Gara-gara Virus Menular Aku Menunda Resepsi Pernikahanku

0
17

Hallo aku David.

Akhir-akhir ini aku sedang senang banget. Kenapa? Karena bentar lagi aku mau nikah sama pujaan hati. Itu artinya status jombloku bakalan berakhir.

Yah, seperti kebanyakan calon pengantin aku dan calon istriku, si Milla , menyiapkan banyak hal. Tapi, semua itu nggak mudah fergusoo. Karena aku dan Milla ini terlalu banyak beda selera.

Dari pesan katering, kami udah debat mau pakai jasa katering yang gimana, karena emang opsinya banyak banget. Tapi, pada akhirnya Milla yang memutuskan akan memakai jasa katering yang mana, yang menurut dia nggak terlalu nguras kantong dan rasa makanannya lumayan.

Berlanjut ke pesan undangan. Nah, aku itu maunya undangan yang punya kesan elegan dan classic tapi lagi-lagi Milla beda pendapat, kata dia, lebih bagus undangan yang terkesan cerah dan imut. Oke baiklah, aku nggak apa-apa, toh ini cuma undangan.

Lalu kami juga mulai pencarian di dekorasi, yah, kalau ini aku terserah Milla aja, aku udah belajar dari pengalaman kalau Milla pasti menggunakan pilihannya.

Lalu ke pemilihan MUA dan gaun. Soal ini aku nggak begitu ngerti, tapi Milla punya kenalan yang katanya bisa ngasih harga agak miring dengan kualitas yang juga lumayan. Aku lihat antusiasme milla saat memilih gaun buat akad dan resepsi. Rencananya Milla akan menggunakan kebaya saat akad, sedangkan untuk resepsi dia lebih memilih gaun. Wajah Milla capek tapi dia sangat bersemangat dan bahagia menyambut hari pernikahan kami.

Aku juga, rasanya udah pengin cepet-cepet kelar aja. Padahal acaranya masih beberapa bulan lagi. Karena semua keribetan khas calon pengantin itu sangat melelahkan.

Aku dan Milla menyiapkan semua itu di tengah-tengah maraknya berita pandemi global yang sedang meresahkan penduduk dunia.

Aku selalu ngebatin kalau Indonesia pasti aman-aman aja. Dan aku merasa enggak khawatir sama sekali, karena aku seyakin itu. Karena enggak lucu kan kalau pernikahanku ditunda gara-gara satu nama virus?

Tapi, sepertinya aku terlalu sombong soal Indonesia yang sangat aman dan bebas virus ini.
Virus ini ternyata menjatuhkan ekspetasiku yang terlalu tinggi. 2 bulan setelah aku dan Milla sibuk ngurus-ngurus keperluan acara nikahan.

Dia akhirnya sampai di Indonesia. Dan kayaknya aku juga bisa bayangin kalau nih virus lagi ngejek-ngejek aku, kayak bilang begini “Nih, aku dateng kan ke Indonesia” sambil ketawa jahat.

Tapi, aku masih belum khawatir. Karena buat apa aku khawatir kan? Yang harus aku pikirkan adalah gimana acara nikahanku nanti.

Media-media di Indonesia mulai mengabarkan kalau kasus positif virus ini semakin bertambah dari hari ke hari.

Dan saat inilah aku mulai was-was. Gimana enggak was-was, virus ini cepet banget nularnya dan enggak terdeteksi.

Akhirnya banyak media yang membagikan tips terhindar dari virus coro ini, dari pola makan yang sehat dan rajin jaga kebersihan, serta mulai menghindari kerumunan.

Dan semua kekhawatiranku berawal dari banyaknya media yang mengabarkan kalau pemerintah menghimbau masyarakat yang akan menikah selama masa pandemi untuk memundurkan acara resepsi dan jika memaksa untuk merayakan, pemerintah tidak akan segan-segan untuk menugaskan polisi membubarkan resepsi pernikahan yang diadakan selama masa pandemi belum berakhir.

Wah, kok bisa berimbas banget sama pernikahan ya? Aku sempet kesel waktu baca berita itu. Masak yang mau nikah harus mengundurkan acara yang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari sih?

Yah, aku bisa ngerti sih, kalau itu merupakan satu bentuk pencegahan dari virus menular ini. Tapi…

Kan nggak lucu kalau semuanya di cancel hanya gara-gara virus. Aku pikir mungkin peraturan itu hanya berlaku untuk daerah-daerah tertentu.

Di saat bersamaan temanku sekaligus tetangga rumah juga akan melanngsungkan acara pernikahan.

