Hari-hari Awal Jose Mourinho di Level Elite Sepak Bola

0
114

“Ketika aku berusia 10 tahun, Ayahku dipecat pada hari Natal. Dia dulu pelatih, timnya kalah pada 22/23 Desember. Di Hari Natal, telepon berdering dan dia dipecat saat kami tengah makan siang.”

Pelatih alot yang kenyang pengalaman pemecatan ternyata sudah mengenyam pengalaman pahit itu sedari masa kanak-kanak. Ayahnya, Mourinho Felix, mendapat PHK pada hari saat seharusnya semua orang berbahagia. Sang anak tidak trauma dengan hal itu. Malah, ia mencoba meniti karier kepelatihannya sendiri.

Pada masa remajanya, Jose Mario dos Santos Mourinho, walaupun masih memiliki harapan akan karier bermainnya, sudah menjajal menyusun laporan taktik calon lawan bagi ayahnya. Remaja yang sekarang kita kenal dengan nama Jose Mourinho tersebut pada akhirnya tak pernah memiliki karier bagus sebagai pemain. Ia, menyadari otaknya lebih brilian daripada kakinya, memutuskan mengambil lisensi kepelatihan di awal usia 20-an. Ia menghadiri kursus yang diselenggarakan FA Inggris dan FA Skotlandia, sebelum jadi guru olahraga di Lisbon.

Masih belum menyentuh kepala tiga, Mourinho mendapat pekerjaan pertamanya di pinggir lapangan sebagai pelatih tim muda di Vitoria Setubal. Pengalamannya ini kemudian membawanya menjadi asisten pelatih di Estrela da Amadora, sebuah klub kecil di utara Lisbon.

Memasuki 1992, manajer legendaris Inggris Sir Bobby Robson bergabung dengan Sporting Lisbon. Menyadari bahwa pelatih barunya tak sanggup berbahasa Portugis, pihak klub memutuskan menunjuk seorang translator. Ia harus punya pengalaman di lingkungan sepak bola Lisbon, dan fasih berbahasa Inggris. Mourinho usia 30 tahun ialah orang yang tepat untuk mengisi pos itu.

Pada akhirnya peran Mourinho bukan cuma sebagai penerjemah. Robson segera mafhum, penerjemah mudanya punya pemahaman mendalam tentang bagaimana sepak bola dimainkan. Dia memberdayakan Mourinho dalam mempersiapkan tiap laga. “Catatannya sangat bagus. Saat itu dia baru di awal usia 30-an, tidak pernah jadi pemain dan juga pelatih, tetapi sanggup memberiku laporan, yang terbaik yang pernah saya dapat,” ucap Robson pada 2005.

Robson, entah mengapa, dipecat pada Desember 1993. Klub rival FC Porto yang sedang melihat seorang pelatih hebat menganggur, mengangkatnya sebulan kemudian. Sir Bobby tak ke sana sendirian, ia turut membawa Mourinho. Duet ini meraih sukses besar, menembus semifinal Liga Champions 1993/94, dan dua kali juara beruntun Liga Portugal. Kesuksesan ini membuat FC Barcelona, klub terbaik dunia saat itu yang baru ditinggal pelatih ikonik Johan Cruyff, mendaratkan bangsawan Inggris tersebut ke Catalan.

Ia pun tak lupa mengajak Mourinho. Yang menarik, pemain-pemain yang sanggup berbahasa Inggris kemudian menyadari bahwa Mourinho menambahkan sedikit catatan taktik saat mewakili sang pelatih, yang tentu lebih detail. Meski Sir Bobby hanya melatih Barca cuma setahun, Mourinho tinggal di sana lebih lama. Pelatih pengganti Louis van Gaal terpincut dengan kemampuan sang asisten, yang juga fasih berbahasa Spanyol.

Mou pun merasa hormat pada Sir Bobby. “Aku berutang besar padanya. Aku bukan siapa-siapa saat dia pertama kali datang ke Portugal. Dia membantuku bekerja di dua klub besar Portugal dan lalu membawaku ke salah satu klub terbesar dunia. Kami punya banyak perbedaan tetapi aku mendapatkan banyak hal darinya untuk menjadi pelatih top.”

Louis van Gaal memberi Mourinho peran yang sama besar dengan Sir Bobby. Pada akhirnya, bersamaan dengan pemecatan van Gaal pada 2000, Mou pun turut pergi.

Semenjak saat itu, ia menangani Benfica dan Uniao de Leiria. Performa apik di dua klub ini membuat FC Porto terpincut. Sisanya adalah sejarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here