Gara-gara Skripsi Aku Ingin Bunuh Diri

0
10

Apakah kamu seorang mahasiswa? Apakah saat ini kamu sedang merasa sedih dan frustasi karena tidak secemerlang teman-temanmu? Atau kamu mulai merasa bahwa sebaiknya kamu berhenti kuliah saja? Tenang saja, aku sama sepertimu. Kita senasib.

Kenalin, namaku Fariq. Aku adalah salah seorang mahasiswa yang kuliah jurusan hukum di salah satu universitas di Indonesia.

Hari ini aku akan membagikan kisahku yang penuh perjuangan, barangkali kamu juga sedang mengalami apa yang pernah aku alami.

Saat aku lulus SMA, perasaanku sangat senang. Aku benar-benar merasa sangat lega saat aku menerima surat kelulusanku. Mungkin menurutmu aku berlebihan, tapi percayalah menjadi manusia yang otaknya sangat pas-pasan atau bisa dibilang dibawah rata-rata itu sangat mengkhawatirkan. Dan kamu juga akan dihantui rasa khawatir, seperti mengecewakan orangtua karena gagal tidak lulus Ujian Nasional dan mungkin kamu juga akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat jika kamu gagal dalam ujian nasional. Malunya itu bisa dibilang akan berlangsung sumur hidup.

Walaupun dengan nilai pas-pasan aku tidak apa-apa, karena memang segitu kemampuanku.

Kukira orangtuaku akan menyuruhku berhenti mengejar pendidikan, nyatanya tidak, mereka berdua malah menyuruhku untuk melanjutkan studi ke tingkat universitas. Tapi jurusan apa yang akan aku ambil nanti? Semasa aku sekolah dari SD sampai SMA, aku merasa aku tidak punya kelebihan di salah satu mata pelajaran. Karena nilaiku di semua mata pelajaran selalu pas-pasan.

Aku pun berkonsultasi pada orangtuaku, kira-kira jurusan apa yang sangat cocok untukku. Dan mereka pun menyampaikan bahwa mereka sangat ingin punya anak seorang pengacara. Wait? Pengacara? Kalau pengacara, berarti aku harus kuliah di jurusan hukum dong? Jurusan itu kan banyak banget hafalannya.

Tapi karena aku ingin membahagiakan kedua orangtuaku, aku memilih untuk menuruti keinginan mereka. dan mereka sangat senang.

Aku mendaftar di banyak universitas negeri, tapi persaingannya sangat ketat. Posisiku berada di zona tidak aman. Tapi orangtuaku tidak berhenti menyemangatiku, mereka malah menyarankan mungkin aku bisa kuliah di universitas swasta, menurut mereka kuliah dimana pun sama saja, asal aku mau bekerja keras hasilnya pasti tidak akan jauh berbeda dengan orang yang kuliah di universitas terbaik.

Dan aku pun akhirnya diterima di salah satu universitas swasta yang cukup bagus.

Singkat cerita, memasuki semester satu, rasanya deg-degan dan nervous. Selama kuliah, aku tidak pernah absen kuliah kecuali keadaan memaksaku untuk tidak hadir. Aku selalu memilih duduk di barisan nomor dua dan aku juga selalu mendengarkan dengan tekun apa yang dijelaskan oleh dosen. Tapi, meskipun aku sudah mendengarkan dan memperhatikan dengan tekun, aku tidak seperti mahasiswa lainnya yang bisa dengan cepat memahami apa yang dimaksud oleh sang dosen.

Aku mengalami banyak kesulitan saat mengikuti perkuliahan. Aku harus dijelaskan berkali-kali agar aku paham.

Hingga tiba saatnya ujian semester. Aku belajar mati-matian agar aku bisa mengerjakan soal, tapi apa daya, ketika kartu hasil studi dibagikan, aku mendapatkan nilai buruk di empat mata kuliah, dan itu artinya aku harus mengulang.

Aku sangat sedih tentu saja. Saat melihat nilai-nilaiku bahkan aku sangat kecewa, tidak ada nilai A. Saat aku melihat-lihat nilai teman-temanku, hasilnya mereka tidak ada yang mengulang. Dan mereka juga berkata, harusnya semester satu kita bisa dapat nilai dengan mudah karena maata kuliahnya masih gampang-gampang. Ya Tuhan… padahal aku sudah berusaha maksimal, mereka benar, seharusnya aku bisa mendapatkan nilai lebih baik dari ini, ini masih awal, tapi aku sudah merasa seperti orang yang akan gagal di semester-semester berikutnya.

Dan saat kartu hasil studi  aku perlihatkan pada orangtuaku, mereka tidak marah. aku benar-benar beruntung memiliki orangtua yang sangat mengerti kemampuan anaknya.

Lalu di semester dua, aku berusaha lebih keras. Kali ini aku duduk di depan, aku mencatat semua pioin penting yang diucapkan dosen. Demi mendapatkan nilai yang baik, aku rela tidak ikut kumpul-kumpul dengan teman-temanku. Kecuali jika kumpul-kumpul kami sekalian mengerjakan tugas.

Tiba di ujian akhir semester dua, aku harap-harap cemas dengan nilaiku lagi, semoga tidak ada yang mengulang lagi ya Tuhan…

Semester dua agak lumayan, jumlsh mata kuliah yang harus kuulang tidak sebanyak di semester satu.

