J.K. Rowling

0
48

Aku lahir di Rumah Sakit Umum Yate, Gloucestershire, Inggris pada tanggal 31 Juli tahun 1965. Aku adalah anak perempuan dari seorang insinyur pesawat terbang di pabrik Rolls Royce di Bristol, sedangkan ibuku adalah seorang teknisi sains di departemen kimia di Wyedean Comprehensive.

Saat itu aku berumur 4 tahun, tepatnya pada tahun 1969, aku dan keluargaku pindah ke Winterboune. Letak Winterboune ini tidak jauh dari rumahku yang dulu. Nah, di desa ini aku bertemu seorang bocah bernama Potter. Aku dan Potter menjadi sahabat. Jujur saja, sampai saat ini aku tidak bisa melupakan bocah itu. Dia kan sahabatku, mana mungkin aku melupakannya.

Kemudian saat aku berusia 9 tahun, aku dan keluargaku pindah lagi. Kali ini aku dan keluargaku pindah ke Tutshill, South Wales. Aku sekolah di St.Michael’s Primary School.

Aku sendiri adalah seseorang yang sangat mencintai dunia literasi dan orang yang sangat senang menulis. Kau bisa membayangkan aku saat itu sebagai seorang gadis kecil dengan badan gemuk dan berkacamata yang sangat kutu buku, itulah aku.

Teman-temanku mengenalku sebagai seorang pemimpi. Aku suka mendongeng. Aku berhasil menciptakan karya pertamaku saat aku berusia 6 tahun, saat itu aku mengisahkan tentang seekor kelinci bernama Rabbit penderita campak yang dikunjungi teman-temannya, salah satunya adalah seekor lebah Raksasa yang aku beri nama Miss Bee. Bisa kau tebak siapa yang pertama kali mendengar ceritaku? Yap.

Dia adalah adik perempuan yang umurnya dua tahun lebih muda dariku, dia menjadi yang pertama kali mendengar ceritaku.

Awal mula aku menyukai dunia sastra adalah ibuku. Ibuku benar-benar memberikan pendidikan yang baik untuk kami. Ibuku sering membacakanku berbagai buku. Gara-gara beliaulah aku jadi memiliki kemampuan berimajinasi. Aku jadi sadar, aku benar-benar jatuh cinta dengan buku bacaan.

Tapi, dulu aku punya sedikit rasa tidak menyenangkan dengan guru Matematikaku, namanya, Mrs. Morgan. Aku selalu ditempatkan di sisi kanan kelas. Kau tahu apa artinya itu? Itu artinya aku termasuk kelompok anak-anak yang kurang pandai. Padahal kan, aku termasuk anak yang cerdas.

Hal itu cukup membuatku frustasi.

Tapi tidak semua guru seperti Mrs. Morgan, ada beberapa guru yang memberiku dukungan positif, menurut mereka bakat menulisku ini imajinatif, inspiratif dan menarik. Aku selalu ingat saat menyenangkan ketika aku diberi kesempatan membacakan dongeng hasil karyaku.

Saat aku beranjak remaja, bibiku memberiku sebuah buku yang berhasil membuatku semakin jatuh cinta dengan dunia literasi. Buku itu adalah salinan otobiografi tua karya Jessica Mitford, tapi entah kenapa aku sangat menyukainya. Aku mengidolakan Mitford dan membaca karya-karyanya. Kuakui jujur saja, masa remajaku bukan masa yang menyenangkan seperti kebanyakan remaja lainnya. Bisa dibilang masa remajaku kurang bahagia. Karena saat itu aku harus tinggal dengan ibuku yang mengidap penyakit Skeloris. Sedangkan hubunganku dengan ayahku tidak terlalu dekat.

Aku melanjutkan pendidikanku di Sekolah Menengah Pertama Wydeyan. Kemudian setelah lulus dari sana, aku ingin melanjutkan studiku di Universitas Oxford, sayangnya aku tidak berhasil masuk ke sana. Aku gagal. Lalu aku putuskan untuk masuk ke Universitas Exeter di Inggris. Di Universitas Exeter aku mengambil jurusan bahasa Perancis selama 4 tahun. Di ujung tahun terakhirku kuliah di Exeter aku menjadi seorang guru bahasa inggris.

Selama kuliah di Exeter, aku sangat betah menghabiskan waktuku untuk membaca cerita-cerita klasik. Bahkan pernah lho, aku sampai kena denda £ 50 gara-gara sering melewatkan batas waktu pinjam buku.

Tahun 1990 aku berhasil lulus setelah menyelesaikan studiku di Paris selama setahun. Setelah lulus aku kembali ke London dan bekerja sebagai peneliti dan sekretaris bilingual di Amnesty Internasional. Walaupun itu bukan bidang yang aku sukai.

Saat menjadi sekretaris, aku melakukan hal yang membuat atasanku kesal. Jadi saat itu ketika rapat aku lebih sibuk berimajinasi dibanding mencatat jalannya rapat. Hasilnya aku dipecat dari pekerjaanku.

Di usiaku yang ke-21 tepatnya tahun 1991, aku pindah ke Portugal untuk menjadi seorang guru bahasa Inggris. Di Portugal ini lah aku bertemu suami pertamaku, dia adalah seorang wartawan portugis. Aku dan dia, Jorge Arantes nama suami pertamaku, menikah pada bulan Oktober tahun 1992. Pernikahanku dengan Arantes dikaruniai seorang putri cantik bernama Jessica. Akan tetapi, pernikahan kami bukanlah pernikahan yang harmonis. Pernikahan kami tidak bertahan lama. Aku dan dia bercerai tepat setelah Jessica lahir.

