Izin Tidak Masuk Kerja karena Anakku Sakit, Aku Malah Dipecat

0
4

Aku Kristin. Aku seorang istri merangkap menjadi seorang ibu dan juga merangkap jadi seorang kasir. Yap, aku punya dua profesi, jadi seorang ibu rumah tangga dan seorang kasir. Dan sekarang aku lagi makan apel.

Sambil ngupas apel, aku mau berbagi kisah. Kisahnya udah lama sih, tapi nggak apa-apa buat pelajaran aja buat semua orang.

Sudah kubilang di awal kan, kalau aku juga seorang kasir? Aku jadi kasir di sebuah minimarket yang lumayan ramai pembeli. Nah, di minimarket ini aku punya seorang bos.

Ada banyak banget tipe bos yang ada di dunia, mulai dari bos yang sangat disiplin, santai, sampai bos yang nggak mau tahu apa yang sedang dialami oleh si anak buah. Kalau bosku ini gimana ya, nggak maksud ghibah sih, tapi dia tuh ibarat pemimpin negara, dia tuh pemimpin yang diktator. Tahu diktator kan? Jadi kalau dimasukkan ke jenis-jenis tipe bos dia masuk ke kategori bos yang nggak mau tahu apa kesusahan yang sedang dialami anak buah.

Pernah lho, temanku datang terlambat karena bannya bocor, eh si bos bukannya simpati atau nanyain dimana si temenku ngalami kebocoran ban, dia malah ngomel-ngomel katanya gini ‘Kamu itu niat kerja atau tidak. Kok datangnya telat! Kalau nggak bisa disiplin jangan kerja disini! Disini cuma untuk orang-orang yang bisa disiplin. Sebelum berangkat kerja tuh dicek kondisi motornya, jangan asal bawa. Masak udah gede nggak ngerti kayak begituan?!’, berhubung aku teman yang baik aku cuma nyabar-nyabarin temenku. Waktu itu temenku cuma bilang, ‘Ya, udah aku cek kok motorku, tapi kan aku nggak tahu kalau di jalan ada paku’, keluh temanku padaku. Aku berusaha menjadi teman yang bijak, ‘Mungkin niat si bos supaya kita disiplin aja, sabar ya’, terus temanku malah ngomel ‘Emangnya aku pernah telat?’ habis itu aku diam deh.

Nggak cuma temenku yang pernah kena sembur dari si bos. Hampir semua karyawan minimarket pernah kena semburan dari si bos. Aku sendiri pernah, waktu itu aku nggak sengaja salah hitung jumlah stok barang, eh dia langsung bilang gini ‘kamu itu kalau udah nggak bisa kerja, berhenti aja’, ya ampun bos salah hitung ‘kan nggak tiap hari!? Lagian salah hitungku cuma kurang sebiji, kurang sebiji!!! Ya tentu aja itu cuma jeritan hati, nggak mungkin kan aku langsung nyembur ke si bos. Karena kami para karyawan paham UU Manajer, pasal 1 manajer nggak pernah salah, pasal 2 kalau manajer salah, kembali ke pasal 1. Jadilah kami semua bungkam.

Pernah lho, saking keselnya tuh aku dan temen-temenku mau ngadain demo ganti manajer. Pengen manajer yang lama balik lagi, manajer yang baru ini benar-benar bikin nggak nyaman. Nggak bisa santai sedikit, berasa kerja sama Daendels, tahu kan? Itu lho yang menerapkan sistem kerja paksa. Tapi tentu aja itu hanya jadi keluh kesah kami, tidak sampai terealisasi.

Kurang lebih begitu lah penggambaran tentang si bos. Ngeselin ‘kan? Pokoknya kalau kerja nggak boleh salah, salah sedikit gajimu jadi sasaran.

Tapi, berhubung aku dan temen-temenku butuh uang, kami akhirnya tetap bertahan.
Jam kerjaku di minimarket, nggak seperti orang-orang yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan, yang kerjanya mungkin dari jam 8 sampai jam 4 atau malah bisa jadi kurang dari jam 4. Kami para karyawan minimarket bekerja secara shift-shift-an.
Di minimarket ini aku punya banyak teman baik dan sangat pengertian. Mereka tahu saat itu anakku sedang sakit, maka mereka memberiku keleluasaan untuk selalu ambil shift pagi.

