Ibu Lebih Memilih Meninggalkanku dengan Mendonorkan 4 Organ Tubuhnya

0
41

Aku dan ibu hanya tinggal berdua. Hidup kami pas-pasan sejak kepergian ayahku. Ayah meninggalkan aku sejak aku masih berumur 5 tahun, dan dia juga sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Aku sudah tidak tahu bagaimana kabar ayahku, dia seperti menghilang.

Aku dan ibu tinggal di desa.

Di desaku, ibu disenangi oleh para tetangga kami. Kata mereka ibu itu orangnya baik hati dan dermawan.

Walaupun kata orang-orang ibuku sangat baik dan dermawan, tapi menurutku ibu adalah sosok yang keras dan agak kuno, dan aku rasa dia tidak menyayangiku.

Aku sering berbeda pendapat dengan ibu.

Bagi ibu, seorang perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena akan berujung sibuk di dapur. Kukatakan padanya kalau pemikiran itu hanya untuk orang-orang yang tidak ingin maju.

Lalu, ibu akan membentakku. Dia akan mendiamkanku. Dan aku juga akan ikut mendiamkan beliau.

Bagiku, ibu adalah orang yang bisa bersikap lembut pada orang lain tapi tidak bisa lembut padaku.

Aku sendiri tidak tahu kenapa ibu bersikap keras padaku. pernah terlintas di pikiranku, mungkin aku ini bukan anak kandungnya.

Tapi, sepertinya itu tidak mungkin, karena kami punya bentuk mata yang sama dan kami sama-sama tidak suka makan ikan lele.

Setiap kali aku dan para pemuda di desa rapat, dia selalu bilang padaku kalau aku hanya buang-buang waktu.

Setiap kali aku lebih senang mendekam di kamar sibuk membaca buku dan belajar, dia akan mengatakan padaku kalau semua yang aku pelajari tidak akan pernah terpakai.

Rasanya semua yang kulakukan tidak ada yang benar di matanya. Tidak jarang, kami beradu teriak hanya karena masalah sepele.

Aku sangat kesal karena punya ibu yang berpikiran sempit.

Pernah suatu hari, aku inisiatif membuat ibu senang, aku belajar memasak dan membuatkan masakan kesukaan beliau. Padahal aku sangat benci dengan dapur, aku tidak suka memasak.

Tahukah kamu bagaimana reaksinya?

di cicipi satu sendok dan bilang, ‘ini akibatnya kalau kamu terlalu senang menghabiskan waktu untuk rapat dan belajar, masakanmu nggak jelas begini. Perempuan itu harus bisa masak’. Dia bahkan tidak menghargai usahaku, dia tidak mau makan lagi hasil masakanku, alhasil aku yang makan sendirian.

Di mataku, ibu tak punya sisi baik. dia terlalu keras hati untukku.

Sampai tiba waktunya aku lulus SMA dan aku lolos dalam seleksi beasiswa kuliah di luar kota. aku sangat senang, itu artinya aku akan keluar kota dan meninggalkan ibu.

Saat aku bilang pada ibu, kalau aku lolos seleksi beasiswa, reaksi ibu benar-benar sangat mengcewakan, dia tak memelukku atau menciumku dan mengucapkan selamat karena aku berhasil mengalahkan ribuan orang yang juga mendaftar beasiswa.

Dia hanya terdiam tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Keesokan harinya aku pergi dengan meninggalkan sepucuk surat. Yang berisi sebaris kalimat, ‘Ibu aku berangkat. Ibu jaga diri baik-baik.’

Memang terdengar agak kejam, aku anak beliau satu-satunya, tapi malah meninggalkan beliau seorang diri di rumah.

Tapi, aku tetap nekat berangkat ke kota untuk kuliah. Toh, ibu tak pernah menyukaiku, jadi dia tidak akan pernah merasa kehilangan aku, padahal aku anak kandungnya, pikirku begitu.

Di kota, aku mengambil program strata satu. Sambil kuliah, aku mencari pekerjaan paruh waktu.

Saat liburan semester aku bimbang, apakah aku akan pulang atau tetap tinggal di kos-an. Pulang ke rumah, aku takut tak disambut baik oleh ibuku, tapi jika tidak pulang aku sendirian di kos-an.

Tapi, aku memilih untuk pulang. aku mengabari lewat tetanggaku yang punya hp agar menyampaikannya pada ibu. Aku tidak tahu reaksi ibu saat itu seperti apa.

