Jeritan Malam 2 Part Kedua : Adanya Tumbal Dan Keyakinan Itu Semakin Menipis

0
101
malesbanget.com

Dua hari setelah semua prosesi pemakaman selesai di lakukan, kini tinggal aku beserta dengan mama di temanin seorang pembantu rumah tangga, menempati rumah yang kini bertambah sepi semenjak kepergian bapak. Mamah yang biasanya selalu member warna keceriaan di rumah ini kini lebih banyak terdiam dalam lamunannya, entah kenapa setelah dia mengetahui yang telah aku lakukan selam perantauan. Mencoba memberitahukan apa yang telah aku lakukan rasanya bukanlah hal yang bijak, di saat kondisi mama belum bisa menerima kepergian bapak, dia harus menerima kembali sebuah kabar tentang ritual yang telah aku lakukan. Aku sendiri belum bisa yakin bahwa semua yang terjadi merupakan tumbal dari semua ritual yang telah aku lakukan.

Masih terlihat sisa genangan air mata di kedua matanya, begitu menyadari kehadiran aku mama berusaha terlihat lebih tegar. Jari-jari tanganya terlihat mencoba menghilangkan genangan air mata yang tersisa, sebuah senyuman terlihat dari wajahnya. Tampak mama ingin menunjukan bahwa masih ada sedikit keceriaan yang bisa di berikan untuk anaknya. Mama mengjak aku duduk di sampingnya, layar televise yang menyajikan komedi sepertinya bukanlah tontonan yang bisa membuat mama menitikan air mata.

Aku berusha merangkul bahu mama dan berharap rangkulan ini bisa memberikan sebuah gambaran, bahwa masih ada aku yang akan selalu menemani dirinya. Mama bicara jika hanya aku harapannya dan melanjutkan semua usaha yang telah dirintis bapak. Ada sesuatu yang aku bicarakan, ucap aku pada mama. Lama aku terdiam dalam keraguan untuk melanjtukan itu, ingin rasa nya aku berkata jujur momen seperti ini, tapi ketika melihat wajah mama, rasanya tidak sanggup aku meneruskan semua perkataan itu. Mama pun penasaran, begitu melihat aku masih terdiam dalam lamunan.

Aku tidak kuasa menatap mama yang sudah menampakkan kerutan usianya. Ketika itu ada yang datang dan bergegas aku menhampiri pintu dan membukanya, kini tampak berdiri di hadapan aku sosok iwan yang sudah menunjukan tanda-tanda bahwa dia sudah kembali sehat. Tapi rasanya tidak sanggup menahan diri lagi untuk menceritakan apa yang telah terjadi sewaktu kecelakaan terjadi, ucap mang iwan. Mendengar keterang yang keluar dari mulut mang iwan, aku mencoba memberikan tanda kepada mang iwan untuk mengecilkan suaranya.

Mama pun menghampiri, begitu melihat mang iwan wajah mama kaget, mungkin mama tidak menyangka mang iwan akan mulai kembali bekerja secepat ini, ada rasa kawatir yang aku rasakan. Aku takut mama akan menanyakan perihal kronologis terjadinya kecelakaan. Tapi ternyata semua rasa kawatir aku tidak menjadi kenyataan, mama hanya terlihat basa-basi sebentar menanyakan kondisi mang iwan. Aku mencoba manganjak mang iwan ke taman dengan harapan mamah tidak melanjutkan kembali pertanyaanya. Siang ini banyak sekali pertanyaan yang akan aku tanyakan kepada mang iwan, bila aku merunut ulang semua kejadia, dimulai saat aku kembali ke Jakarta hingga peristiwa kecelakaan yang telah merenggut nyawa bapak terjadi. Sudah berapa banyak kejadian-kejadian aneh yang mungkin mang iwan alami.

Sejenak perkataan mang iwan terhenti melihat bi nani yang mengantarkan dua cangkir kopi, bi nani adalah seorang wanita yang membantu semua pekerjaan rumah tangga di rumah kami, usianya mungkin sudah sekitar lima puluh tahun, sudah hampir tujuh tahun dia bekerja di rumah ini meninggalkan anak-anaknya yang sudah berumah tangga di kampung halamnnya.

Lalu mang iwan melanjutka ceritnya, dimana sebelum kejadian ini terjadi bapak pernah mengatakan suatu hal. Bapak bilang bahwa aku sedang dalam masalah besar, saya tidak tahu dengan maksud kujang atau keris yang dikatakan bapak, tapi dari perkataan bapak, mang iwan menyimpulkan bahwa aku telah meninggalkan benda itu di suatu tempat dan aku tidak menyadari bahwa dengan meninggalkan benda itu, ada kekuatan jahat yang akhirnya mengikuti aku.

Lama aku terdiam mencoba menyimak keterangan yang di berikan mang iwan, muncul pertanyaan di dalam benak ini, ternyata semuanya benar bahwa bapak yang menyelipkan kujang tua itu di dalam tas aku. Tapi bagaimana mungkin bapak bisa mengetahui bahwa benda itu telah aku tinggalkan di hutan sana bersama seseorang yang bisa aku percaya untuk menjaganya.

Hingga akhirnya malam itu bapak minta diantarkan ke rumah salah satu sahabatnya tapi terlihat mang iwan merasa berat untuk melanjutkan perkataannya, kedua matanya terlihat mulai berkaca-kaca, mungkin teringat kembali sosok bapak. Belum sempat kami tiba di rumah sahabt bapak, saya melihat seorang pria tua berdiri menghalangi laju kendaraan yang saya kendarai yang membuat aku kaget ada beberapa makhluk kecil. Entah saya harus menyebut monyet atau makhluk apa.

Tidak lama dedi menelpon aku dan terdengar setelah menelpon aku dedi mengakhiri pembicaraannya. Belum sempat melangkah keluar rumah, langkah kaki aku terhenti sejenak merasakan hembusan angin dingi yang menerpa tengkuk, ini benar-benar seperti angin dingin yang pernah aku rasakan di mess tua itu, mata aku mencoba menatap semua sudut ruangan yang sepi. Tidak lama bibi bercerita jika sudah beberapa mala mini kamar pintu nya ada yang mengetuk. Tapi ketika pintu di buka bibi tidak melihat siapa-siapa. Dan aku memasuki kamar penyimpanan bapak dengan rasa yang aneh dan berbeda. Nah, cerita ini berlanjut di selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here