Anakku memang sedang sakit kala itu, sakit yang sangat serius, yang membuat aku dan suamiku bekerja sama menjaga anak kami. Suamiku bekerja sebagai karyawan pabrik, sistem jam kerjanya sama denganku, shift-shift-an. Kalau aku shift pagi, maka dia akan ambil shift siang atau malam.

Suatu ketika ternyata anakku menderita Cellulitis Sepsis yang parah dan butuh pertolongan. Keadaan anakku yang parah memaksaku untuk tidak berangkat kerja dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan.

Aku ngumpulin keberanian buat mengirim pesan ke si bos.
Isi pesan singkatku seperti ini :
‘Pak Manajer, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini saya Kristin bagian kasir, saya ingin memberitahukan bahwa saya hari ini dan beberapa hari ke depan tidak bisa masuk kerja, karena anak saya sedang sakit parah dan butuh pertolongan secepatnya.’

Kupikir sudah sopan, dan berharap si bos akan memberiku izin dengan mudah. Tahu apa balasan dari si bos?

‘Tidak begitu caranya, jika kamu tidak masuk kerja maka saya putuskan kamu berhenti.’

Eh… kok malah dipecat sih!? Kan anakku lagi sakit, kalau nggak sakit ‘kan aku pasti masuk kerja. Aku nggak terima pemecatan sepihak itu dong, masak aku dipecat gara-gara sedang ingin mendampingi anakku yang sedang sakit?

Aku pun membalas pesan si bos, minta penjelasan. Balasannya lebih nyelekit lagi.

‘Kalau kamu nggak bisa bekerja, itu artinya kamu memang harus berhenti kerja.’

Tenang Kristin. Tenang. Jangan emosi, aku berusaha menenangkan diriku. Aku masih butuh pekerjaan itu, tapi anakku sedang sakit parah, nggak mungkin aku ninggalin anakku.

Aku nyoba jelasin sekali lagi, mungkin si bos belum mengerti apa yang aku maksud.
Tapi balasan dari si bos benar-benar membuat emosiku naik dan pengen banting HP.
Isi pesannya begini:
‘Nggak ada alasan kalau kamu nggak bisa bekerja dan aku nggak mentoleransi drama.’

Ya ampuun bos… yang drama itu siapa, emang kenyataannya anakku lagi sakit parah.
Saking kesalnya, aku me-capture semua pesan-pesanku dengannya dan aku share di akun facebook-ku. Facebook-ku ramai komentar para netizen. Tentunya mereka mendukungku dan menghujat si bos itu.

Belum lama aku menikmati hujatan para netizen untuk si bos, pesan dari si bos masuk lagi, katanya begini:

‘Kalau saya tidak melihat kamu di tempat kerja itu artinya kamu sudah resmi berhenti.’

Dengan penuh emosi aku balas pesan dari si bos, ‘Maaf pak manajer yang terhormat, saya sedang tidak membuat janji dengan dokter mata atau dokter gigi yang bisa ditunda, tapi saat ini kita sedang membicarakan kehidupan anak saya.’

Setelah selesai membalas pesan dari si bos, aku capture pesan-pesan terakhir kami dan share lagi ke facebook. Hujatan para netizen pada si bos semakin ramai, lumayanlah bisa untuk hiburan, padahal hatiku kesal setengah mati.

Aku tak tahu seberapa kuat kekuatan para netizen, tapi mereka benar-benar membuat kisahku viral dan sampai ke telinga pihak manajemen pusat minimarket. Ceritaku tentang aku yang dipecat hanya karena minta izin untuk merawat anakku yang sedang sakit ternyata membuat warga dunia maya tertarik mengetikkan jari mereka untuk membantuku, karena pihak manajemen pusat minimarket tempatku bekerja mengambil sikap tegas.

Ternyata pihak manajemen pusat melakukan pemecatan terhadap si bos diktator itu, dan memberikan penjelasan pada semua orang bahwa pihak manajemen selalu bersimpati kepada siapa pun, terutama pada karyawan mereka yang anaknya tengah berada di rumah sakit.

Kupikir ini adalah karma yang harus diterima si bos diktator, karena sudah menjadi bos yang lalim pada staff-staff-nya. Dan untuk seluruh manajer di dunia, jangan seperti si mantan bosku ya, itu adalah tindakan manajer yang dibenci oleh semua pihak. Dan semoga kisahku bisa menjadi pelajaran bagi banyak pihak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here