Garis Paralel : Sebuah Cerita Fiksi yang Terinspirasi dari Kisah Nyata

0
10
Source : https://unsplash.com/@ryoji__iwata

Bertahun-tahun yang lalu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Brandon. Ia tinggal bersama dengan keluarganya di sebuah rumah kecil yang terletak di dalam kota Bandung. Hari-hari Brandon seringkali terisi dengan berbagai masalah. Mulai dari pertengkaran kedua orang tuanya hingga sampai kepada sejumlah nilai yang tidak mencapai angka standar menurut perhitungan sekolah.

Berkat adanya kejadian tersebut, Brandon tumbuh menjadi seorang remaja yang kurang percaya diri, pendiam serta mempunyai pemikiran yang terbilang jauh lebih matang di bandingkan teman-teman seusianya. Singkat cerita, Brandon bersama dengan keluarga memutuskan untuk pindah ke ibukota saat usianya menginjak umur 15 tahun.

Sementara itu di tempat lain, seorang anak perempuan bernama Lea tinggal di sebuah apartemen mewah bersama dengan para pembantu. Karena ia sudah terbiasa memaklumi kesibukan kedua orang tuanya yang sering pulang larut malam karena pekerjaan mereka sebagai konsultan, ia pun tumbuh menjadi seorang remaja yang sering bergaul dan mengurus urusannya sendiri.

Pada suatu hari, tanpa sengaja Brandon menabrak seseorang ketika sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Sambil menunduk dan meminta maaf, Brandon pun membantu mengambilkan barang-barang yang terjatuh milik orang yang ia tabrak. Sesaat setelah memberikannya kepada orang tersebut, Brandon menatap mukanya lalu menyadari bahwa yang ia tabrak adalah seorang gadis.

“Aduh! Sekali lagi maaf banget ya. Gue tadi lagi buru-buru soalnya.” ucap Brandon kepada sang gadis sambil tersenyum lalu bergegas pergi.

“Tunggu!”

Brandon membalikkan tubuhnya ke belakang. Ia menatap gadis tersebut sambil menunggu perkataan dia selanjutnya.

“Nama lo siapa?” tanya gadis itu.

“Brandon. Brandon Nakula Wijaya. Lo sendiri namanya siapa?” balasnya.

“Gue Lea. Lain kali tolong hati-hati ya kalau misalnya lagi jalan.” ucap Lea sambil menatap sosok Brandon dengan tajam.

“Siap! Oke, gue cabut dulu ya! Dah!” balas Brandon sambil melambaikan tangan ke arah Lea.

Begitulah awal pertemuan mereka sebagai 2 orang yang berbeda latar belakang. Selanjutnya, karena Lea penasaran, sampai di rumah ia pun memutuskan untuk mencari nama lengkap Brandon melalui Google. Setelah menemukan media sosialnya, Lea segera menekan sebuah tombol lalu mengetik dan mengirimkan pesannya kepada Brandon.

Alhasil, ketika Brandon melihat pesan singkat dari Lea, ia terkejut. Meskipun demikian, ia pun memutuskan untuk membalasnya dengan cepat dan dari situlah pertemanan mereka di mulai.

Perlahan namun pasti, tumbuhlah benih-benih kasih sayang di antara keduanya. Mereka semakin akrab satu sama lain. Brandon menceritakan hampir semua masalahnya kepada Lea dan begitu juga sebaliknya. Selain itu, terkadang Brandon atau Lea memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe untuk sekedar berbagi candaan, kejahilan hingga dukungan ketika salah satu dari mereka sedang di landa kesedihan.

Semuanya terus berlangsung sedemikian rupa dengan begitu cepat hingga suatu ketika, Lea menyadari bahwa ada perbedaan tertentu dalam sifat dan sikap mereka yang tidak bisa ia toleransi secara terus-menerus karena itu sangat menyakitinya. Akhirnya, karena merasa sudah tidak kuat lagi, Lea pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka melalui sebuah pesan singkat.

Don, mulai dari sekarang, tolong jangan hubungi gue lagi. We’re done.

Brandon terpaku melihat kata-kata yang keluar dari dalam diri Lea. Selama ini, tidak pernah ada satu orang pun yang bisa mengambil hati dan pikirannya selain Lea. Oleh sebab itulah, sepanjang malam ia meratap sendirian dari dalam kamarnya tanpa makan dan minum terlebih dahulu.

Ia melakukannya bukan hanya karena ia menyadari bahwa dirinyalah yang lebih banyak melakukan kesalahan melainkan karena ia juga mengetahui bahwa dirinya benar-benar mencintai Lea dan ia tidak sempat mengatakan yang sejujurnya kepadanya.

Demikianlah Brandon menyesali kejadian tersebut beserta keadaannya selama beberapa kurun waktu sambil terus mencoba menjalani hidup seperti biasa. Setiap tahun yang dia lewati membentuk pribadinya dengan keras sehingga ia menjadi salah satu orang paling berpengaruh di Indonesia dan mancanegara karena kiprahnya sebagai sastrawan berkepala dingin yang menuliskan sebuah buku novel berjudul Garis Paralel.

Ia mendapatkan inspirasi mengenai judul dan isi novel tersebut dari kisah hidupnya sendiri. Lebih tepatnya, kisah perjumpaannya yang hanya sesaat dengan Lea namun bisa mengubah segalanya.

Akhir kata, 3 bulan kemudian setelah bukunya menjadi populer di berbagai negara, Brandon duduk di sebuah aula sambil dan menatap semua penggemar yang ingin meminta tanda tangan serta pendapatnya mengenai berbagai masalah. Tiba-tiba, salah satu orang mengacungkan tangannya lalu mengeluarkan pertanyaan yang menggugah hati dan pikiran sang penulis.

“Don, buku ini lo tulis buat gue kan?”

Itulah pertemuan mereka yang kembali terjadi karena takdir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here