Jeritan Malam 2 Part Keduabelas : Fenomena Goib Mulai Menampakkan Eksistensinya 4

0
86
malesbanget.com

Aku pun dengan segera mengganti kamar lampu terlebih dahulu karena kasihan mereka sudah terllau lama menunggu. Dan mang iwan pun menawarkan untuk mengganti lampunya yang putus. Aku pun menyuruh mang iwan menyadarkan dedi dan aku segera bergegas ke kamar mama, tanpa sedikitpun menoleh ke sudut-sudut yang terasa gelap. Mama pun bertanya aku kemana saja? dan aku menjawab jika sulit mencari kuncinya. mama aku pun bilang jika kunci gudang itu aku yang membawa nya. Aku pun bilang jika kunci gudang hilang dan aku pun menggunakan kunci cadangan yang di simpan di laci ruang tv. Terlihat mama memperhatikan aku sedang berusaha mengganti lampu yang mati.

Mama aku pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi? pada saat sinar cahaya lampu yang kini mulai menerangi ruangan kamar begitu memperjelas ekspresi ketakutan yang aku rasakan, entah alasan apa lagi yang harus aku sampaikan ke mama untuk menghilangkan kecurigaannya. Saat itu pun aku mengatakan pada mama agar istirahat dan tidak berfikir yang aneh-aneh. Aku tanpa sedikitpun mencoba menjawab pertanyaan mama, isyarat mata sempat aku layangkan kepada bi nani untuk tidak membahas tentang apa yang terjadi ataupun menceritakan hal-hal aneh yang bi nani pernah alami beberapa hari belakangan.

Ada raut wajah yang tidak puas dari mama atasa jawaban yang aku berikan. Aku pun sambil berlalu meninggalkan kamar, ada rasa lega yang aku rasakan begitu aku berhasil keluar dan menutup pintu kamar. Sedih rasanya untuk berulang kali aku terpakasa memberikan cerita bohong demi kebohongan pada mama. Aku merasa malam ini begitu lama berlalu dan diantara malam-malam sebelumnya. Malam ini terror yang mereka berikan semakin berani dan seakan-akan mereka ingin menunjukan kepada aku bahwa mereka ada disini untuk memberikan kejutan-kejutan yang lain, mungki tidak akan bisa aku jelaskan dengan pemikiran sehat aku.

Mang iwan pun menanyakan keadaan mama, namun terlihat dedi sudah mulai siuman walau tubuhnya masih terbaring di rerumputan. Aku pun bilang mama baik keadaannya namun sepertinya mama curiga dengan apa yang terjadi. Saat itu aku melihat keadaan dedi dan dedi meminta rokok yang ada di tangan aku, untuk sesaat wajahnya terlihat seperti memikirkan sesuatu. Menurut dedi terror di rumah aku sangat lah ekstrim. Dedi pun bilang jika dirinya mempunyai kenalan orang pintar yaitu seorang kyai. Aku yang masih bingung dengan arti kata orang pintar pun terdiam dan terlihat dedi menggelengkan kepalanya.

Dedi pun menjelaskan bahwa orang pintar ini bisa menangani hal seperti ini dan dedi berusaha menceritakan kejadian-kejadian yang pernah dan sudah berhasil di tangani oleh orang pintar itu. Namun saat itu aku tidak mempercayai apa yang di katakan oleh dedi. Seketika aku berbicara kenapa mereka yang rajin ibadah dan solat mempercayai orang pintar sepeti itu. Terlihat dedi dan mang iwan terdiam mendengar yang aku ucpakan, mereka masih menunggu jawaban pasti yang aku berikan. Untuk sementara ide mereka aku tampung dulu. Dan akhirnya besok harinya mang iwan dan dedi memanggil orang pintar itu ke rumah aku. Tidak lama mang iwan pun meminta ijin tidur di kamar aku karena dirinya sudah mulai takut dengan kejadian yang sudah terjadi di rumah aku. Namun ketika itu aku melihat muka dedi begitu pucat dan sesaat aku memperhatikan muka dedi dan terlihat senyum yang agak di paksakan dari wajahnya.

Tidak lama ada aroma kemenyan dari dalam rumah ini, entah kenapa aku merasa aneh dengan wangi kemenyan ini, semua ini mengingatkan aku akan ritual-ritual yang pernah di lakukan di mess tua. Mang iwan pun bertanya apakah mau di periksa dengan raut wajah tegangnya. Dedi pun heran dengan aku karena aku sering mematikan lampu-lampu ruangan, dimana menurut dedi situasi saat ini sedang kacau dan tidak lama dedi menunjuk ke arah tangga yang mengarah ke lantai atas. Aku pun mengatakan jika ni adalah tempat tinggal dan tempat kelahiran aku jadi tidak ada alasan bagi aku untuk takut di rumah aku sendiri. Saat itu pun aku ingin memeriksa sesuatu dan tampak mang iwan menemani aku untuk memeriksa keadaan di atas dengan isyarat yang aku berika akhirnya mang iwan mengurungkan niatnya.

Sungguh ini sangat bertolak belakang dengan apa yang aku rasakan. Rasa takut dan rasa penasaran yang aku rasakan begitu berkecamuk di hati ini. Dengan langkah berat aku mulai menapaki barisan anak tangga, entah mengapa kini aku merasakan semakin lama suasana di rumah ini semakin suram, hawa dingin yang aku rasakan kini bukan lagi hawa dinginyang aku rasakan karena sejuknya udara malam. Ini sangat berbeda dan semakin aku mendekati akhir anak tangga, gejolak hati aku semakin tidak menentu. Aroma wangi kemenyan yang semakin menyengat seperti sebuah aroma yang memberikan sugesti buruk padaku.

Tidak lama mama mengatakan jika om dan mama aku ingin membicarakan sesuatu. Mendengar ucapan om wisnu pikiran aku langsung mengarah pada rencana perjodohan itu, aku hanya terdiam saja mencoba mendengar kelanjutan arah pembicaraan ini. Nah, cerita nya masih berlanjut di berikutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here