Tibaku di rumah, sikapku sangat canggung pada ibu. Dalam hati bertanya-tanya, apakah ibu masih marah padaku dan apakah ibu masih menganggap aku anaknya.

Tapi ibu masih seperti dulu, dia tetap ibu yang sangat keras. Saat aku menuju meja makan, aku melihat ada banyak masakan terhidang di meja dan semuanya adalah kesukaanku.

Perasaanku sedikit menghangat. Ibu pasti menyiapkan semuanya sendiri.

Lalu aku pergi meletakkan barang-barangku di kamar. Aku melihat kamarku yang sudah setahun tidak aku tinggali.

Sangat bersih dan rapi. Buku-bukuku juga masih aman, belum dibuang oleh ibu.

Aku ingin bertanya pada ibu, tapi aku terlalu malu.

Jadi aku memilih untuk diam.

Selama liburan aku dan ibu saling diam. Mungkin beliau masih kecewa dengan sikapku, sedangkan aku sendiri masih terlalu takut untuk memulai.

Sikapku dan sikap ibu tidak mencerminkan hubungan ibu dan anak perempuan yang harmonis.

Di kampus kadang aku iri dengan teman-temanku yang bercerita tentang kedekatan mereka dengan ibu mereka.

Saat bersama mereka, rasanya aku seperti terlahir dari planet yang berbeda.

Setelah liburanku selesai, aku mencoba memberanikan diri untuk berpamitan dan mencium tangan beliau.

Ibu tetap diam, tapi ia mengulurkan tangannya.

Begitu terus selama empat tahun, aku tahu, mungkin aku masuk golongan anak durhaka, tapi ibu yang membuatku bersikap seperti itu.

Sampai suatu hari, setelah aku selesai sidang skripsi, aku ditelpon oleh tetanggaku di desa.

Dia mengabarkan padaku bahwa ibu sakit parah dan ingin bertemu denganku.

Aku kaget. Mana mungkin ibu sakit? Ibu kan orang yang snagat energik. Bahkan dia selalu bekerja sampai malam di ladang, karena baginya waktu adalah uang.

Tapi, aku tetap pulang. biar bagaimana pun dia ibuku dan aku masih peduli dengannya, aku anaknya satu-satunya.

Tiba di rumah, untuk pertama kalinya dalam hidupku, ibu tersenyum padaku.

Dia memintaku untuk mendekat.

Saat aku mendekat, dia berbisik kalau dia sangat merindukan aku. Dia juga bilang kalau dia sangat kesepian saat aku pergi.

Saat mendengarnya, aku menitikkan air mata. Lalu aku memeluknya.

Aku bertanya padanya ‘sejak kapan ibu sakit?’

Dan ibu menjawab ‘sejak kamu lolos beasiswa dan memutuskan untuk mengambil beasiswa itu. Saat itu ibu bingung, apakah ibu akan mengatakan penyakit ibu padamu atau ibu memendamnya saja. tapi, ibu memilih untuk memendamnya saja, karena ibu yakin, sebenci apa pun kamu pada ibu, kamu tidak akan tega membiarkan ibu sendirian di rumah dalam keadaan sakit dan itu sama artinya dengan kamu yang mengubur mimpi-mimpimu, ibu mau kamu mengejar mimpimu’.

Aku terdiam. Tahu darimana ibu kalau aku dulu sangat membencinya?

Kulihat tubuh ibu, kuperhatikan dia semakin kurus dan terlihat sangat lemah.

Dengan sisa tabungan yang aku punya, aku membawanya ke rumah sakit. Awalnya ibu menolak tapi aku memaksa dan akhirnya ibu setuju.

Saat mendengar penjelasan dokter, aku sangat terkejut.

Ibu menderita diabetes dan dia butuh transplantasi ginjal dan pankreas. Aku sangat terpukul. Bagiku ini berita yang sangat menyakitkan, hubungan kami baru saja membaik dan kami harus dihadapkan dengan kenyataan kalau usia ibu tidak lama lagi kecuali ada orang yang mau sukarela mendonorkan organ mereka, dan aku yakin dana yang dibutuhkan ibu untuk sembuh juga sangat banyak.

Aku mau-mau saja mendonorkan organ tubuhku, tapi kami tak punya banyak uang untuk biaya operasi.

Ibu menatapku prihatin.

Lalu dia berkata, ‘Ayo nak. Kita pulang saja.’ dan aku menuruti keinginannya. Aku memapah ibuku menuju kursi roda dan mendorongnya. Saat aku sedang asyik melamun, ibu memintaku untuk membelikan ia air mineral, dia bilang dia sangat haus.

