pak limbo pun berkata agar keluarga kami jangan di ganggu. Tampak pak limbo terdiam, mungkin ini adalah sebuah bentuk percakapan teraneh yang pernah aku lihat. Seiring perkataan meluncur dari mulut pak limbo, mas wawan dan mas gito mulai melakukan pergerakan seperti layaknya orang yang sedang berkelahi begitu juga dengan pak limbo. Entah aku harus berkata apa menyaksikan ini semua.

Tanda-tanda kelelahan tergambar jelas di wajah orang-orang pintar itu. Pak limbo pun mengatakan jika mereka sudah berusaha semaksimal mungkin mereka sangat kuat tapi akhirnya mereka menyetujui sesuatu agar mereka bisa meninggalkan tempat ini. Menurut pak limbo ada syarat yang mereka ajukan. Aku pun menanyakan apa syarat yang di ajukan. Pak limbo memberitahukan padaku jika mereka hanya meminta sesaji untuk memudahkan mereka meninggalkan tempat ini. Sontak aku kaget mendengar syarat yang di ucapkan pak limbo, dengan detil pak limbo merinci barang-barang yang harus aku sediakan dalam prosesi sesajian itu.

Dan saat itu sejujurnya aku bingung untuk menjawab iya atau tidak, lama berfikir untuk memilih jawaban iya atau pun tidak, entah mengapa aku bisa merasakan tatapan mata om wisnu seperti mengisyaratkan sebuah tanda kemenangan. Apakah tidak ada alternative lain selain sesaji tanya aku pada pak limbo. Saat itu aku berfikir apakah orang-orang ini sudah bekerja sama dengan om wisnu hingga mereka sudah menyiapkan semua sesajian. Saat itu dedi sambil menyentak tangan aku agar aku menghentikan perkataan yang akan aku ucapkan, tidak lama kemudian pak limbo mulai melakukan ritualnya, wangi aroma kemenyan mulai tercium seiring prosesi ritual yang mulai berjalan. Wajah-wajah yang penuh ketakutan seperti terhipnotis menyaksikan momen ritual ini detik demi detik, tubuh pak limbo sulit untuk di tatik hingga akhirnya terlihat ekspresi kepuasaan di wajah pak limbo begitu melihat mas gitu berhasil menutup botol yang berada di dalam genggaman tanganya.

Tidak lama pak limbo mengatakan jika semua nya sudah beres dan makhluk-makhluk ini akan kita bawa dan akan kita pindahkan kea lam barunya. Entah aku harus menyikapi semua ini dengan rasa bahagia ataukah dengan sebuah pertanyaan. Aku berfikir cara membuktikan bahwa di dalam botol itu telah ada makhluk-makhluk yang selama ini menyebarkan terror nya. Aku pun bertanya apakah rumah ini sudah benar-benar bersih dan tidak meneror lagi. Pak limbo pun terlihat tersenyum dan menganggukan kepalanya. Entah mengapa seiring anggukan kepala pak limbo aku merasakan suhu di dalam ruangan terasa lebih hangat, jauh dari kesan dingin dan kelam. Sinar cahaya lampu yang semula meredup kini kembali memancarkan cahayanya secara normal. Ini sungguh ajaib dan membuat aku terkejut. Aku sambil memperhatikan wajah andira yang masih tampak pucat, sorot matanya terlihat serius memperhatikan pak limbo yang tengah membereskan perlengkapan ritualnya, sesajian yang telah di gunakannya dalam prosesi ritual kini di letakannya di sudut ruangan.

Genap dua malam setelah prosesi pembersihan yang di lakukan oleh orang-orang pintar itu, kondisi tempat tinggal aku terasa aman, tanpa ada terror-teror menyeramkan yang mengganggu kami. Saat itu aku melamun dan dedi menegur aku dengan wajah yang masih menampakkan keletihan dan kedua tangannya terlihat sibuk melepaskan sepatu yang di kenakannya. Dedi pun mengatakan jika sudah dua malam aman-aman saja, terlihat senyuman wajah dedi, sebuah senyum yang mewakili sebuah perkataan bahwa aku harus bisa menerima bahwa semua hal normal yang telah berjalan selama dua mala mini adalah buah hasil dari orang-orang pintar itu.

Mama pun mengajak aku menjadi imam ketika adzan magrib berkumandang, tapi aku beralasan dan menolak dengan alasan kerja. Bergegas aku berjalan meninggalkan mama dan andira, aku tidak mau mendengar mama mengulangi permintaannya untuk kedua kalinya karena permitaan yang kedua itu sudah pasti membuat aku sungkan untuk menolaknya. Saat itu juga dedi mengajak aku solat tapi lagi-lagi aku menolaknya. Setelah aku terdiam begitu memasuki kamar mandi, ada rasa sedih yang aku rasakan ketika aku kembali harus melakukan kebohongan demi kebohongan dari sebuah ajakan kebaikan. Saat itu aku pun beranikan diri melakukan prosesi wudhu dengan jantung berdegup. Sebuah prosesi yang telah lama aku tinggalkan baik karena sengaja ataupun karena siksaan yang telah aku terima. Dengan mengawali kata bismillah aku pelan-pelan sambil mencoba memulai berwudhu, semua terasa lancar hingga akhirnya sampai tahapan ketiga dimana aku harus membasuh muka, sebuah tahapan yang membuat detak jantung aku berdegup semakin cepat, inilah bukti yang harus aku buktikan bahwa siksaan ini telah berakhir.

Basuhan air yang seharusnya dingin dan menyejukkan sepertinya tidak berlakuk lagi padaku, butiran-butiran air itu bagaikan ribuan duri panas yang menghujam keseluruh wajah aku. Ketika itu kami berdua menikmati momen-momen dimana kita mengintrospeksi diri satu sama lain. Cerita nya simak terus di part selanjtunya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here