Gara-Gara KTP, Aku Kehilangan Anak Keduaku

0
44

Hari ini, ceritanya aku, istriku dan anakku sedang duduk-duduk santai di ruang keluarga depan televisi.

Istriku sedang asyik mengupas buah apel dan mangga, anakku sedang menonton serial favoritnya, dan aku sedang asyik memandangi mereka.

Ngeliatin mereka itu bikin perasaanku jadi adem. Karena mereka adalah harta paling berharga, apalagi sekarang istriku sedang hamil tua dan sedang masuk HPL. Perutnya sangat besar. Kalau jalan mirip banget sama bebek tapi aku suka. Aku sendiri kadang khawatir kalau tiba-tiba dia melahirkan dan aku sedang kerja.

Setelah selesai mengupas mangga, istriku selonjoran di lantai bersamaku dan anak pertamaku.

Tapi, semua ketenangan itu berubah drastis saat istriku berteriak panik karena perutnya mendadak sakit.

Dia memegangi lenganku dan terus menerus mengaduh.

Sumpah aku panik banget, nggak bisa mikir apa-apa. sampai istriku bilang ‘ke rumah sakit Yah, kayaknya dedeknya mau keluar’, sambil terus menerus memgangi perutnya.

Karena sangat panik aku cuma ambil kunci mobil dan dompet, anakku aku titipkan pada tetangga, padahal saat itu dia nangis kencang, mungkin takut mamanya kenapa-kenapa.

Aku menggendong istriku menuju mobil, dia masih memegangi perutnya dan aku semakin panik.

‘sabar ya dek,’ kataku pada perut istriku.

Setelah mendudukkan istriku di mobil aku segera tancap gas menuju rumah sakit.

Aku menyetir gila-gilaan. Aku takut istriku nggak dapat pertolongan medis.

Setiap kendaraan yang melintas di jalan aku klakson berkali-kali supaya menyingkir. Istriku terus merintih dan aku semakin panik.

Aku bertambah panik saat melihat istriku pecah ketuban.

Saat tiba di rumah sakit, kami disambut oleh para petugas medis rumah sakit.

Para petugas medis memberiku kursi roda, dengan gerak cepat aku segera memindahkan istriku ke kursi roda. Istriku dibawa ke ruang gawat darurat. Aku terus berlari mengikuti para petugas rumah sakit.

Tapi, saat tiba di depan ruangan UGD, petugas medis menanyakan KTP istriku.

Hah?

KTP istriku? Ya, Allah, aku lupa. Saat panik begini, mana aku kepikiran soal KTP!

Aku bilang pada petugas medis itu, aku nggak membawa kartu identitas istriku.

Tapi petugas medis itu tetap meminta KTP istriku, katanya tanpa KTP persalinan di rumah sakit tidak bisa dilakukan.

Lalu petugas itu menyarankan padaku untuk pulang ke rumah untuk ambil KTP istri.

Tentu aja aku nggak mau. Jarak dari rumah sakit ke rumah itu bisa memakan waktu 30 menit. Yang benar saja, keadaan istriku sudah diujung tanduk, kok bisa-bisanya nggak segera ditangani dan malah menyuruh aku untuk pulang, aku kan mau menemani istriku melahirkan.

Aku melakukan negosiasi, aku menawarkan KTP-ku untuk dijadikan jaminan. Aku benar-benar panik stadium akhir melihat keadaan istriku, aku ingin dia segera ditangani tapi para petugas medis belum mau bertindak.

Tapi, para petugas itu benar-benar membuatku kesal. Mereka tetap tidak mau menangani istriku dan mereka tetap mendesakku untuk pulang mengambil KTP dan kartu asuransi istriku.

Mereka mengatakan kalau aku masih punya waktu.

Waktu apa? bisa-bisa saat aku pulang anakku keburu lahir di depan UGD.

Aku benar-benar dalam posisi terjepit.

Mereka menyarankan aku untuk mengurus administrasi di resepsionis, supaya istriku bisa mendapat perawatan.

Aku tahu, di depan UGD aku tidak akan mendapat pencerahan, di sisi lain, kondisi istriku semakin buruk. Aku tak punya pilihan, maka aku menurut.

Aku berlari ke resepsionis. Tapi, yang aku dapatkan lebih parah dan lebih menyakitkan dari yang terjadi di depan ruang UGD.

Lagi-lagi masalah KTP istriku.

Para petugas itu menanyakan berkas-berkas, seperti surat nikah, buku bayi dan KTP.

Rasanya aku pengen marah-marah dan membentak mereka, aku panik, mana sempat aku kepikiran bawa semua berkas itu.