Aku sedikit melupakan virus ini, aku sibuk ikut bantu-bantu di rumah temanku.
Semuanya lancar, dari ramah tamah sampai akad.

Tapi, saat resepsi, aku harus menyaksikan kejadian langka yang belum pernah aku lihat seumur hidupku.

Biasanya polisi datang dan membubarkan keributan di acara-acara dangdutan atau kalau ada tawuran, hari ini aku melihat dengan dua mata kepalaku sendiri ada polisi yang membubarkan acara resepsi pernikahan.

Semua orang yang sedang hadir terdiam seribu bahasa. Bingung harus bersikap gimana.
Polisi itu memberitahukan pada semua yang ada di pesta untuk segera membubarkan diri. Kepolisian memberi kami waktu satu jam untuk membereskan semuanya.

Rasanya sangat aneh dan sulit dipercaya.

Aku melihat kedua mempelai, keduanya cuma terdiam menahan malu dan perasaan lainnya. Makanan-makanan yang disajikan dibereskan, kursi-kursi disingkirkan. Pengantin perempuan sudah menangis, temanku cuma terdiam menahan kecewa. orangtua mereka berdua juga sudah menangis di dalam rumah.

Aku sendiri sangat sedih. Pengantin perempuannya sudah sangat cantik, tapi semua tamu undangan sudah pulang. Makanan juga masih tersisa sangat banyak, tidak tahu mau kami apakan. Mungkin akan dibagi-bagikan ke tetangga sekitar.

Setelah semuanya sudah selesai, para polisi itu pergi.

Aku tahu nggak ada yang bisa kami salahkan, polisi itu hanya menjalankan tugas dan sedang melakukan pencegahan. Sedangkan pihak pengantin juga nggak bisa berbuat apa-apa, karena memang mereka nggak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah keputusan.

Aku berpamitan pada mereka berdua dan memeluk temanku agar sabar. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku merenungkan banyak hal. Mungkinkah sebaiknya aku mengundurkan acaraku saja?

Sesampaiku di rumah, aku menemui kedua orangtuaku, dan menceritakan kejadian tadi. Mereka berdua juga sangat sedih dan menyayangkan. Betapa dampak dari penyebaran virus ini bisa sangat serius.

Kedua orangtuaku memberiku saran untuk memundurkan acara resepsiku dan Milla, tapi tetap melangsungkan akad.

Padahal undangan udah kami sebar, tapi aku juga nggak mau mengalami apa yang dialami oleh temanku tadi. Aku nggak sanggup buat ngebayangin Milla yang udah cantik sama gaunnya tapi menangis sedih di hari spesial kami.

Jadi malam itu, aku nelpon Milla dan bilang kalau aku mau ke rumahnya membahas semua persiapan kami.

Besoknya dengan naik motor aku ke rumah Milla.

Di rumah Milla, aku menjelaskan semuanya, dari acara resepsi pernikahan temanku yang dibubarkan polisi secara paksa sampai rencana melangsungkan akad dan mengundurkan acara resepsi pernikahan kami.

Saat itu Milla Cuma diam. Mungkin dia terlalu bingung mencerna apa yang sedang terjadi.
Aku bisa ngelihat kalau antusiasme Milla terhadap acara kami seperti hilang. Dia sedih tapi juga nggak mau acara pernikahan kami dibubarkan polisi.

Kedua orangtua Milla juga sepakat dengan usulanku. Setelah itu Milla mengirim pesan di grup WA teman-temannya, aku nggak tahu isinya apa, tapi intinya mengumumkan kalau acara resepsi kami diundur.

Aku juga melakukan hal yang sama.

Semua temanku memberiku support sih. Rasanya sedih banget. Apalagi kalau keinget ribetnya aku dan Milla cari MUA yang bisa merias Milla di hari pernikahan kami, susahnya cari katering yang pas buat kami, debat-debat gara-gara desain undangan.

Tapi mau gimana lagi. Keadaannya emang lagi susah.

Aku dan Milla juga langsung menghubungi semua pihak yang terkait dengan pernikahan kami, untungnya mereka mau memaklumi keadaan.

Dan untukmu yang mau nikah tapi harus mundurin resepsi, aku bersamamu brader. Aku tahu perasaanmu. Tapi kalau kamu adalah orang yang sedang malas mikir biaya resepsi tapi udah pengin sah sama pasangan, inilah waktunya, kamu nggak akan jadi omongan tetangga karena kamu bisa beralasan si virus ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here