Orang-orang bilang kalau yang namanya jodoh itu enggak terduga. Yang bertahun-tahun bareng kadang cuma berakhir jadi kenangan, sedangkan yang baru datang malah langsung ngajak duduk bareng di pelaminan.

Jodoh itu emang unik sih.

Oh, ya, namaku Heni. Statusku berpacaran. Aku sudah berpacaran cukup lama dengan pacarku, keluargaku juga udah tahu soal hubungan kami.

Pacarku orang yang baik, hubungan kami juga baik-baik saja. Tapi… aku merasa hubungan kami stagnan.

Aku tahu dia mungkin serius denganku, karena papa dan mama juga sudah mengenal dia cukup lama, tapi pikirku sudah waktunya untukku meresmikan hubungan kami secara legal di mata negara dan agama.

Dan hari itu adalah puncaknya kami bertengkar, aku bilang padanya kalau hubungan kita tuh nggak ada kemajuan, aku juga butuh kepastian. Dia malah mengatakan kalau aku itu nggak sabar nunggu dia, dia bilang padaku kalau dia juga sedang berjuang untuk mewujudkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius.

Aku kecewa. Mau sampai kapan aku nunggu?

Setelah pertengkaran itu aku memutuskan untuk memberi jeda untuk hubungan kami, aku tidak berkomunikasi dengannya sementara waktu. Aku butuh waktu untuk sendiri.

Dia menyetujui permintaanku.

Untuk mengusir rasa sepi aku bermain instagram. Aku lihat-lihat lagi semua postingan fotoku dengan pacarku. Foto-foto yang menurutku memorable banget. tanpa sadar aku nangis saat aku flashback ke masa lalu.

Kadang aku mikir, kok aku tega banget ya ngomong ke dia soal hubungan kami yang nggak ada kemajuan, padahal dia udah baik banget, dia juga nggak pernah selingkuh, papa dan mama juga suka sama sikapnya yang sopan. Tapi, aku nggak tahu kenapa, rasanya menjalani hubungan sama dia kayak berjalan terus tapi nggak tahu tujuannya mau kemana.

Dan saat sedang asyik melihat-lihat foto, ada sebuah DM yang masuk dari salah satu followers-ku.

’Assalamualaikum mba’

Terus aku balas

‘Waalaikumsalam’

Dan setelah itu, DM dari dia sangat mengejutkan.

“Mba, kalau cowoknya kelamaan ngelamar, aku mau lamar mba di bulan Desember.’

Ya ampun…

Ini beneran? Ini orang lahir di galaksi mana sih? Kok bisa gitu lamar-lamar orang yang belum dikenal? Aku benar-benar speechless, untung aku nggak punya penyakit jantung. Nih orang lihat bio sama feeds-ku nggak sih? Kan semuanya masih foto-foto tentang pacarku.

Karena aku penasaran dengan orangnya, aku pun follback.

Setelah itu kami masih saling berikirim DM, namanya Abimanyu, dan dia sukses bikin aku penasaran pake banget.

Dia mikir nggak sih kalau aku tuh udah punya pacar? Dan lagi, kami berdua belum pernah ketemu sama sekali, gimana caranya dia bisa seyakin itu sama aku?

Jadi aku pun bertanya soal alasan dia yang tiba-tiba langsung to the point ngajak aku nikah.

Dan jawabannya makin bikin aku terkesima dan nggak bisa berkata-kata.

Dia bilang, setiap malam dia sholat tahajud dan istikhoroh, dan dia sendiri juga nggak tahu kenapa dipertemukannya sama aku.

Walaupun aku bukan orang yang agamis-agamis banget, tetap aja kan rasanya tuh terharu banget.

Terus aku dan dia melakukan janji temu.

Pertama kali lihat wajahnya tuh aku ngrasa adeeem banget. dan nggak tahu kenapa aku jadi yakin banget sama dia. Wajah dia tuh lempeng dan menurutku dia itu type orang yang benar-benar penyabar. Mungkin ini jawaban dari Allah soal keresahan hubunganku dengan pacar.

Oh iya, aku belum putus, kalau aku mau nikah sama abimanyu, aku harus menyelesaikan masalahku dulu dengan pacarku.

Dari pertemuan itu, Abimanyu minta izin untuk datang melamar. Dia bahkan udah tentuin tanggalnya.

Aku bilang ke dia, kalau aku perlu ngomong dulu sama orangtua, karena nggak mungkin mama dan papa nggak ada persiapan, dan lagi mereka tahunya aku masih pacaran dengan pacarku.

Jadi setelah pertemuan itu aku langsung menemui papa dan mama.

Aku harap mereka bisa mengerti keadaanku dan mau menerima keputusanku.

Besoknya saat sedang santai di ruang keluarga, aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Ma, ada yang mau lamar heni,” kataku

“Oh, pacar kamu mau lamaran? Oke. Kapan mau ke rumah?” kata mama antusias

Aduh, ngomong nggak ya? ngomong aja deh.

“Bukan ma, heni mau nerima lamaran orang lain,” kataku pelaaaaaan banget.

Papa dan mama sekarang benar-benar fokus denganku.

“Yang benar kamu heni. Pacarmu mau kamu kemana kan?” tanya papa masih belum marah.

“heni mau putusin pa,” jawabku

“Kamu nggak bisa begitu heni, kamu itu pacarannya sama siapa? Kok nikahnya sama orang yang papa aja nggak tahu dia anak siapa?”

