Ibu, Maafkan Aku yang Selalu Membuatmu Banjir dengan Air Mata

0
38

Aku tumbuh seperti kebanyakan remaja pada umumnya yang bandel dan senang haha hihi kesana kemari. Aku merasa masa remaja adalah masa-masa aku bebas melakukan apa saja tanpa batas, tanpa peraturan-peraturan konyol seperti anak kecil yang ketika pulang sekolah harus langsung mengerjakan PR dan tidur siang. Dan aku bukan lagi gadis kecil orangtuaku.

Bandel dan keras kepala adalah dua hal yang melekat kuat di dalam diriku. Aku termasuk kategori anak yang tidak patuh terhadap orang tua. Terutama ibuku. Dan oh ya satu lagi, aku benci ibuku. Sangat. Bagiku, ibu adalah sosok perempuan yang luar biasa menyebalkan. Dia adalah wanita yang senang sekali mengatur hidupku. Dan hobi banget ngurusi urusan-urusanku.

Tak jarang pertengkaran meledak di antara kami. Kami benar-benar contoh ibu dan anak yang tidak cocok. Ibu itu sering banget apa tuh istilahnya kalau jaman sekarang? Baperan? Ya itu, ibuku sangat baperan. Dikit-dikit nangis. Dia tuh perempuan paling cengeng yang pernah aku temui. Menurutku cengeng sama dengan lemah, dan aku tidak suka itu. Aku tidak suka wanita yang lemah, itu menjadi sebab aku dan ibu tidak pernah akur.

Hubungan kami tidak membaik, bahkan sampai aku lulus kuliah. Episode perjalanan hidupku terus berlanjut, setelah lulus kuliah aku mendapatkan pekerjaan. Di situ aku semakin merasa bahwa aku bisa hidup sendiri. Aku putuskan untuk pergi dari rumah, aku benar-benar sudah tidak nyaman dengan semua sikap ibu. Siapa sih yang bakal betah dan nyaman di rumah, kalau kamu punya ibu yang seneng banget membatasi ruang gerakmu?

Waktu aku pergi dari rumah, ibu dengan sifat cengengnya menangis, dia meneteskan air mata yang aku tahu sebagai air mata kekecewaan. Aku, gadis kecilnya dulu, yang kini menjelma menjadi perempuan dewasa dengan tega meninggalkan ibu, ayah, dan keluarga.
Yang kupikirkan adalah, aku bisa kok tanpa mereka. Aku benar-benar tidak peduli dengan rasa sakit dan kecewa yang ibu rasakan. Salahnya sendiri kenapa begitu senang mengganggu hidupku. Emang susah gitu ya biarin aku bebas?

Dalam sepekan, aku pulang ke rumah. Tapi ketika berada di rumah, aku tidak pernah mengobrol dengan orangtuaku dan keluargaku. Aku menikmati kesendirianku di kamar. Aku benar-benar menjelma sebagai manusia yang tidak peduli dengan keberadaan mereka. Tingkahku, tentu saja akan selalu menjadi alasan ibuku menangis. Tapi, siapa peduli?

Bertambah umurku, sikapku terhadap ibu tidak berubah. Aku masih bersikap dingin terhadap ibu.

Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria. Aku jatuh cinta padanya. Siapa sih yang tidak jatuh cinta, jika pria itu sosok baik hati, setia, dan sangat dewasa? Laki-laki itu sukses membuat hatiku tidak berpaling pada lelaki mana pun. Dan yang membuatku semakin bahagia adalah dia juga mencintaiku. Whohoo.. bisa kamu bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Wah, aku benar-benar bahagia.

Karena kami saling mencintai, kami memutuskan untuk menikah. kami sudah sama-sama dewasa dan kami sudah layak menikah. Tapi sayangnya, kisah cinta kami bukan kisah cinta di cerita-cerita dongeng. Hubungan kami ditentang dari kedua belah pihak keluarga.
Kebencianku terhadap ibu semakin menjadi. Aku hanya ingin bahagia, bu! Kenapa tidak boleh?

Hubunganku dengan orang yang aku cintai bertahan beberapa tahun. Tapi, takdir berkata lain, laki-laki yang aku cintai itu, laki-laki yang selalu aku harapkan untuk hidup bahagia denganku dipanggil Tuhan. Dia mengalami kecelakaan dan tidak bisa diselamatkan. Saat itulah, aku berada di titik hancur sehancur-hancurnya. Aku merasa sudah tidak ada harapan lagi.