Aku jelaskan pada mereka kalau tadi aku sangat panik dan buru-buru membawa istriku ke rumah sakit.

Dan respons mereka sangat membuatku kaget.

Petugas itu malah memarahiku di depan banyak orang.

Aku dianggap membuat keadaan menjadi sulit. Kok bisa sih?

‘Bagaimana kami bisa tahu apakah istrimu orang asing atau bukan? Kami bahkan tidak bisa memastikan apakah kalian sudah menikah!’ kata mereka keras.

Aku melongo mendengar perkataan petugas itu, aku benar-benar tidak menyangka, mereka seperti itu. Bukankah mereka pelayan masyarakat?

Bagiku, sikap petugas resepsionis itu sudah termasuk dalam pelanggaran etika dan dia sudah bersikap sangat kasar.

Aku masih menahan diriku. Aku menawarkan KTP-ku, tapi petugas respsionis itu benar-benar pengen aku lempari batu, dia tetap tidak mau memprosesnya. Dan dia juga malah memberiku saran untuk pergi ke rumah sakit lain.

Aku pergi dari respsionis tanpa mendaftarkan istriku. Aku merasa sangat kacau. Tapi, 30 menit kemudian, setelah drama KTP, petugas medis mau mengambil KTP-ku dan mendaftarkan namaku kemudian mereka menangani istriku.

Sayangnya, mereka tidak bergerak cepat. Anak keduaku bernasib malang. Sebelum ditangani oleh para petugas, bayi kami telah keluar setengah badan.

Anak keduaku terlahir sunsang, kakinya keluar terlebih dahulu. Sedangkan tubuh bagian atas masih berada di mulut rahim. Bayiku tersangkut selama 30 menit di mulut rahim.

Dan setelah berhasil dikeluarkan sepenuhnya, seluruh tubuh anakku membiru. Tapi, bayiku, hanya bisa bertahan sebentar, tepat jam setengah 4 sore, anak keduaku pergi untuk selama-lamanya.

Aku sangat terpukul, istriku juga saat itu sangat hancur.

Malam itu aku menginap di rumah sakit, aku harus menunggu hasil diagnosis para dokter yang menangani kelahiran bayiku. dan aku juga harus menunggui istriku, kondisinya masih sangat buruk.

Keesokkan harinya, seorang dokter menjelaskan padaku bahwa bayiku mengalami pendarahan internal stadium 4 yang kritis di otaknya.

Dan ternyata, pada hari pertama, bayiku sudah berada di stadium 2.

Aku dan istriku sangat hancur. Bayangkan kami sudah menunggu-nunggu kelahirannya, kami sudah melakukan semua yang terbaik agar anak kami bisa lahir sehat, tapi yang terjadi malah anakku harus pergi untuk selamanya.

Saat itu, aku merenungi banyak hal, aku masih belum bisa memahami kenapa mereka tidak memberitahuku sebelumnya. Padahal, seorang dokter sudah memberi penjelasan singkat tentang kesehatan bayi kami pada hari pertama, tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa soal pendarahan internal.

ini membuat keluargaku sangat sedih dan menyesal.

Bayiku benar-benar pergi karena pendarahan internal otak stadium 4 yang menyerangnya.

Kondisi istriku belum pulih, dia harus tinggal di rumah sakit sementara waktu. Tapi, aku akan pulang ke rumah. Aku harus menguburkan anakku. Aku mengurus beberapa administrasi rumah sakit, setelah selesai aku membawa jasad anakku pulang.

Aku tak pernah membayangkan, kalau aku akan menguburkan anak kandungku sendiri. Padahal aku sudah menyiapkan nama yang bagus untuk anak keduaku, tapi takdir berkata lain. Tuhan, lebih sayang pada anakku.

Dan di atas ranjang rumah sakit, istriku tak berhenti menangis dan menyesal, sedangkan aku? Aku harus kuat kan, aku menguatkan diri untuk tidak menangis. Aku dan istriku sama-sama merasakan sakit.

Aku masih sangat menyesali sikap dari pihak rumah sakit dan tidak habis pikir, kenapa hanya gara-gara KTP, istriku tidak langsung mendapat pertolongan, andai saja, istriku langsung diberi pertolongan medis, aku yakin, anakku pasti masih bisa diselamatkan.

Semoga tidak ada orang yang mengalami hal yang sama denganku. dan aku berharap pihak kepolisian mau menindaklanjuti rumah sakit yang itu, agar mereka bisa bersikap lebih bijak lagi dalam menindaklanjuti pasien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here