Istriku Jatuh Cinta Dua Kali Padaku

0
39

Tujuh hari dalam seminggu aku paling suka hari minggu, kenapa? Karena hari minggu adalah waktunya bangun siang tanpa gangguan, dan yang jelas nggak mikir beban pekerjaan. Dan diantara semua nama malam, aku paling suka malam minggu. Kenapa? Karena kalau malam minggu itu artinya aku akan bertemu pacarku.

Oke, kenalin, namaku Aldi. Aku seorang karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta. Dan malam ini adalah malam favoritku, ya betul, malam ini malam minggu dan ini artinya adalah jadwal berkunjungku ke rumah pacarku.

Singkat cerita, aku sampai di rumah pacar. Di rumah pacar aku nggak melihat tanda-tanda pacarku siap-siap mau pergi nonton. Terus kutanya, “Loh, Yang, kok belum siap-siap?” jawabnya si pacar, “ Udah nggak mood. Nonton di rumah aja.” melihat tanda-tanda bahwa pacarku sedang PMS, aku nggak banyak protes.

O ya, nama pacarku, Sisil. Untuk informasi tambahan, walaupun aku tahu ini nggak penting, aku dan Sisil udah pacaran selama 8 bulan.

Karena aku dan Sisil nggak jadi nonton, jadilah kami duduk ngglosor di depan TV. Sisil memutuskan nonton drama Korea.

Aku tuh kadang bingung sama kaum cewek, yang disukai para cewek dari drama Korea itu apa. Selain meningkatkan kehaluan yang tidak dapat diterima otak, menurutku kisah-kisah drama Korea terlalu drama dan jarang terjadi di dunia nyata. Seperti yang saat ini sedang ditonton Sisil, kisahnya sangat dramatis, jadi ceritanya ada seorang laki-laki yang mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia, dia lupa kalau dia sudah menikah, dan istrinya melakukan berbagai usaha agar suaminya ingat lagi dengannya. Walaupun endingnya benar-benar mengharukan sih, si laki-laki akhirnya jatuh cinta lagi, tapi tetap saja itu terlalu drama menurutku.

Kalau sudah menonton drama Korea, Sisil tidak bisa diganggu gugat. Dia akan fokus dan menikmati drama itu. Aku jadi merasa nggak berguna ngapel ke rumahnya. Dan setelh satu jam melongo tanpa kata, Sisil nyeletuk, “Yang, aku pengin dilamar kayak gitu”, aku yang dari awal pemutaran drama tak memperhatikan jelas kelabakan. Berusaha cool dan santai, aku pun bertanya pada Sisil, “Dilamar model gimana, Yang?” dan untungnya Sisil menjawab dengan jelas, “Kayak gitu, dilamar pas hari ulang tahun, terus cincinnya dimasukkan ke dalam es krim yang dimakan si cewek, terus ya gitu Yang, pokoknya surprise banget menurutku kalau aku dilamar model kayak gitu.”

Aduh, aku bukan orang yang bisa romantis. Nggak mungkin kan, aku beli es krim dulu, terus es krimnya aku kasih cincin? Kelamaan.

“Kelamaan, Yang. Udah gini aja, panggilin mama papa”, aku nyuruh Sisil manggil camer.
“Mau apa?”
“Udah panggil aja.”

Beberapa menit kemudian mama dan papa Sisil muncul.

“Om, Tante, Aldi kan sudah punya pekerjaan, dan Aldi juga sudah dewasa,Sisil juga sudah dewasa, boleh Aldi lamar anak Om?” kataku to the point, mendengar aku berkata seperti itu, wajah Sisil melongo parah, mulutnya sampai menganga, mungkin karena terlalu terkejut.

Sebenarnya sih rencana ngelamar Sisil udah ada dari bulan kemarin, cuma momennya nggak pernah pas, hari ini sebenarnya juga aku sudah merencanakan mau ngajak Sisil makan malam terus mau aku lamar, eh ternyata ekspetasiku terlalu tinggi, yang terjadi malah jadinya ngglosor di depan TV sambil nonton drakor.

Jadi daripada aku tunda-tunda, aku putuskan langsung lamar aja di rumah.
Singkat cerita, orangtua Sisil merestui pernikahan kami, walaupun saat itu aku harus menerima banyak pukulan dari sisil, karena kata dia cara melamarku nggak ada romantis-romantisnya. Tapi siapa yang peduli sih? Yang penting kan dilamar, ya nggak?
Setelah mendapat restu dari orangtua Sisil, aku dan Sisil segera melangsungkan acara pernikahan.

Pernikahan kami berjalan normal. Hari-hariku yang sebelumnya apa-apa sendiri harus mulai mau berbagi dengan Sisil. Setiap harinya, sehabis bangun tidur aku akan langsung disuguhi wajah Sisil yang masih kucel, tiap malam aku jadi tahu gimana posisi Sisil kalau tidur (ternyata kalau tidur itu suka muter-muter kayak jarum jam), aku juga jadi hafal kebiasaan Sisil yang suka ngupil, tapi bagiku itu semua normal. Untukku itu adalah sisi cantik yang lain dari Sisil.

Tapi, semua itu berubah setelah 9 bulan pernikahan kami.

Suatu ketika, Sisil yang bekerja di sebuah wedding planner, dia diberi tugas untuk mendekorasi meja tamu di sebuah acara pernikahan kliennya. Konsep garden party yang dipilih kliennya itu membuat Sisil harus bekerja di luar ruangan.

