Hanya Gara-gara Aku Punya Simpanan Haji, Istriku Minta Cerai

0
7

Setiap orang pasti punya cerita bagaimana mereka bertemu dengan jodoh mereka.

Sepertiku, karena usia yang sudah menginjak angka 35 dan belum menikah, membuat ibuku merasa harus turun tangan mencarikan aku pendamping.

Kupikir itu bukan ide yang buruk, karena aku sendiri juga sudah tidak tahu harus mencari dimana. Jadi, kupasrahkan saja pada ibu. Menurutku, itu juga bagus untukku karena aku tidak perlu repot-repot mengenalkan dan berusaha membuat ibu menyukai calon istriku, karena sudah dia yang mencarikan dan memilih.

Dan hari itu pun tiba, ibu mengenalkan padaku seorang perempuan yang dalam penilaianku memenuhi syarat untuk aku jadikan istri. Kulihat dia cukup kalem dan tidak banyak tingkah, selain itu ibu juga menyukainya. Hanya saja dia tidak bekerja, tapi kupikir itu bukan masalah karena memang lebih baik seorang perempuan berada di rumah mengurus rumah dan anak-anak.

Jadi saat ibu mengenalkan aku dengannya, aku langsung setuju untuk menikah dengannya.

Singkat cerita, aku menikah dengan wanita pilihan ibu. Kami menggelar pesta pernikahan sederhana. Hari itu kami tampak seperti pasangan yang sangat bahagia.

Beberapa hari setelah menikah, semuanya masih tampak baik-baik saja. Kami seperti pengantin baru pada umumnya, mungkin karena faktor dijodohkan sikapnya padaku masih malu-malu, aku pun begitu.

Saat itu terlintas di pikiranku untuk mengajaknya honeymoon. Aku ingin membuat dia senang dengan hanya pergi berdua denganku. Dan akhirnya aku memesan tiket untuk pergi. Semuanya sudah aku siapkan. Dia tinggal terima beres.

Tapi, sesampainya kami di hotel, sikapnya agak aneh. Aku tidak tahu kenapa.

Dan pengalaman waktu honeymoon adalah yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Waktu itu dia bilang padaku kalau dia akan menemui teman-temannya yang kebetulan berada di hotel yang sama dengan kami. Aku bilang padanya, mungkin pertemuan mereka bisa ditunda. Tapi dia lebih memilih untuk meninggalkan aku di hotel daripada menolak ajakan teman-temannya. Dan aku ditinggalkan sendirian di hotel tanpa dia pedulikan sama sekali.

Aku hanya berusaha untuk berpikir positif. Kupikir mungkin dia hanya sedang merasa canggung bermesraan denganku, kan kami menikah karena dijodohkan, tidak melewati masa pacaran seperti kebanyakan orang.

Jadi aku memaafkan sikapnya.

Namun setelah beberapa bulan menikah aku seperti melihat wajah asli istriku. Ternyata dia seorang perempuan yang sangat kasar.

Aku sudah berusaha menjadi imam yang baik untuknya, dengan memberikan uang belanja harian, memberi uang sewa rumah, tagihan, dan keperluan lainnya. Tapi, dia tidak menunjukkan sedikit saja rasa hormat padaku. dia malah berbicara kasar padaku.

Dan, sikapnya semakin menjadi. Kadang saat aku sedang bekerja, dia akan menelponku untuk pulang ke rumah. Lalu dia akan menyuruhku untuk membelikan makanan karena dia lapar dan meminta berbagai macam permintaan yang remeh lainnya, yang menurutku bisa dia tangani sendiri.

Aku berusaha menjadi suami yang baik dan sabar dan juga pemaaf. Aku selalu memaafkan sikapnya yang sangat manja dan semena-mena itu.

Tapi, semakin lama aku menjadi suaminya, aku semakin merasa seperti budak.

Istriku tidak pernah memasakkan sesuatu untukku. padahal aku sudah membelikan dia banyak bahan mentah yang aku simpan di kulkas untuk dimasak.

Tidak hanya itu, istriku juga tidak mau mencuci pakaian, dan saat kutanya apa alasan dia tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan itu adalah karena dia bosan di rumah.

Bukankah kalau bosan di rumah itu, lalu kita akan mengerjakan banyak aktivitas, supaya rasa bosan itu bisa hilang?

Aku benar-benar tidak paham jalan pikiran istriku, aku berusaha menuruti semua kemauannya dia. Tapi sikapnya tidak berubah sedikit pun.

