Jeritan Malam 2 Part Kedelapan Belas : Pembersihan Hal Goib Dan Sebuah Perlawanan 2

0
84
malesbanget.com

Diantara rasa ketakutan yang hampir menguasai seluruh alam bawah sadar aku, suara yang sangat aku kenali seperti membangkitkan harapan aku untuk mengakhiri kejadian buruk ini. Dengan perlahan aku buka pejaman mata ini hingga akhirnya aku melihat sosok dedi yang terduduk di samping aku sambil kedua tanganya mencoba mengguncang tubuh aku. Di situ dedi dengan setengah berteriak begitu melihat aku mulai membuka mata dan raut mukanya menunjukkan rasa lega. Terlihat dia bangkit dari duduknya dan berjalan hilir mudiknya, layaknya seseorang yang tengah mencoba melepaskan ketegangannya. Aku pun menerangkan kepada dedi tentang apa yang baru saja aku alami. Aku pun menyuruh dedi untuk segera berkemas dan pergi dari situ. Aku pun melangkahkan kaki ke kamar mandi, samar-samar mulai terdengar suara adzan subuh yang berkumandang dari mesjid terdekat.

Dedi pun heran kenapa aku tidak solat dan dedi pun menggelar sajadahnya dengan tatapan matanya memperhatikan aku yang sedang beberapa helai memasukan baju ke dalam ransel. Mendengar pertanyaan dedi, aku hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepala. Aku pun mengambil tas ransel ini dengan pelan yang berada di kasur untuk kali keduanya, tas ransel yang pernah menemani aku dalam mengarungi petualangan di sebuah tempat di jawa timur dan kini kembali menjadi teman setia yang menghiasi punggung aku. Setelah melalui kondisi lalu lintas yang tidak terlalu padat. Akhirnya kami pun tiba di stasiun kereta yang akan mengantarkan kami ke sebuah tempat di jawa timur. Lamunan aku seperti termanjakan oleh situasi stasiun yang tidak terlalu ramai dan masih terbayang dalam ingatan aku saat-saat ketika wulan mengantarkan keberangkatan aku di stasiun ini.

Dedi pun mengagetkan aku sambil memberikan sebungkus roti. Ini adalah momen terindah yang akan selalu aku kenang ketika sebuah senyuman muncul dari seorang kawan yang dengan tulus menemani aku dalam mengakhiri semua kisah ini hingga akhirnya setelah menunggu sekian lama kereta yang kami nantikan pun tiba. Tidak lama aku mengatakan pada dedi jika kita akan memulai petualangan untuk mengakhiri ini semua dan percayalah tempat ini juga kita akan memijakan kaki ini dengan sebuah awal kehidupan yang baru. Aku sambil tersenyum seiring dengan laju kereta yang mulai bergerak perlahan menjauhi stasiun.

Setelah sekian jam perjalanan panjang yang cukup melelahkan akhirnya kami pun tiba di sebuah tempat yang menjadi awal dari semua petualangan aku selama ini dan hamparan pohon-pohon jati yang menghiasi sepanjang perjalanan seperti lukisan indah yang memberikan kesejukan. Aku pun mengatakan pada dedi jika kita sudah sampai dan aku pun memberikan sejumlah uang pada pak supir yang mobilnya sengaja kami sewa untuk mengantarkan kami. Dedi pun terlihat memperhatikan sebuah bangunan tua yang terlihat tidak terawat di beberapa sudut taman. Aku pun melihat kumpulan rumput ilalang yang sudah meninggi serta pagar besi yang terlihat sudah mulai berkarat. Lampu redup yang menghiasi bagian teras depan semua itu mengingatkan aku akan semua kenangan kelam yang aku alami di mess tua itu. Dedi pun bertanya dimana kah mereka akan beristirahat? Terlihat tatapan matanya memperhatikan keadaan sekitar yang tertutup kegelapan malam, tanpa menjawab segera aku melangkahkan kaki menuju sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari mess, sebuah masjid yang sangat jarang aku datangi selama aku tinggal di mess tua itu.

Setelah meminta izin dan menjelaskan maksud kedatangan yang tentu saja aku samarkan tujuan utama kedatangan ini, beberapa orang pengurus masjid terlihat menyambut kami dengan ramah dan mempersilahkan kami untuk beristirahat di masjud. Setidaknya kita mempunyai tempat istirahat dan aku sambil meletakan tas di sudut ruangan mesjid beberapa orang yang masih terlihat asyik berzikir sesekali menatap kami sambil melepaskan senyuman. yang pasti tempat teraman dari semua tempat yang ada sekarang ini. Kemudian dia berjalan menuju tempat wudhu yang berada di belakang masjid, aku yang sudah mulai merasakan kelelahan segera merebahkan tubuh ini.

Tidak lama ada orang yang menegur agar tas aku sebaiknya di letakan di luar masjid. Mendengar perkataan orang itu ada rasa bingung yang aku rasakan, entah apa maksud dari semua perkataan orang itu. Dan setelah aku lihat wajah orang ini sangat familiar di memori ingatan aku. Mengetahui dirinya sedang dalam perhatian aku, terlihat orang tua itu memperhatikan aku secara seksama. Aku pun bilang jika sepertinya aku mengenal nya. tatapan mata aku masih tidak bergeming menatap wajah tua itu, begitu pun sebaliknya terlihat orang tua itu mencoba mengingat sesuatu, hingga akhirnya di saat lelaki tua itu masih terlihat berfikir aku mulai teringat dengan sosok lelaki tua yang kini berdiri di hadapan aku.

Dan aku ingat jika itu adalah bapak haji mustofa, teriak aku dengan gembira mengingat nama lelaki tua itu. Aku pun coba menjelaskan jika aku adalah orang yang pernah tinggal di mess tua itu. Lama haji mustofa terdiam hingga akhirnya haji mustofa pun bisa kembali mengingat aku. Lama kami terlibat pembicaraan mengenai masa lalu di mess tua itu, wajah dedi terlihat serius menyimak setiap cerita yang keluar dari pembicaraan ini. Dari semua cerita ini masih berlanjut di episode akhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here