Jeritan Malam 2 Part Kedelapan : Kedatangan Om Wisnu Dan Sebuah Rencana Bagian 5

0
84
malesbanget.com

Saat itu andira mencoba mencairkan suasana makan malam diantara raut wajah yang tegang. Aku pun memotong perkataan dedi, aku tidak mau dedi berbicara panjang lebar tentang kejadian-kejadian aneh yang belakangan ini sering terjadi di rumah ini. Seperti ada yang sedang kalian coba tutup-tutupi dari aku, akhirnya andira balik ke kamar lagi. Aku berusaha menghentikan andira yang terlihat akan beranjak dari tempatnya duduk, untuk beberapa saat aku terdiam mencoba mempertimbangkan perkataan jujur yang andira minta. Aku pun berbicara jika andira belum saatnya mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dan aku tidak mau melibatkannya terlalu jauh. Aku pun mencoba menepiskan gambaran wajah wulan dipikiran ini dan aku tidak mau kejadian buruk yang menimpa wulan akan kembali menimpa orang-orang terdekat aku.

Aku pun berfikir seiring waktu berjalan, aku akan bisa mengambil keputusan bahwa kamu memang layak menjadi pendamping hidup aku, ucap andira. Aku pun kaget dengan semua kata-kata yang terlontar mulut andira, semula aku menduga andira sama hal nya seperti aku, tidak mengetahui semua proses perjodohan ini namun ternyata aku salah menduga. Saat itu dedi meledek aku dan aku pun merasa malu sambil menarik tangan dedi agar menghentikan langkahnya, terlihat wajah andira sedikit tersipu. Andira pun bertanya akan sebetulnya yang terjadi. Dedi pun mengatakan jika aku harus mengatakan yang sebenarnya karena menurut dedi cepat atau lambat andira akan mengetahuinya. Namun setelah terdiam lama akhirnya aku putuskan untuk menceritakan semua kejadian yang telah aku alami selama ini.

Andira pun bernada suara lebih tinggi seakan memendam marah atas kejadian yang sudah aku lakukan dan dia bilang aku harus mengakhiri semua ini dengan segera. Andira juga mengatakan jika ini bukanlah masalah percaya tidak percaya akan tetapi dirinya percaya jika makhluk goib itu memang benar ada. Seperti layaknya kehidupan manusia ada kekuatan baik dan jahat di dalamnya dan kamu sednag berhadapan dengan kekuatan jahat itu, ucap andira. Aku pelan sambil melangkah ke arah jendela dapur yang masih terbuka, lega rasanya menghirup udara malam diantara peliknya permasalahan yang aku hadapi.

Sekali aku berucap akan setia menemani kamu melalui semua ini, aku akan selalu bersama kamu melalui semua ini, ucap andira. Saat itu ucapan yang keluar dari mulut andira sudah cukup menolehkan wajah ke arahnya, wajah gadis yang sebelumnya terlihat begitu cuek dan jauh dari sisi kelembutannya sebagai seorang wanita. Sekarang bagaikan menjelma menjadi seorang peri manis yang memberikan rasa tentram di hati ini. Aku pun berkata jika aku beberapa hari kedepan akan kembali ke tempat itu. dimana tempat yang menjadi awal dari semua kejadian ini dan semoga itu menjadi awak dari akhir kisah kelam ini. Dedi pun ingin ikut dengan aku karena ketertarikannya.

Dan tanpa persetujuan dari aku andira pun mengangkat jari tangannya, bingung rasanya menyikapi kebersediaan mereka untuk ikut menemani aku dalam mengakhiri semua masalah ini. Entah bagaimana aku harus menyikapi semua perlakuan ini, terlalu naif rasanya jika aku harus gembira atas semua keiklasan mereka jika pada akhirnya aku akan kembali menerima kesedihan.

Saat itu hari sudah mulai malam namun kami masih belum pulang juga, saat itu mata andira menatap jam yang tergantung di dinding. Rupanya kami sudah terlalu lama terlibat dalam sebuah pembicaraan santai hingga tidak menyadari waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Ketika itu aku mengatakan jika aku tidak mau hal-hal buruk akan kembali menimpa orang-orang yang aku sayangi. Seiring perkataan yang aku ucapkan bermacam-macam bayangan buruk akan peristiwa pahit yang mungkin akan aku alami selanjutnya begitu memenuhi pikiran ini. Saat itu andira memberikan aku support dengan mengatakan jika dirinya percaya dengan aku dan dia yakin semua yang terjadi bukan atas dasar keinginannya. Dan kembali andira memberi penjelasan jika aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi dan menimpa orang-orang yang aku sayangi.

Seketika aku seperti mendapatkan semangat dan aku melihat seulas senyum terlihat dari wajah andira begitu melihat ada setitik keyakinan di wajah aku. Seiring langkahnya yang mulai menjauh meninggalkan aku, ada sedikit keyakina di hati aku bahwa andira adalah sosok wanita yang bisa menjadi tambatan hati aku dalam berbagai kesedihan dan kesenangan yang akan aku lalui. Saat itu dedi memanggil aku penuh dengan rasa takut dan kedua telapak dedi mencoba menutupi pengelihatannya, mendadak aku yang semula tidak begitu merasakan ketakutan, kini mulai bisa merasakan ketakutan itu. Secara perlahan aku bisa merasakan perubahan suhu ruangan, semua terasa begitu dingin dan itu cukup untuk membangunkan bulu-bulu yang berada di tengkuk ini. Tanpa menunggu sesuatu terjadi lebih buruk segera aku menghampiri dedi dan mencoba membangkitkan dari duduknya.

Aku pun sambil terus memaksanya untuk melangkah, mungkin andai aku melihat apa yang sedang dedi saksikan kali ini, aku akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dedi rasakan, setelah berjuang dengan sedikit membentak mencoba mengembalikan kesadaran diri dedi. Saat itu pula tiba-tiba suara telepon berderig dari dalam rumah. Nah, cerita nya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here