Aku putar arah, membawanya ke kantin rumah sakit.

Saat berjalan di lorong rumah sakit, aku dan ibu mendengar bahwa ada 4 orang yang membutuhkan donor organ tubuh.

Aku perhatikan ibu yang mendengarkan para dokter dan keluarga pasien yang berdiskusi.

Setelah diskusi mereka selesai, ibu memegang tanganku dan memintaku untuk putar arah menemui dokter yang tadi berdiskusi dengan pasien yang butuh donor organ tubuh itu.

Tanpa kuduga, ibuku mengatakan pada dokter itu kalau dia mau mendonorkan organ tubuhnya untuk empat orang itu.

Aku menolak dengan keras permintaan ibu.

Tapi, ibu, untuk pertama kali dalam hidupku, dengan senyum dan tatapan teduhnya berkata pelan, ‘ibu ingin di sisa umur ibu yang sudah tidak lama lagi ini, ibu menjadi orang yang bermanfaat, waktu ibu sudah habis, sayang. Ibu sangat menyayangimu tapi waktu ibu tidak banyak, ibu ingin melakukan sesuatu, kalau ibu tidak bisa selamat, maka orang lain harus selamat karena ibu’

Saat mendengarnya aku menangis sesenggukan.

Ya, Tuhan…

Ternyata selama aku sudah salah sangka pada ibuku sendiri.

Lalu dengan berat hati aku merelakan keputusan ibu. Dan para dokter segera menyiapkan jadwal operasi.

Setelah berdiskusi sebentar dengan para dokter itu, ibu mengatakan keinginan terakhirnya padaku.

‘ibu ingin jalan-jalan denganmu, sayang. Kapan terakhir kita jalan berdua bersama?’

Saat itu mataku sudah bengkak karena terus menerus menangis.

ibu memintaku untuk mengajaknya ke pasar malam. Sambil mendorong kursi dorongnya, wajah ibu tak lepas dari senyum lebar.

Dia berkata padaku untuk tersenyum dan menghapus air mata yang terus mengalir di pipiku.

Kondisinya yang sangat lemah hanya membuat kami menjadi penikmat pemandangan pasar malam, tapi bagi ibu itu sudah lebih dari cukup. Baginya bisa melewatkan satu hari bersamaku tanpa beradu teriak dan tidak melihat mataku yang penuh rasa benci padanya itu sangat membahagiakan.

Keesokan harinya, aku dan ibu datang lagi ke rumah sakit.

Kami harus menjalani rangkaian prosedur kesehatan dan tanda tangan macam-macam.

Sebelum masuk ruang operasi ibu memintaku untuk mencium dan memeluknya dan dia bertanya padaku apakah aku menyayanginya.

Aku langsung menangis sesenggukan saat mendengar pertanyaannya.

‘aku sangat mencintaimu ibu.’

Dan ibuku tersenyum lalu berkata ‘berjanjilah pada ibu kalau kamu akan selalu jadi anak yang kuat’

Aku mengangguk.

dua hari kemudian ibu meninggal. Dia pergi setelah dia mendonorkan hati, jantung dan paru-parunya untuk orang lain.

Jujur saja aku sangat sedih tapi aku juga bangga pada ibuku.

Dia seorang ibu berhati emas.

Semua tetanggaku yang datang di hari pemakaman ibu menangis dan memelukku, mereka juga bilang kalau ibu adalah orang yang sangat baik, walaupun dia tidak punya uang dia selalu mau membantu orang-orang yang kesusahan.

Dan yang paling membuatku terharu adalah, saat tetanggaku bilang bahwa ibu sangat bangga padaku. setiap kali bertemu orang-orang di sawah, ibu akan selalu membicarakan aku, mengatakan pada semua orang bahwa aku akan menjadi orang hebat, dan saat tahu aku akan pulang saat liburan, ibu langsung sibuk bilang pada para tetangga kalau aku akan pulang dan langsung sibuk mencari semua bahan masakan untuk membuat makanan kesukaanku.

Ternyata dibalik sifat kerasmu padaku, kau sangat menyayangiku, bu. Darimu aku belajar, kalau hidup harus bisa menjadi berguna untuk orang lain.

Percayalah, aku sangat menyesal tidak menemanimu di saat-saat terakhir.

Itulah kisahku, semoga kamu tidak mengalami hal yang sama denganku. dan pesanku untukmu, sekeras apapun orangtuamu, percayalah kalau itu adalah wujud rasa sayang yang bisa mereka perlihatkan padamu demi kebaikanmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here