Hidupku Hancur Gara-Gara Diperbudak Cinta dan Nafsu

0
39

Halo, namaku Risa. Hari ini aku ingin membagikan kisah cintaku yang membawaku pada perubahan.

Kisahku berawal pada tahun 2010, saat aku mengenal seorang laki-laki dari dunia maya. setelah enam bulan lamanya kami dekat di dunia maya, lalu kami memutuskan untuk saling bertemu karena kebetulan juga kami berada di kota yang sama.

Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku merasa kalau dia adalah laki-laki yang baik, dia sangat baik di depanku dan keluargaku.

Saat aku butuh dia, dia akan selalu ada untukku. dia juga selalu memanjakanku dengan hadiah-hadiah kecil yang kadang membuat hatiku berbunga-bunga.

Setelah satu tahun dekat tanpa status apa-apa, dia akhirnya menyatakan cinta padaku. tentu saja, aku nggak usah mikir lama, aku langsung menerima cintanya.

Iya, kami resmi jadian. Rasanya hidupku terasa sempurna.

Tapi, sebulan kemudian, saat aku dan dia sedang menghabiskan waktu bersama di taman, seorang perempuan mendatangi kami. Aku sangat kaget, karena perempuan itu mendekati kami sambil menangis. Lalu dengan sopan perempuan itu meminta izin untuk berbicara empat mata dengan pacarku.

Aku hanya bisa bisa melihat dari jauh saat mereka berdua berbicara, dan aku meliat perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Jujur saja aku sangat penasaran. Apa sih yang mereka bicarakan?

Setelah beberapa menit, pacarku berjalan kembali ke arahku tapi di belakang pacarku perempuan itu mengekor.

Kemudian perempuan itu dengan wajah yang sudah penuh airmata, bertanya dengan sopan padaku, apakah aku pacar dari laki-laki yang baru saja ia ajak bicara? Dengan agak ragu aku mengangguk, lalu tangisan perempuan itu semakin keras. Karena bingung, aku bertanya padanya, “kenapa?”, sebelum perempuan itu pergi dia menjawab bahwa dia adalah perempuan yang sudah 6 tahun menjadi pacar pacarku dan sudah 6 bulan terakhir pacarku menghilang tanpa kabar.

Mendengar itu, aku seperti disambar petir. Aku sangat terkejut. Laki-laki yang sudah dekat denganku setahun terakhir dan sudah berhasil mencuri hatiku dan juga keluargaku dengan semua kebaikannya ternyata sudah menjadikan aku selingkuhannya.

Aku langsung menuntut penjelasan pada pacarku. Ya, dan pacarku mengakuinya. Dia  langsung bersimpuh di depanku dan minta maaf. Dia berjanji akan mengakhiri hubungannya dengan perempuan tadi dengan cara baik-baik.

Waktu itu mungkin aku benar-benar sangat bodoh, aku memaafkannya. tanpa aku sadari aku sudah mneyakiti perempuan tadi dan sepertinya aku juga harus bersiap-siap dengan karma di masa depan nanti.

Setahun kemudian, hubunganku dengan pacarku semakin baik. kami sangat bahagia. Keluargaku sangat menyukai dia begitu juga dengan keluarga dia, mamanya sangat merestui hubungan kami.

Sampai tanpa kami sadari, kami sudah melangkah terlalu jauh.

Kami terjerumus dalam dunia pergaulan bebas. Awalnya kami hanya mencoba-coba, tapi… lama kelamaan kami melakukannya secara terus menerus. Sampai kami melakukan hubungan yang seharusnya belum boleh kami lakukan. iya, aku melepas kehormatanku untuk dia.

Beberapa bulan kemudian, pada akhir tahun 2011, dia mendapatkan teguran. Dia di PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja dengan alasan korupsi. Mungkin sampai di titik ini Allah sedang membuka mataku, tapi aku terlalu keras kepala, aku terlarut dalam kebahagiaan semu yang pacarku ciptakan.

Karena masalah itu, aku mencoba menjadi pacar yang baik. aku mencoba untuk menasihatinya dan memintanya berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi jika nanti ia mendapatkan pekerjaan baru.

Masalah dia tidak hanya di PHK, tapi dia juga tersendat masalah angsuran motor yang nominal per bulannya cukup besar di mata orang sepertiku yang notabene hanyalah seorang penjaga toko saat itu.

Dan bodohnya aku, aku malah bersikap sok pahlawan. Untuk membuatya yakin padaku bahwa aku benar-benar tulus padanya dan tidak akan meninggalkan dirinya saat dia sedang susah, aku menawarkan diri untuk membantunya membayar angsuran sepeda motornya, yang tentu saja tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku.

Meskipun saat aku mengatakan itu, dia bersikap enggan menerimanya, tapi aku memaksanya.

Angsuran bulan pertama dan kedua, dia masih menunjukkan sikap enggan menerima bantuanku, tapi mulai memasuki bulan ketiga dan seterusnya, dia mulai menunjukkan sifat aslinya, dia mulai bersikap kasar. Dia akan marah-marah kalau aku belum menyediakan uang saat tanggal jatuh tempo angsuran. Dan perlakuannya buruknya terjadi sampai angsuran ke-10, setelahnya pihak keluarganya yang memutuskan untuk melunasi sisanya.

