Gadis Keras Kepala

0
51

Gadis Keras Kepala

Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang janda miskin dan seorang gadis kecil.

Gadis kecil bernama Lanny itu tinggal bersama dengan ibunya dalam sebuah gubuk yang kecil.

Karena sangat miskin, Lanny tak mempunyai sepatu untuk dipakai.

Karena sangat menyayangi Lanny, Ibu Lanny membuatkan sepatu dari kayu untuk Lanny.

Lanny sangat senang mengetahui ibunya membuatkan ia sepatu.

“Aku akan punya sepatu. Asyik!” kata Lanny senang

Namun, kegembiraan Lanny menghilang saat tahu ternyata sepatu kayu miliknya sangat keras dan membuat kaki mungilnya sakit.

“Sepatu ini membuat kakiku sakit,” Lanny mengeluh

Suatu hari, Lanny menemukan sebuah kotak dengan isi sepasang sepatu di pinggir jalan dekat rumahnya.

Sepatu itu berwarna merah. Lanny terpesona dengan sepatu itu. Dia menyentuh sepatu merah itu.

“Bukan dari kayu, pasti tidak keras dan tidak akan membuat kakiku sakit,” kata Lanny senang.

Lalu Lanny membawa sepasang sepatu itu pulang.

Di rumah, ibu Lanny melihat anaknya membawa sepatu merah itu.

“Sepatu siapa itu, Lanny?” tanya ibu Lanny.
“Kutemukan di pinggir jalan, ibu,” jawab Lanny.
“Lanny, kau tak bisa mengambil barang yang bukan milikmu. Ibu tahu kita miskin, tapi ibu tidak akan membiarkan kau memakai sesuatu yang bukan milikmu. Itu sama saja dengan mencuri,” jelas ibu Lanny.

Lanny tertunduk sedih. Namun, sifat keras kepalanya muncul.

“Tidak ibu. Aku tidak mencurinya. Dan yang menemukan sepatu ini adalah yang menyimpannya,” kata Lanny.
“Kau benar-benar keras kepala, Lanny,” kata ibu Lanny sedikit marah
“Tidak. Aku akan memakainya. Sepatu ini ada di pinggir jalan dan pemiliknya sudah membuangnya,” Lanny masih keras kepala.
“Lanny , pemilik sepatu itu pasti sedang kebingungan mencari sepatunya,” ibu Lanny masih membujuk Lanny.
“Ibu tidak akan membiarkan kau memakainya, Lanny. Ibu tidak suka. Dan berjanjilah pada ibu kau tak akan pernah memakainya” tegas ibu Lanny.

Pada akhirnya Lanny pun menuruti permintaan ibunya.

Dengan perasaan sedih Lanny menyimpan sepatu itu tanpa pernah memakainya. Walaupun dia sangat menginginkannya.

Hingga suatu hari ibu Lanny jatuh sakit. Sakitnya cukup parah. Lanny sudah berusaha merawat ibunya sebaik mungkin. Namun, sayangnya ibu Lanny tidak dapat bertahan lama. Ibu Lanny meninggalkan Lanny untuk selamanya.

Lanny merasa sangat sedih. Dia kini hidup sendirian.

Ketika hari dimana ibu Lanny akan dimakamkan, akhirnya Lanny memakai sepatu merah itu. Dia memakainya ke pemakaman. Semua orang yang hadir di pemakaman memperhatikan Lanny dan kakinya yang dibungkus dengan sepatu berwarna merah. Dan tiba-tiba ada seorang janda yang sudah tua menghampiri Lanny. Merasa kasihan pada Lanny karena Lanny yatim piatu, janda itu mengadopsi Lanny karena janda itu tak memiliki anak.

Tatapan janda itu jatuh pada sepatu yang dikenakan Lanny.

“Nak, jangan kenakan sepatu merah untuk acara pemakaman. Sangat tidak sopan,” nasihat janda itu.
“Tidak,” sahut Lanny.
“Aku ingin kau melepaskan sepatu itu dan berjanji tidak akan memakainya,” janda itu masih membujuk Lanny.
“tidak,” Lanny masih keras kepala.
“Jangan keras kepala, Nak,” kata janda itu lembut.
“Baiklah, ayo ikut aku ke rumah. Di rumah aku mempuyai beberapa pakaian dan sepatu yang bisa kau kenakan. Dan tinggalkan sepatu merah jelek ini,” bujuk si Janda.

Dan, Lanny pun menuruti permintaan si Janda. Lanny meninggalkan sepatu itu dan ikut dengan si Janda ke rumahnya.

