Ibuku Punya Dua Suami, Tapi Aku Baik-baik Saja

0
3

Seperti bocah kecil pada umumnya, saat aku berumur 4 tahun, aku pergi bermain ke rumah temanku. Saat berada di ruang tamunya, aku bingung melihat foto keluarga temanku. Karena aku bingung dan penasaran aku menanyakannya pada temanku, “Bapak kamu yang satunya lagi dimana?”

Gara-gara pertanyaan itu, pengasuh temanku menatapku bingung. Dan dia bertanya pengasuhku “Emangnya Karin Bapaknya ada berapa?”

Mendengar pertanyaan itu aku jadi semakin bingung. Bukankah seharusnya setiap anak punya dua ayah? Pengasuhku juga diam saja karena tidak mengerti harus menjawab bagaimana.

Sejak peristiwa itu aku semakin menyadari kalau keluargaku tidak seperti keluarga-keluarga yang lain. Karena aku punya Bapak dan papi.  Mereka dua orang yang berbeda. Secara biologis aku terlahir dari hubungan ibu dan papi. Tapi sampai aku dewasa seperti sekarang aku menganggap bapak sebagai ayahku juga.

Intinya, aku tumbuh dalam keluarga yang melakukan poliandri. Ya, kamu benar, poliandri adalah hal sangat tabu di Indonesia dan lebih dipandang negatif daripada poligami, dan aku akan menceritakan bagaimana rasanya tumbuh di sebuah keluarga yang melakukan praktik poliandri.

Aku tahu susunan keluargaku sangat tidak lazim di  Indonesia, karena sang ibu punya dua suami. Berbeda dengan poligami yang cenderung ditoleransi.

Sejak peristiwa yang membuat pengasuhku kikuk itu, ibu mengajakku bicara. Katanya tidak semua orang punya keluarga seperti keluargaku, jadi aku enggak boleh ngomong.

Aku diminta untuk tidak mengumbar cerita tentang keluarga pada orang lain, karena ibu khawatir akan memperoleh tanggapan negatif. Bahkan keluarga besarku tidak tahu kalau aku punya dua orang ayah. Masing-masing kakek nenekku mengira ibu hanya punya satu suami. Aku pun segera berjanji untuk merahasiakan dua sosok ayahku.

Tapi, namanya janji, tak selalu bisa ditepati. Suatu hari aku keceplosan. Saat itu aku kelepasan ngomong pada sepupuku yang juga sahabatku, kalau aku punya papi. Dan aku juga mengatakan pada sepupuku kalau papiku tinggal di tempat yang berbeda denganku.

Tapi, ternyata sepupu dan tanteku nggak kaget sama sekali saat mendengar informasi itu dariku.

Lama kelamaan aku merasa terbebani dengan rahasiaku yang punya dua ayah. Karena aku juga ingin seperti yang lainnya yang bisa leluasa bercerita tentang keluarganya pada siapa saja.

Karena selama aku tumbuh, bapak dan papi itu karakternya beda banget. kadang aku ngga tahan untu cerita tentang bapak ke teman-teman tapi aku enggak tahu bilangnya gimana. Jadi untuk menyamarkan identitas aku menyebut bapak sebagai Uncle atau Om.

Tapi pernikahan bapak dan ibu tidak bertahan lama. Saat aku remaja bapak dan ibu bercerai.

Sejak itu, aku lebih leluasa bercerita tentang keluargaku pada teman-teman.

Tapi karena bidang pekerjaanku dan bapakku masih terpaut, kami masih sering berinteraksi karena lingkaran sosial yang sama.

Saat bapak dan ibu bercerai, aku berkata “dah, kalian udah bubaran jadi aku bisa cerita ke yang lain”, tapi tentu saja dengan nada bercanda.

Sebagai seorang perempuan yang lahir dari sebuah keluarga yang melakukan poliandri, kami punya masalah tinggal serumah. Hal tersebut adalah hal yang paling sulit disiasati.

Senin sampai jum’at aku bareng bapak dan weekend aku bersama papi. Dan masalah benar-benar muncul saat papiku di pindah ke sektor migas luar negeri. Bapak dan papi ingin bersamaku. Jadi, ibu dan dua suaminya itu bertemu membahas jadwal kunjung anak perempuan mereka.

Papi making a deal sama bapak. Lebih tepatnya mereka bertiga making a deal. Papi berkata pada bapak “I want them to live with me too”, dan bapak juga mengatakan hal yang sama.

Akhirnya dicapai keputusan kalau papi boleh mengajak aku dan ibu ke luar negri jika aku sudah berumur 6 tahun dan saat aku berusia 13 tahun, papi harus membawaku kembali ke Indonesia untuk tinggal bersama bapak.