Tapi, tiba-tiba angin kencang datang dan memporak-porandakan semua yang ada di situ, Sisil yang tadinya asyik dengan dekorasi meja mendongak untuk melihat keadaan dan yang ia terima malah robohnya tiang besar yang jatuh tepat di kepalanya. Sisil langsung tak sadarkan diri.

Orang-orang yang berada di lokasi berlarian panik.

Setelah keadaan sudah mendukung, Sisil dilarikan di rumah sakit. Dan disinilah aku sekarang. Sedang menunggu Sisil sadar.

Sudah dua hari Sisil tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Orangtua Sisil dan aku selalu bergantian berjaga. Mereka prihatin dengan yang menimpa Sisil. Dan aku? Sudah pasti tidak baik-baik saja, tak ada yang menggangguku selama dua hari. Rasanya hidupku sepi.

Setelah beberapa jam aku menunggui Sisil, akhirnya kesabaranku berbuah manis.
Tapi… kenapa Sisil menatapku ngeri?
“Kamu siapa?” adalah yang keluar dari mulut Sisil.
“Aku suamimu, masak kamu lupa?”
“Hah,Suami? Aku kan masih 17 tahun, kok udah punya suami?”

Melihat kondisi Sisil yang aneh, aku memanggil tim dokter.

Setelah diperiksa, ternyata Sisil kehilangan ingatannya. Ini adalah pukulan berat bagiku. Aku berulang kali menjelaskan pada Sisil bahwa aku suaminya, aku menunjukkan semua foto kami, dari foto saat masih pacaran sampai foto pernikahan kami, walaupun ia masih belum bisa menerima informasi dariku, tapi akhirnya dia mau menerima kenyataan bahwa aku suaminya, meskipun masih dengan terpaksa.

Sejak kejadian tiang roboh itu, pernikahanku dan Sisil berubah.

Aku jadi teringat drama Korea yang tempo hari aku dan Sisil tonton, kini aku malah mengalami drama itu sendiri, hanya beda posisi, yang kualami adalah pihak istri yang hilang ingatan. Aku harus bekerja keras membuat Sisil ingat lagi padaku. Karena bagi Sisil aku adalah orang asing.

Tapi walaupun aku dianggap Sisil sebagai orang asing, sepertinya dia bisa menerima kenyataan bahwa aku suaminya.

Setiap hari aku akan melakukan banyak hal yang dulu menjadi kebiasaan kami saat hubungan kami masih normal, kata dokter ini bisa menjadi terapi tersendiri, tapi jangan terlalu dipaksa, takutnya nanti malah berakibat buruk, kata mereka.

Aku berusaha untuk selalu sabar, tapi aku manusia biasa kan? Kadang karena aku terlalu frustasi aku bersikap kasar pada Sisil, siapa yang nggak frustasi? Sisil jadi orang yang sangat bergantung padaku, sedangkan aku sudah sangat capek seharian bekerja, malamnya aku harus mengurus Sisil, siapa yang nggak capek sih?

Ditambah Sisil yang nggak menunjukkan tanda-tanda ingatannya akan pulih.
Tapi, kadang aku menyesali sikap kasarku pada Sisil, karena saat aku bersikap seperti itu, Sisil akan menangis sampai ketiduran. Dan setiap aku mulai marah dan ingin bersikap kasar, Sisil memperlihatkan ekspresi takut, lalu aku jadi nggak tega sendiri.

Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan sikap sisil, aku memaklumi semua yang ia lakukan padaku. Sisil hanya belum pulih, batinku,setiap kali merasa capek.

Aku mengubah caraku menghadapi Sisil, tahap pertama aku berusaha menjadi teman untuk Sisil, mungkin jika dia harus menerimaku sebagai suami masih sangat sulit, kupikir begitu. Pelan-pelan aku melembutkan sikapku padanya. Dan usahaku mulai menunjukkan hasil, Sisil mulai terbuka lagi denganku.

Tahap selanjutnya, aku berusaha menjadi orang romantis. Aku melakukan banyak hal yang membuat sisil tersenyum lagi. Aku menonton banyak film drama korea, mencari referensi bagaimana cara bersikap romantis. Melihat sikapku yang mulai romantis, sikap Sisil mulai jauh berubah, ia tidak takut lagi denganku.

Suatu hari, karena ada tugas kantor, terpaksa aku harus meninggalkan Sisil di rumah orangtuanya, dan saat aku kembali, tiba-tiba Sisil mengatakan kalau ia rindu padaku. Perubahan yang membuatku lebih terkejut lagi adalah saat dia mengatakan pada semua orang bahwa ia naksir padaku. Sepertinya aku berhasil membuat Sisil mencintaiku lagi. Aku cukup bangga akan diriku sendiri, aku tersenyum melihat hasil perjuanganku selama ini. Aku jadi merasa bahwa usahaku tidak sia-sia.

Butuh waktu dua tahun bagi Sisil untuk pulih. Meski sangat mengubah kehidupan kami berdua, tapi ia tidak menyerah dan tetap melakukan yang terbaik dari kejadian tiang roboh itu. Dan Sisil pun jatuh cinta lagi dengan pria yang sama yang ia cinta sebelumnya, yaitu aku. Meski ingatannya tak kembali secara ajaib namun yang penting aku mampu membuatnya kembali seperti manusia baru.

“Aku mulai mencintainya lagi. Prosesnya memang memakan waktu yang cukup lama, tapi itu sangat berharga,” itu adalah yang diucapkan Sisil pada teman-temannya. Dan aku bahagia karenanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here