Dan sejak aku mulai membantunya membayar angsuran, aku hanya bisa menikmati sisa gajiku yang tidak seberapa. Ditambah lagi dengan keadaannya yang tidak bekerja, jadinya aku yang harus rela mengeluarkan uang untuk setiap pertemuan kami. Iya, kamu nggak salah dengar, SETIAP pertemuan kami.

Lalu pada akhir tahun 2012, aku ditemani dia mencoba untuk mencari pekerjaan baru, aku melamar di sebuah perusahaan dan alhamdulillah aku diterima.

Aku bekerja disana, dan dia masih belum juga bekerja. Aku sudah mencarikan dia berbagai info lowongan pekerjaan, tapi dia selalu menolak dengan alasan kerjanya berat dan gajinya kecil. Baiklah, mungkin dia memang maunya yang sesuai dengan bidangnya. Aku mencarikan dia pekerjaan yang kurasa sesuai dengan apa yang dia mau, aku membuatkan lamaran dan semuanya aku yang menyiapkan dan memasukkan pada beberapa perusahaan, tapi saat dia dipanggil untuk tes wawancara, dia tidak pernah hadir.

Aku mulai lelah dan rasanya mau menyerah.

Sampai pada tahun ketiga hubungan kami, dengan di tahun kedua yang menguji kesabaranku karena aku harus berpacaran dengan pengangguran, lalu pada pertengahan tahun 2013, aku mulai menanyakan kejelasan hubungan kami.

Karena kupikir, akan kemana hubungan kami jika calon suamiku tidak bekerja. Tapi saat aku bertanya baik-baik padanya, dia malah marah-marah dna membentakku sejadi-jadinya dan mengucapkan kata putus dengan sangat keras.

Diperlakukan seperti itu, aku langsung menerima keputusannya. Aku membulatkan tekad untuk meninggalkan dia.

Setelah putus dari dia, beberapa bulan kemudian aku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di kantorku. Yang statusnya adalah adik dari si bos. Tentu saja dengan suku, keyakinan dan standar hidup yang berbeda denganku. hubungan kami tidak bertahan lama. pada akhir tahun 2013, kami memilih untuk jadi teman dekat saja, daripada hubungan kami tidak jelas akan berakhir bagaimana.

Lalu pada awal tahun 2014, mantan pacar datang lagi. Dia berusaha untuk bisa masuk ke dalam hidupku lagi.

Saat menemuiku, dia berkata kalau dia sangat menyesal atas perlakuannya dulu padaku dan saat ini dia sudah mendapatkan pekerjaan lagi. Aku mencoba untuk melihat keseriusan di wajahnya.

Tidak… tidak… aku tidak akan kembali dengannya lagi. Awalnya aku menolak ajakannya untuk kembali menjalin hubungan. Wajar kan? Aku takut kalau kejadian dulu terulang lagi.

Tapi, setelah 3 bulan dia benar-benar mengejarku terus menerus, dia mengatakan padaku kalau dia akan melamarku. Dan akhirnya pertahananku runtuh, aku menerima dia kembali menjadi pacarku.

Dan bulan Mei tahun 2014, dia membuktikan ucapannya dengan langsung mengatakan pada kedua orangtuaku bahwa dia akan melamarku secara resmi dan akan menikahiku.

Saat itu, aku benar-benar dipenuhi dengan kebahagiaan. Dalam hati kecilku berkata akhirnya perjuanganku selama ini untuknya tidak sia-sia.

Lalu pada awal juli tahun 2014, tepatnya saat hari raya idul fitri, aku bertanya apakah pada hari raya pertama dia akan berkunjung ke rumahku, karena idul fitri tahun sebelumnya dia mengunjungi keluarga besarku di hari pertama, dia menjawab kalau dia tidak bisa berkunjung di hari pertama karena dia sedang akan berkunjung ke rumah keluarganya yang ada di luar kota.

Di hari kedua hari raya, dia membawaku ke rumahnya.

Saat itu aku iseng membuka-buka HP-nya, lebih tepatnya HP-ku yang aku pinjamkan ke dia karena kata dia HP-nya sedang rusak, aku melihat ada sms yang dikirimkan pada seorang perempuan dengan sangat mesra. Tentu saja aku langsung emosi. Wajahku merah karena marah. aku langsung minta penjelasan padanya, bahkan aku sampai membanting HP itu sambil berteriak kalau aku tidak meminjamkan HP itu untuk melancarkan hubungannya dengan selingkuhannya.

Dan dia mengakuinya bahwa perempuan itu adalaah selingkuhannya. Dia sudah menjalin hubungan sebulan setelah dia menyatakan keseriusannya padaku dan orangtuaku dan alasan sebenarnya dia tidak datang di hari raya pertama adalah karena dia menemui perempuan itu.

Aku sudah tidak bertanya-tanya lagi, aku sangat sedih sekaligus marah. aku langsung pergi dari rumahnya dengan berjalan kaki sampai setengah jam kemudian baru mendapat kendaraan umum.