Kujelaskan pada mereka bahwa hubunganku dan pacar tidak ada kemajuan. Bahwa walaupun sudah berjalan cukup lama, belum ada tanda-tanda si pacar mau ngelamar aku.

Aku harus menunggu berapa lama lagi?

Tapi papa dan mama masih belum menerima keputusanku, mereka bilang padaku, bagaimana mungkin aku bisa seyakin itu menerima lamaran dari orang yang bahkan baru sebulan aku kenal.

Dan mereka juga bilang, kalau pernikahan bukan suatu hal main-main.

Aku nggak mungkin bentak mama dan papaku kan? Bisa jadi anak durhaka nanti.

Aku menjelaskan pada mereka bahwa Abimanyu anak yang baik dan pintar agama, aku yakin kalau aku menikah dengannya aku pasti bisa mendapatkan pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah.

Mereka masih belum percaya.

Duh, gusti rasanya mau nyerah. Tapi aku udah yakin banget sama Abimanyu. Gimana donk?

Tapi, setelah beberapa hari aku dan orangtuaku diam-diaman, akhirnya mama membuka suara. Beliau bilang ‘Yasudahlah, mau gimana lagi. Mungkin memang jalanmu ketemu jodoh begini. Mama dan papa percaya saja kalau kalian bisa membangun rumah tangga dan bertanggung jawab. Dan satu lagi, selesaikan baik-baik hubunganmu dengan pacarmu. Terus kapan rencananya Abimanyu mau datang ke rumah?”

Aku langsung mengatakan tanggal lamaran si Abimanyu dan mengatakan aku akan segera menyelesaian urusanku dengan pacar. Jujur aja, aku lega banget. akhirnya, masalahku dengan ortu udah clear.

Dan sekarang, aku harus menemui pacarku yang sebentar lagi akan menjadi mantan pacar.

Jujur, ini bagian yang sama beratnya dengan saat aku harus bilang pada kedua orangtuaku.

Pikiranku timbul banyak macam kalimat yang bakal aku jadikan alasan untu mengakhiri hubungan kami.

Hari itu, aku dan dia bertemu di sebuah kafe. Aku menunggu dia dengan jantung yang berdebar-debar. Udah kayak mau pengakuan dosa pokoknya.

Ya ampun, hen. Pacarmu salah apa sampai kamu rela ninggalin dia demi orang yang baru kamu kenal di IG sebulan? Itu adalah kalimat pertanyaan yang keluar di pikiranku saat pacarku datang dan duduk di hadapanku.

Dia pasang senyum terbaiknya dan bilang maaf udah bikin nunggu lama.

Aku putuskan ngomongnya habis makan, seenggaknya udah ada energi buat ngomong. Dan juga mumpung si dia belum kehilangan nafsu makannya.

Sambil makan, aku lebih banyak diam sambil sesekali nyahutin jokes-nya dia.

Ya, Allah, kuatkan aku…

Dan setelah makanan kami sama-sama habis, dia langsung minta maaf soal masalah kemaren-kemaren.

Terus dia juga minta maaf karena udah nyakitin aku.

Sebelum dia semakin membuatku berat untuk meninggalkan, aku langsung motong ucapannya gitu aja.

‘Kita Putus aja. bulan depan aku mau nerima lamaran,’ kataku cepat dan bergetar. Semua kalimat yang udah aku susun menguap begitu aja.

Sumpah, wajah dia nggak bisa aku jelasin dengan kata-kata. Dia menatapku bingung dan bilang kalau aku bercanda.

“Enggak, aku engga becanda. Ini serius. Aku nggak bisa terus-terusan terjebak dalam hubungan yang stagnan tanpa tujuan,” jelasku pelan.

Pacarku Cuma diam dan diam. Mungkin dia shock banget.

“Kamu baik, kamu nggak salah apa-apa. tapi, aku nggak bisa lanjutin hubungan kita,” kataku lagi, kali ini lebih lembut.

“aku mau kita putus baik-baik”, kataku

Dan dia dengan wajah yang penuh kekecewaan berdiri dan menyalamiku sambil mengucapkan ‘Selamat ya’

Setelah itu dia pergi ke kasir bayar tagihan dan habis itu nggak noleh lagi.

Ya Allah… aku udah nyakitin hati orang. Tapi, semoga dia bisa mengerti bahwa seorang perempuan butuh kepastian.

Aku pulang ke rumah dengan perasaan galau. Apa yang udah aku lakuin? Pasti jahat banget. tapi gimana lagi, hatiku yakin banget pas ketemu sama Abimanyu.

Tapi, perasaan galauku nggak bisa aku teruskan, karena beberapa hari berikutnya aku sudah sibuk dengan persiapan acara lamaran.

Aku bersyukur banget papa dan mama bisa bersikap ramah pada Abimanyu.

Setelah acara lamaran aku juga udah mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan.

Dan pada tanggal 02 bulan februari, aku resmi mengucap janji suci dengan Abimanyu. Banyak orang yang mengucapkan selamat atas pernikahan kami.

Saat itu aku benar-benar legaaaaaa banget. aku tahu ini bukan akhir, ini adalah sebuah awal untukku.

Dan dari kisahku bisa diambil kesimpulan bahwa pacaran lama belum tentu itu jodoh kita. meskipun ada yang bilang semua itu tergantung niat dan usaha masing-masing orang. Aku sama sekali nggak menyangkalnya, tapi lagi-lagi kita akan kalah dengan rencana Allah. Seperti aku misalnya, semua berubah gara-gara sebuah DM berisi ‘Assalamualaikum’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here