Aku putuskan untuk kembali ke Edinburgh, ke rumah adikku, dengan membawa anak perempuanku. Adikku adalah satu-satunya orang yang mau mendengarkan masalah-masalahku. Dia benar-benar baik hati.

Aku melihat diriku sebagai orang yang gagal. Pernikahan yang kandas, dan selain itu aku juga menganggur.

Tapi aku masih cukup beruntung. Aku bersyukur, walaupun aku menjadi orang tua tunggal saat itu untuk Jessica aku tidak menjadi tuna wisma. Aku juga masih bisa kembali ke kampung halamanku.

Selama periode terberatku, aku pernah didiagnosis menderita depresi klinis dan sempat membuatku berpikir untuk bunuh diri.

Aku pernah mengalami fase, hidup dari tunjangan negara. Aku menerima £70 per minggu. Dari uang itu aku bisa membeli makanan murah dan beberapa pakaian untuk anakku, Jessica.

Aku tidak tahu bagaimana ide itu muncul. Tapi aku harap aku tidak pernah tahu. Karena itu akan merusak kegembiraanku, kalau ternyata aku hanya memiliki kerutan kecil yang lucu di permukaan otakku yang membuatku berpikir tentang peron yang tidak terlihat.

Saat itu, tepatnya di tahun 1990, saat aku duduk termenung di sebuah kereta yang tertunda dari Manchester ke London King’s Cross, seorang penyihir cilik berkacamata bundar lahir dari kepalaku.

Sejak ide itu muncul aku mulai menulis.

Suatu hari, apartemenku dimasuki perampok, para perampok itu mengambil banyak barang kenangan dari ibuku. Tapi untungnya, mereka tidak mengambil kotak sepatu besar yang sudah terisi penuh dengan garis besar cerita ‘Harry Potter’ yang sedang aku kerjakan. Itu adalah hartaku yang paling berharga.

Setelah aku menyelesaikan cerita dari bab terakhir novelku, aku menceritaan segalanya pada adikku, Dianne.

Adikku berkata bahwa cerita yang aku buat sangat hebat dan dia menyukainya. Melihat ketertarikan adikku pada cerita yang aku buat, tercetus ide dalam kepalaku untuk mempublikasikan kepada khalayak umum.

Aku mengirimkan naskahku pada beberapa agen literatur sastra. Dan tentu saja tidak langsung diterima. Naskahku ditolak, menurut mereka novelku terlalu panjang, tidak cocok untuk anak-anak, anak-anak tidak akan suka cerita novel tersebut dan masih banyak lagi.

Aku patah semangat.

Frustasi.

Tapi, adikku Dianne, mengatakan padaku bahwa aku harus terus semangat. Tidak boleh menyerah. Aku pasti bisa.

Aku bangkit.

Aku dan Dianne memutuskan untuk mengirimkan naskahku ke Christopher Little, agen sastra yang cukup terkenal.

Christopher Little yang mengir bahwa karya tersebut untuk anak-anak tidak begitu tertarik, dia meninggalkan naskahku sebagai arsip. Beruntungnya aku, salah satu pegawainya melihat arsip tersebut dan ia tertarik dengan plot dari alur cerita yang aku buat. Pegawai baik hati itu meletakkan naskahku di atas meja Christopher Little sekali lagi. Setelah membaca naskah yang aku aku buat, Christopher Little menjadi tertarik dengan isi cerita dalam novel Harry Potter tersebut.

Bloomsbury Children’s Books adalah penerbit pertama yang menerima naskahku untuk diterbitkan dan agen ketiga belas yang aku datangi. Yap. Aku ditolak 12 agen sastra sebelumnya.

£1.500 adalah harga yang ditawarkan oleh pihak penerbit padaku. Aku melonjak kegirangan saat penerbit Bloomsbury mengajukan penawaran. Bahkan Jessica sampai takut melihatku menjerit bahagia.

J.K Rowling adalah nama penaku. Ini adalah permintaan penerbit, menurut mereka buku yang penulisnya wanita tidak akan menarik pembaca dari kalangan laki-laki muda. Penambahan huruf K pada J.K adalah penggambungan antara aku dan nenekku yang bernama Kathleen.

Di tahun 2001 aku menikah lagi, aku menikah dengan Dr. Neil Murray di Skotlandia. Tepat pada tanggal 24 Maret 2003, anak kedua dan anak laki-laki pertamaku lahir. David Gordon Rowling Murray, nama anak laki-lakiku, dia lahir di Infirmary, Edinburgh. Lalu pada tanggal 23 Januari 2005, Mackenzie Jean Rowling lahir.

Aku tidak menyangka, ternyata kisah-kisah menyedihkan yang menimpaku malah menjadi inspirasi dalam penulisan novelku.

Percayalah, bahwa beberapa kegagalan dalam hidup tak terelakkan. Tidak mungkin hidup tanpa mengalami kegagalan dalam sesuatu, kecuali jika Anda hidup dengan sangat hati-hati sehingga Anda mungkin tidak hidup sama sekali-dalam hal ini, Anda gagal secara telak.

Dan saat ini orang-orang mengenalku sebagai Joanne Rowling, ibu yang melahirkan seorang penyihir cilik bernama Harry Potter. Novel yang aku tahu berhasil diterjemahkan dalam 73 bahasa dan terjual lebih dari 450 juta kopi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here