Kamu pasti berpikir itu benar-benar sangat aneh.

Ibuku sendiri, adalah sosok perempuan yang meyakini kalau hubungan poliandri bisa berjalan baik. tentu saja opini ibu sangat tidak lazim pada masanya.

Dulu, ketika mulai berpacaran dengan bapak, ibu memberitahu keinginannya yang tidak mau terikat dengan satu laki-laki saja.

Dia berkata pada bapak “Aku enggak pacaran cuma sama kamu, ada yang lain juga. Kalau dekat, ya kenalan aja lebih bagus.”

Dan bapak menerimanya. Selain itu tidak ada drama saat ibuku menjalin cinta dengan dua laki-laki sekaligus.

Hubungan bapak dan papi juga baik. mereka berteman dengan baik. Mungkin karena sudah ada aturan main yang disepakati oleh mereka bertiga.

Papiku sendiri adalah orang keturunan Tionghoa dan beragama Kristen, sedangkan ibuku beragama Islam. Karena beda agama, rencana pernikahan mereka berdua tidak disetujui oleh kakek dan nenekku. Lalu mereka berdua memutuskan untuk tinggal serumah secara diam-diam. Tapi, pada satu titik, ibu setuju menikah dengan bapak yang seagama. Hubungan ibu dan Papi akan diakhiri. Tiba-tiba bapak dan ibu bertengkar hebat. Lalu ibuku memutuskan untuk pergi dan kawin lari dengan papiku.

Tapi beberapa bulan kemudian, ibu dan bapak berbaikan, kemudian mereka menikah juga.

Itu adalah awal aku bisa punya dua ayah.

Aku sendiri nggak begitu paham bagaimana mereka melakukan itu. Tapi mereka bilang kalau mereka punya surat nikah. Ibu dan papi punya surat nikah yang menerangkan kalau mereka berdua katolik. Sedangkan bapak dan ibu punya surat nikah yang dua-duanya beragama islam.

Di keluargaku, berdiskusi selalu dilakukan untuk menyepakati banyak hal. kata ibu harmoni merupakan kata kunci agar keluarga kami baik-baik saja. semua keputusan pasti melibatkan ibu dan dua ayahku.

Salah satu contohnya adalah bila salah satu suami sedang tidak bersama ibu dan aku, maka kedua ayahku diizinkan untuk berpacaran dengan orang lain. Bapak dan papi punya kewajiban untuk berkomunikasi kalau jatuh cinta pada perempuan lain. Pantang bagi ibu mendengar kabar perselingkuhan dari orang lain. Intinya adalah komunikasi dan terbuka adalah dua hal yang paling penting.

Jadi misalnya mau bercerai bisa dengan cara baik-baik.

Dulu saat aku dan ibu pindah ke luar negeri bapak mulai jalan dengan perempuan lain, tapi itu juga terbuka. Sedangkan papiku, selama ini hanya dengan ibuku saja.

Berkaca pada dirinya sendiri, ibuku mempersilakan aku untuk menjalani poliamori jika memang aku tertarik. Dimataku ibu adalah perempuan berpikiran paling terbuka yang pernah aku temui.

Sejak aku kecil dia selalu bilang padaku bahwa tidak apa-apa kalau aku mau pacaran dengan lebih dari satu orang. Menurutnya itu malah bagus karena lebih banyak pilihan. Aku bisa menjalani relationship with other people, biar nanti aku bisa memilih mana yang cocok.

Tapi, lucunya, ibu menegaskan padaku kalau menikah harus dengan orang yang satu agama atau setidaknya mengupayakan agar surat nikah satu agama harus diutamakan.

Pandangan itu sebenarnya sangat membuatku heran, karena ibuku terhitung liberal. Iya kan? Ibuku menikah dengan orang islam, kenapa dia juga harus nikah dengan orang kristen?

Tapi satu hal yang aku yakini sampai aku dewasa, aku tumbuh besar di keluarga poliandri dan aku tidak mendapati masalah yang berarti. Ibu, bapak, dan papi sama-sama bahagia. Dan aku merasa keputusan ibu menikahi bapak dan papi dalam satu waktu berperan besar dalam keharmonisan keluarga kami.

Aku malah tidak yakin keluargaku bisa bertahan jika tak pernah ada dua ayah dalam keluargaku.

Jadi kupikir, misalnya dalam sebuah pernikahan seperti itu akan selalu ada yang selingkuh, menurutku harusnya sih manusia enggak monogamous. It’s not part of our nature.

Jadi, menurutmu apakah aku akan mengikuti jejak ibuku atau tidak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here