Aku kan juga manusia, yang bisa lelah. Sudah aku lelah kerja seharian tapi saat pulang ke rumah bukannya disambut dengan minuman hangat dan senyuman lembut, aku malah harus mengurus pekerjaan rumah tangga.

Ujung-ujungnya kami selalu bertengkar karena masalah remeh-temeh seperti itu. Aku menjelaskan padanya bahwa seharusnya dia bisa menjadi istri yang baik dengan membantuku mengurus rumah. Tapi, dia selalu punya alasan membantahku.

Menurut istriku, mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu pekerjaan yang sia-sia karena dia tidak mendapatkan gaji.

Mendengar alasan dia yang menurutku sangat tidak masuk akal aku hanya melongo.

Memangnya ada ibu rumah tangga yang digaji? Bukankah dia sudah menerima uang dariku untuk memenuhi kebutuhannya, apakah sulit untuknya membantuku mengurus rumah?

Setelah bertengkar biasanya kami mendiamkan satu sama lain.

Dua tahun menikah dengannya, hampir setiap hari kami meributkan masalah-masalah sepele dan itu berulang-ulang secara terus menerus, kadang itu membuatku benar-benar bosan dan lelah. Apakah dia tidak bisa sedikit saja menuruti aku, suaminya?

Tapi, dari dua tahun pernikahan kami yang seperti itu, kami dikaruniai seorang anak. hadirnya anak di tengah-tengah kami membuat aku lebih maklum saat dia tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah.

Jadi, sejak anak kami lahir, kami sudah jarang bertengkar. Kami takut pertumbuhan anak kami akan buruk.

Walaupun, pekerjaanku tiap hari makin bertambah karena kadang harus begadang tengah malam mengurus anak pertama kami, aku tidak mengeluh. Aku terus berharap suatu hari nanti istriku akan berubah.

Tapi, ternyata harapanku terlalu muluk. Sampai suatu hari kami bertengkar hebat karena masalah yang menurutku tidak perlu kami ributkan.

Dia marah besar saat tahu aku menyimpan uang bulanan untuk tabungan haji.

Menurutmu apa sih yang menjadi masalah dengan tabungan haji itu? Tidak ada kan? Bukankah itu bagus untuk kami?

Aku jelaskan padanya kalau tabungan haji itu untukku dan dirinya, aku memang sengaja merahasiakannya untuk kejutan. Lagipula itu adalah tabunganku sejak sebelum aku menikah dengannya.

Kupikir dia akan senang dan terharu dengan kejutanku, tapi ternyata reaksinya di luar dugaan. Dia marah besar dan memilih pergi dari rumah tanpa pamit padaku dengan membawa anak kami yang masih berusia delapan bulan.

Ya, Allah… apa ada yang salah denganku?

Dua hari kemudian sejak pergi dari rumah, dia datang kembali bersama ibunya dan mengambil barang-barangnya. Dan pergi lagi ke rumah ibunya.

Melihat sikap istriku, sebenarnya aku sangat kesal dan ingin marah-marah, tapi aku menurunkan egoku. Dia adalah istriku dan dia juga adalah ibu dari anakku, jadi aku memilih untuk menjemputnya di rumah ibunya. aku ingin dia kembali lagi ke rumah bersama anakku.

Tapi, aku harus menerima kenyataan pahit yang lain, saat aku sampai di rumahnya, aku disambut dengan wajah yang masam dan dia juga sudah menyiapkan surat gugatan cerai.

Iya, cerai!

Yang benar saja ya Allah, masak gara-gara aku punya tabungan haji, aku malah digugat cerai oleh istriku?

Aku minta penjelasan padanya, tapi dia hanya bungkam.

Aku pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Aku sangat marah sekaligus kecewa.

Dan di hari sidang perceraian kami, dengan hati hancur aku mengucapkan kata talak di depan hakim.

Ya, Allah… aku tidak menginginkan perceraian ini. karena bagiku, yang terberat dari perpisahan yang harus kami alami adalah anakku. Aku tidak tega dengannya, dia tidak tahu apa-apa.

Sebenarnya aku sangat malu karena perceraian kami hanya dipicu oleh masalah yang tidak masuk akal. Tapi, mungkin memang seperti ini adalah yang terbaik untuk kami berdua. Semoga kamu yang mendengar ceritaku tidak perlu mengalami apa yang aku alami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here