Aku merasa hidupku berubah menjadi gelap dan tanpa harapan. Namun, ibu dengan kelapangan hatinya, memeluk, mencium, dan merangkul anaknya yang dari dulu selalu mengecewakannya. Dia tak banyak berucap. Dia hanya mendekat lalu menyeka air matanya yang jatuh melihat keadaanku yang hancur. Aku seperti melihat kesakitan dibalik mata teduhnya. Ibu… yang merasakan kehancuran aku, kenapa engkau terlihat lebih hancur dariku?

Saat aku terbaring dan tak memiliki harapan hidup, aku selalu menemukan ibu tengah berdoa dan meneteskan air mata. Dalam doa yang ia panjatkan, namaku ia sebut dengan lirih.

Aku merasa hatiku terasa hangat. Air mataku jatuh. Ya, Tuhan… lihatlah sosok wanita yang tengah berdoa itu! Dia ibuku. Wanita yang selalu aku kecewakan, wanita yang selalu aku anggap manusia paling menyebalkan, ternyata dia adalah malaikat tanpa sayap yang sudah Engkau turunkan untukku. Aku bangkit dari keterpurukan yang menjeratku. Aku tahu, ibu akan selalu berada di sampingku. Entahlah, aku jadi merasa lebih nyaman di dekat ibu, ibu sekarang lebih membiarkanku bebas menentukan arah dan tujuanku sendiri.

Semakin hari, hubunganku dengan ibu membaik. Aku semakin dekat dan nyaman dengan ibu. aku merasa… lebih bahagia.

Singkat cerita aku menikah dan hamil. Saat tiba waktunya aku melahirkan anak pertamaku, aku merasa ibu juga turut serta dalam perjuangan itu. Aku mengalami fase sakitnya kontraksi, uuh… benar-benar menyakitkan. Ibuku berperan sangat penting dalam kelahiran anak pertamaku. Dia perempuan, yang dulu aku bilang lemah, ternyata adalah perempuan paling sigap yang pernah aku temui. Aku merasa bahwa ibu juga ikut serta merasakan rasa sakitnya aku mau melahirkan.

Aku jadi paham satu hal. Perjuangan seorang ibu tidaklah mudah. Kini aku sadar, ibu adalah sosok wanita yang sangat luar biasa. Luar biasa penuh maaf dan luar biasa penuh cinta. Aku semakin sayang pada ibuku. Untuk pertama kali dalam hidupku aku benar-benar takut kehilangan beliau. Karena aku baru menyadari betapa banyak rasa sakit yang aku torehkan pada ibu. dan aku juga baru menyadari betapa sakitnya perjuangan melahirkan seorang anak. Ya Tuhan… dan aku pasti tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikannya padaku. Beri aku kesempatan membalasnya, ya Tuhan.

Cintai ibumu. Kamu tidak pernah tahu, dibalik sikap yang kamu anggap menyebalkan dari ibumu itu, sebenarnya beliau sedang menunjukkan rasa cintanya padamu.

Rasa cinta kasihnya dulu justru aku anggap sebagai kebencian. Berapa kali sudah aku membuatnya kecewa, sakit hati, dan menangis. Ibu dan keluarga adalah tempat kembali.

Ibu… maafkan aku dulu yang selalu menyakitimu. Maafkan aku yang pernah menorehkan rasa kecewa. Maafkan aku yang belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.

Ibu… doa dan harapanku, semoga engkau selalu diberi kesehatan, panjang umur, dan kebahagiaan. Beri aku kesempatan membalas semua kebaikan dan pengorbananmu selama ini. Walau aku tahu dunia dan seisinya tidak akan mampu menggantikan kebaikanmu bagi anak-anakmu.

Ibu, kali ini takkan kubiarkan air mata jatuh menetes di pipimu karena kesedihan, tapi akan aku biarkan tetesan air matamu jatuh karena kebahagiaan. Ibu, ribuan lembar halaman pun tak akan sanggup menampung ungkapan rasa bangga, cinta, dan sayangku padamu. Terima kasih pahlawanku, pahlawan tanpa tanda jasa, ibuku sayang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here