Di rumah si Janda, Lanny diberi pakaian dan sepatu yang lebih baik dari milik Lanny sebelumnya.

Lanny merasa senang.

Dari tahun ke tahun Lanny tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik. Sepatu dan beberapa pakaian yang ia punya mulai tidak cukup ia kenakan.

Maka, pagi itu Lanny diajak oleh si Janda untuk pergi ke pasar. Janda tua itu berpikir akan membelikan Lanny sepatu dan pakaian.

Di sebuah toko sepatu, Lanny melihat sepasang sepatu berwarna merah yang sangat mirip dengan sepatu yang ia temukan dulu.

“Aku ingin sepatu merah ini,” katanya tegas.
“Sepatu itu terlalu mahal, Lanny, uangku tidak cukup. Kita harus menyisakan untuk pulang nanti. Kakiku terasa sakit jika harus berjala jauh” kata si Janda sabar.
“Tidak. Aku mau sepatu merah ini menjadi milikku,” Lanny masih keras kepala.
“Jangan keras kepala, Nak,” si Janda mengingatkan.
“Tidak, aku mau yang itu. Atau aku tidak mau memakai sepatu sama sekali,” Lanny keras kepala.
“Baiklah,” si Janda mengalah. Ia sangat menyayangi Lanny dan ia tidak bisa menolak keinginan Lanny. Dia membelikan sepasang sepatu merah dan sepatu berwarna gelap.

Setelah membayar barang-barang itu, mereka berjalan pulang.
Lanny sangat senang dengan sepatu merah itu. Dan si Janda harus berjalan sangat pelan agar tubuhnya tidak merasa sakit. Namun, Lanny tidak memikirkan si Janda yang berjalan kesakitan.

Keesokan harinya.

“Kita akan ke acara pemakaman, Lanny. Dan kuharap kau besok tidak mengenakan sepatu merah itu. Karena tidak sopan,” kata si Janda Tua.

Lanny diam saja tidak menyahut. Namun, dalam hati dia berkeras akan mengenakan sepatu merah kesayangannya.

“Tak ada yang bisa menghentikanku mengenakan sepatu merah yang cantik ini,” katanya pada dirinya sendiri.

Maka, ia mengenakan gaun gelap yang panjangnya hampir menutupi kakinya. Dia berjalan di belakang si Janda Tua. Dia tidak ingin diceramahi soal sepatu merah itu.

Setibanya di pemakaman, orang-orang memperhatikan kaki Lanny yang dibalut sepatu merah. Mereka menatap dengan tidak suka.

Si Janda Tua menyadari Lanny tidak mendengarkan nasihatnya tadi pagi.

“Kenapa kau kenakan sepatu itu? Sudah kukatakan jangan pakai sepatu merah itu, Lanny. Itu sangat tidak sopan,” si Janda terlihat marah.
“Kenapa? Ini sepatuku, terserah aku mau memakainya atau tidak,” Lanny masih keras kepala.

Tiba-tiba datang seorang perempuan tua dengan pakaian lusuh menghampiri Lanny dan berjongkok di depan Lanny sembari berbisik.

“Wahai, sepatu merah yang indah. Jadilah keras kepala seperti pemilikmu, menarilah dan jangan berhenti sebelum anak ini merasa bersalah karena sudah keras kepala.”

“Hei, apa yang kau lakukan,” kata Lanny keras.
“Kulihat sepatumu sangat cantik, anakku. Sangat cocok untuk menari. Apakah kau penari yang hebat?” tanya nenek itu.
Mendengar penuturan nenek itu, Lanny merasa bangga. Kemudian dia tersenyum bangga dan menunjukkan pada si perempuan tua bahwa ia penari yang hebat. Dan setelah itu terjadi Lanny tak dapat berhenti menari. Dia menari dan terus menari. Si Janda tua terlihat kebingungan.

“Lanny, Lanny!” teriaknya.

Lanny pun menjadi tontonan banyak orang. Orang-orang yang hadir di pemakaman itu hanya melihat tanpa ada rasa simpati dna berlalu pergi.

Lanny menari hingga memasuki hutan. Berhari-hari Lanny berada di hutan. Dia kelelahan dan kelaparan. Dia rindu rumahnya. Dan juga si Janda tua. Dia menyesal sudah tidak mendengarkan nasihat si Janda. Dia sangat menyesal. Kemudian di tengah tariannya yang semakin lemah dia menangis.

Ajaib. Sepatunya berhenti saat itu juga.

Lanny pun melepas sepatu itu. Dan mengikatnya dengan tali. Lanny berjalan lemah menuju rumah janda tua. