H-3 Pernikahanku, Aku Ditinggal Pergi Calon Istriku

0
50

Gaes, gimana perasaanmu saat kamu sudah mempersiapkan segalanya dan mengorbankan semuanya untuk pernikahanmu tapi kemudian pasanganmu kabur begitu aja. pasti sedih banget kan. Hati bakal hancur sehancur-hancurnya kalau itu sampai terjadi.

Tapi, nyatanya aku mengalami itu semua.

Jadi begini awal dari semua hal buruk yang menimpaku.

Kamu pernah dengar istilah kencan buta? Bagi sebagian besar kalangan cara ini terkesan sedikit miris karena kencan buta selalu dijadikan pilihan terakhir dalam proses pencarian jodoh.

Pasti kamu mau bilang kalau aku adalah orang yang sudah putus asa sampai harus ikut acara kencan buta. Tapi, aku bodo amat dengan pendapat itu. Aku kan sedang berusaha mencari pasangan hidup, jadi kupikir apapun caranya akan aku coba. Dan akhirnya aku mencoba ajang kencan buta yang diadakan di kotaku.

Di acara ini aku bertemu dengan calon istriku, panggil saja namanya Lia.

Awalanya, aku mendaftarkan namaku dalam acara itu, saat itu aku melihat banyak orang yang juga ikut berpartisipasi dalam acara itu. wah, kukira hanya aku yang sulit menemukan pasangan.

Kemudian di hari yag sudah dijadwalkan aku akan datang ke tempat yang sudah ditentukan oleh panitia. Dan untuk saat ini, kencan buta diadakan di salah satu restoran di dekat tempat tinggalku.

Dalam acara ini kepalaku ditutup dengan kantong kertas yang sudah dilubangi di bagian mata dan mulut, kantong kertas ini harus aku pakai selama mengikuti ajang kencan itu. selain itu, aku dan para peserta lainnya diminta untuk menuliskan beberapa hal penting terkait kepribadian kami di kantong kertas sebagai pesan bagi pasangan kami masing-masing.

Tujuannya agar kita menemukan dan menyukai seseorang karena kepribadiannya, bukan karena fisiknya.

Lalu aku berkeliling dengan kepala yang sudah tertutup, dan aku melihat seorang perempuan yang duduk sendirian belum dapat pasangan di meja paling pojok. Aku membaca tulisan yang ada di kantong kertasnya, kupikir perempuan itu adalah type orang yang sederhana dan menyenangkan, jadi aku mendekatinya. Aku minta izin untuk duduk di hadapannya. Dan dia hanya mengangguk.

Kami mulai mengobrol dan makin lama kami makin merasa cocok dan nyambung. Aku memutuskan untuk meminta nomor ponselnya.

Setelah bertukar nomor, kami berkomunikasi secara intens. Dia orang yang baik dalam penilaianku.

Dia bilang padaku bahwa dia sudah lelah bermain-main dengan hubungan, kali ini dia sangat berharap bisa menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Ini sangat sesuai dengan yang aku cari. Aku juga sudah ingin menikah.

Setelah itu kami melakukan kencan. Kami bertemu di salah satu taman kota, di sana kami membahas banyak hal, kulihat fisiknya tidak terlalu buruk, dia berkulit putih dan berwajah manis. Dan aku merasa kalau dia juga tertarik denganku.

Jadi tanpa menunggu lama, aku langsung melamarnya. Aku mengajaknya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Saat itu kutatap matanya berbinar-binar dan menunjukkan antusias yang sama denganku.

Dia bahkan langsung mengajakku menemui orangtuanya.

Wah, rasanya aku sangat bahagia, akhirnya aku menemukan orang yang bisa aku jadikan pendamping.

Aku bukanlah seorang pria kaya. Jadi menemukan seseorang yang mau menerimaku adalah satu anugerah.

Setelah dia mengenalkan aku pada keluarganya, aku juga membawanya ke rumahku. Aku mengenalkannya pada keluargaku. Orangtuaku sangat bahagia saat tahu aku sudah menemukan calon istri.

Mereka langsung merestui hubungan kami.

Setelah itu, aku dan lia, mulai disibukkan dengan berbagai persiapan acara pernikahan. Karena saat itu aku tidak memiliki banyak uang, aku meminjam pada seseorang untuk biaya pernikahanku. Untuk biaya pernikahanku dengan Lia, aku sudah mengeluarkan uang sekitar 391 juta rupiah. 391 juta adalah uang yang aku pinjam dari salah seorang kenalanku. Lagipula aku ingin menyenangkan Lia, dia berhak mendapatkan yang terbaik.

Tapi, aku merasa nominal itu bukan apa-apa, karena kupikir aku hanya akan mengalaminya sekali seumur hidup.

Tidak hanya itu, karena terlalu antusias aku meminjam uang lagi untuk membeli rumah. Rencanaknya rumah itu akan aku tinggali bersama Lia. Jadi setelah menikah kami bisa langsung tinggal berdua, memisahkan diri dari keluarga.

Aku dan Lia, mulai sibuk foto pre-wedding. Setelah itu kami mulai sibuk memilih desain undangan, memesan gedung dan persiapan pernikahan lainnya. Dia terlihat sama bahagianya sepertiku. Kami sangat lelah, tapi kami bahagia.

Tapi, beberapa hari sebelum acara akan dilangsungkan, sikapnya mulai berubah.

Hari itu dia memintaku untuk mengantarnya membeli sesuatu. Setelah mengantarnya, aku menunggunya tapi dia tidak kembali. Aku mencoba menelponnya, tapi tidak diangkat. Tentu aja aku bingung, dan tadi sepanjang perjalanan dia lebih banyak diam, saat kucoba untuk menggandeng tangannya, dia malah menarik lepas tangannya dari tanganku.

Kami juga semakin jarang bertukar kabar. Apakah aku membuat kesalahan? Banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalaku.

Aku sudah mencoba menelponnya ratusan kali, tapi dia tetap tidak mengangkatnya. Jadi aku harus bagaimana?

Jujur saja, walaupun aku akan menikah dengannya, aku belum tahu dimana tempat dia bekerja. Karena ketidaktahuanku, aku pun mencari tahu dimana dia bekerja. Setelah aku berhasil mendapatkan info soal tempat kerjanya aku langsung berinisiatif menemuinya disana.

Aku butuh penjelasan.

Esok harinya aku pergi ke tempat kerjanya, dia bekerja di tempat pengisian bahan bakar. Aku mencoba untuk bicara dengannya tapi dia malah mengabaikanku.

Merasa diabaikan aku memutuskan untuk pulang.

Sebenarnya aku sendiri bingung, ada apa dengan Lia? Kenapa sikapnya berubah dan seolah menjauh dariku. Aku benar-benar resah. Hari pernikahan kami makin dekat, tapi sikapnya yang seperti ini membuatku jadi takut.

Aku tetap berpikir positif, mungkin dia sedang gugup karena sebentar lagi statusnya akan berubah.

Jadi beberapa hari kemudian aku kembali lagi ke tempat kerjanya. Dan aku dikejutkan dengan kenyataan bahwa dia sudah tidak bekerja disana. kutanya teman-temannya, tapi mereka menjawab tidak tahu. Lia menghilang. aku mencoba menghubungi nomor telponya, tapi sudah tidak aktif. Aku kehilangan kontaknya. Dan aku tidak tahu harus mencari kemana.

Aku mencoba ke rumah orangtuanya, dan disana aku tidak mendapatkan apa-apa. Orangtua Lia juga tidak tahu kemana Lia pergi, yang mereka tahu Lia bekerja dan hanya pulang sebulan sekali atau kalau pas Lia ingin pulang, karena Lia ngekos.

Aku benar-benar bingung.

Gimana nih, tiga hari lagi adalah acara pernikahan kami. Kalau Lia menghilang begini, nasibku bagaimana? Gedung sudah kupesan, undangan sudah kusebar, dan semuanya sudah aku bayar lunas.

Dan sepertinya aku sedang bernasib buruk. Lia benar-benar menghilang bahkan sampai hari H pernikahan kami. Aku menatap hampa semua hiasan-hiasan pernikahan yang sudah dipasang, semuanya sudah siap, tapi, aku tidak jadi menikah, karena Lia benar-benar tidak hadir. Tidak mungkin kan kalau dia lupa dengan acara pernikahan kami?

Ayah memelukku, mencoba menguatkan aku. aku menahan tangisku, aku malu. Sangat malu. aku sudah mempermalukan diriku sendiri dan keluargaku. Semua impianku hancur.

Setelah hari menyedihkan itu aku terus-terusan mengurung diri di kamar dan memikirkan Lia dan semuanya.

Gara-gara kepikiran batal menikah, aku sampai harus dirawat di rumah sakit, dan dokter mengatakan padaku kalau aku terlalu banyak pikiran.

Iya, emang benar aku terlalu banyak pikiran dan aku benar-benar merasa stress.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk melaporkan Lia ke pengadilan. Tapi, saat sidang, Lia tidak hadir. Wlaupun tidak hadir, hakim memutuskan bahwa Lia punya kewajiban untuk mengembalikan uang sebesar 176 juta rupiah padaku.

Tapi, ujianku belum berhenti sampai disitu, aku masih harus menanggung hutang ratusan juta rupiah atas pernikahanku yang gagal, belum lagi biaya pengadilan dan juga biaya perawatan rumah sakit.

Aku benar-benar merasa buruk. Aku sudah mengorbankan semuanya dan melakukan semua yang aku bisa, tapi Lia malah menyia-nyiakan aku.

Tapi, terima kasih sudah mendengarkan curhatku. Doakan aku, semoga aku bisa kuat untuk menjalani semua ini. mungkin memang ini yang terbaik untukku. dan semoga cukup aku saja yang merasakan semua ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here