Dan di semester-semester berikutnya aku isi dengan kerja keras. Walaupun kadang ada yang masih mengulang, tak apa.

Saat-saat semester akhir adalah saat yang sangat menakutkan menurutku. Karena saat itu kita diuji dengan perasaan jenuh dan akan muncul pertanyaan, sudah benarkah jurusan yang aku ambil ini?

Aku sama sepertimu, aku juga sempat ragu di semester-semester tua. Karena mata kuliahnya semakin sulit dipahami. Bahkan aku panen nilai buruk di semester-semester itu. Belum lagi aku ketinggalan teman-temanku karena sibuk mengulang beberapa mata kuliah yang belum lulus.

Dan perasaanku semakin tidak karuan saat melihat hampir semua teman seangkatan sudah mengambil skripsi, sedangkan aku masih sibuk mengulang mata kuliah. Aku mengeluhkan otakku yang sangat pas-pasan. Dan aku juga mulai merasa bahwa Tuhan tidak adil, aku bekerja sangat keras tapi hasilnya kenapa berbeda dengan mereka yang bahkan tidak belajar?

Tapi, saat melihat kedua orangtuaku aku jadi sadar, bahwa pasti tidak hanya aku yang sangat ingin cepat menyelesaikan kuliah, mereka juga ingin aku cepat lulus.

Teman-teman seangkatanku lulus dengan normal, maksudku, mereka hanya menghabiskan waktu selama 8 semester untuk lulus.

Jangan tanya aku, bahkan saat mereka sidang skripsi aku sedang sibuk mengulang mata kuliah yang sudah aku ulang sebelumnya dan masih gagal. Aku berpikir positif bahwa mungin memang aku harus mengulang beberapa mata kuliah itu karena memang aku harus paham. Dan memang begitu, aku benar-benar paham saat aku mengulang 3 kali.

Kamu pasti akan berpenddapat bahwa aku sangat bodoh, tidak apa-apa, tapi tolong saja jangan katakan ‘bodoh’ pada orang lain, katakan saja pada mereka yang kurang pandai bahwa mereka adalah type orang yang slow learner, biar agak keren sedikit.

Kalau dihitung-hitung aku harus mengulang beberapa mata kuliahku sebanyak 18 kali agar aku benar-benar bisa mengambil skripsi.

Setelah selesai mengulang semua mata kuliah itu, tiba saatnya aku harus membuat skripsi.

Skripsi! Antara takut dan antusias bercampur jadi satu.

Seperti kebanyakan mahasiswa, aku juga harus mengajukan judul penelitian. Aku menyiapkan banyak bahan untuk penelitianku. Dan saat aku mengajukan judulku, dosen menolaknya. Katanya judulku terlalu pasaran.

Baiklah, tidak apa-apa, mungkin aku memang harus mencari banyak referensi judul yang bagus. Dan memang agak mustahil judulmu akan di acc dalam satu kali pengajuan.

Berkali-kali aku mengajukan, berkali-kali pula judulku ditolak.

Perasaanku sudah tidak jelas lagi, rasanya aku ingin berhenti saja. ditambah lagi semua teman-temanku sudah lulus dan karir mereka bagus-bagus.

Aku merasa terpuruk. Aku takut mengecewakan ayah ibuku.

Berada dalam kondisi seperti itu membuatku berpikir untuk mengakhiri hidupku.

Dan hari itu aku ingin mewujudkan keinginanku, ya, aku bertekad akan mengakhiri hidupku. Sepulang dari kampus, aku mengendarai mobilku dengan melamun. Saat itu, kupikir aku bisa menabrakkan mobilku ke mobil orang lain. Tapi, pikiranku berubah saat aku berhenti di lampu merah dan melihat orang-orang yang sudah renta menawarkan barang dagangan mereka pada para pengendara. Wajah mereka letih tapi mereka tetap tersenyum dan semangat.

Saat itulaah kesadaranku kembali, aku teringat kedua orangtuaku, mereka mungkin kecewa padaku karena belum lulus-lulus juga, tapi aku yakin mereka akan lebih kecewa padaku jika aku mati dalam keadaan menjadi seorang pecundang.

Aku sadar, bebanku pasti tidak seberat mereka. tapi mereka tetap semangat menghadapi masalah hidup, sedangkan aku? Masalahku hanyalah skripsi yang tak selesai-selesai. Betapa malunya aku pada mereka.

Setelah sadar sepenuhnya bahwa aku salah, aku kembali semangat mengejar skripsiku. Aku yakin kalau aku akan lulus.

Akhirnya perjuanganku berbuah manis, aku dinyatakan lulus oleh penguji. Saat itulah aku benar-benar yakin kalau Tuhan Maha Adil, aku memang bisa dibilang terlambat lulus, tapi aku sangat paham dengan apa yang aku pelajari. Dan semua rasa lelahku berganti dengan kelegaan luar biasa, tentu saja ayah ibuku sangat bangga.

Saat ini aku sedang merintis karirku di bidang hukum. Aku sedang magang di salah satu lawfirm di kota jakarta.

Pesanku padamu yang mungkin sedang merasa frustasi dan merasa tidak berguna atau mungkin merasa sangat bodoh dan tidak punya karir yang cemerlang seperti teman-temanmu, percayalah bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Jika kamu gagal tujuh kali, kamu harus bangkit dan memulainya lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here