Hatiku benar-benar hancur, remuk, kecewa, aku sedih, terlalu sedih sampai rasanya aku nggak bisa nangis lagi.

Keesokkan harinya dia meenghubungiku, dan aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tapi disana aku tidak bertemu dengannya, dia tidak ada di rumah. Jadi aku memutuskan untuk berbincang-bincang dengan mamanya.

Dari obrolanku dengan mamanya, aku mengetahui satu fakta, bahwa kira-kira sebulan setelah dia melamarku dia kembali di PHK dan dengan alasan yang sama seperti dulu dia di PHK, ya, dia di PHK karena korupsi.

Beberapa waktu kemudian, datang seorang perempuan. Yang akhirnya aku ketahui bahwa perempuan itu adalah selingkuhannya. Aku menahan diri untuk tidak marah.

Kami bertiga akhirnya berbincang-bincang. Mama pacarku dengan lantang mengatakan kalau dia hanya mengakui aku sebagai pacar anaknya.

Sudah berjam-jam kami membicarakan masalah itu, tapi yang kami tunggu tidak kunjung pulang.

Aku memutuskan untuk pulang.

Hingga malam harinya, dia menelponku, dia menangis dan minta maaf, dia bilang padaku dia tidak bisa meninggalkan aku tapi juga tidak bisa melepaskan selingkuhannya.

Aku mulai diserang rasa takut, aku takut bagaimana reaksi keluargaku jika tahu laki-laki yang sudah menyatakan keseriusannya untuk menikah denganku ternyata tidak jadi menikahiku. Aku takut dengan tanggapan semua orang. Aku takut, aku sudah melepas kesucianku untuk laki-laki yang tidak akan jadi suamiku. Bahkan karena ketakutanku yang teramat besar, aku takut untuk shalat, aku takut berdoa, aku takut menghadapi kenyataan jika dia bukan jodoh yang Allah siapkan untukku.

Tiap malam aku menangis, aku tidak nafsu makan sampai berat badanku turun drastis, bahkan aku sempat punya pikiran untuk bunuh diri. tiga bulan setelah kejadian itu aku memperjuangakn dia, aku berusaha kuat menghadapi kenyataan saat aku datang ke rumahnya dia sedang bersama selingkuhannya.

Aku bahkan dengan terang-terangan menumpahkan air mata saat aku menemuinya, tapi dia masih dengan seperti yang dulu ia katakan padaku kalau  dia tidak bisa memilih antara aku dan selingkuhannya.

Selingkuhannya itu bahkan tidak sekali dua kali menghubungi aku untuk melepaskan pacarku. Sampai akhirnya pacarku mengatakan kalau diantara kami ada yang bisa membuatnya terlepas dari jerat hutang kantor lamanya dia akan menikahi perempuan itu.

Dan bodohnya aku, aku langsung mempercayai begitu saja ucapannya, aku langsung pinjam uang dengan pihak kantor dan malamnya aku berikan pada pacarku.

Tapi meskipun sudah seminggu berlalu aku memberikan uang itu, aku belum dapat kejelasan. Jadi aku memutuskan untuk menanyakan kejelasannya, karena yang aku tahu walaupun aku sudah melakukan apa yang dia mau, dia masih bertemu dengan selingkuhannya.

Dan ternyata dia masih tidak bisa mengambil keputusan, dia masih belum bisa melepaskan selingkuhannya karena dia benar-benar mencintai selingkuhannya. Dan dengan tidak tahu malunya dia berani membanding-bandingkan aku dengan selingkuhannya, katanya selingkuhannya jauh lebih baik daripada aku.

Akhirnya aku aku memberanikan diri untuk mengambil keputusan. Aku membulatkan tekad, aku harus berani untuk meninggalkan dia.

Dengan semua perasaan hancur dan air mata yang terus mengalir aku mengatakan padanya bahwa akulah yang akan mundur.

Sejak itu aku lebih sibuk dengan mendekatkan diri pada Allah, aku yang dulunya hampir tidak pernah sholat, sekarang aku jadi lebih rajin sholat, bahkan aku lebih rajin bangun malam untuk tahajud.

Aku mencurahkan semua kesedihanku pada Allah, aku memuas-muaskan diri menangis di hadapanNya.

Dua bulan sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk berjilbab. Aku yang dulunya tidak pernah kepikiran untuk berjilbab, aku yang selalu dengan PD-nya berjalan keluar rumah dengan rok dan celana diatas lutut, kini aku menutup semua auratku, aku mengenakan pakaian yang lebih sesuai dengan syariat agama, dan aku juga sudah menyerahkan hatiku sepenuhnya pada Allah.

Dan alhamdulillah, sekarang aku merasa lebih baik dari sebelumnya.

Aku jadi sadar, bahwa aku terlalu keras kepala, Allah sudah menunjukkan semuanya dari awal, tapi aku ngotot, dan pada akhirnya aku berakhir kecewa. Tapi aku sangat bersyukur, karena aku tahu Allah sangat menyayangiku dengan cara seperti ini, aku jadi membayangkan, apa jadinya aku kalau aku jadi menikah dengan orang seperti mantan pacarku itu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here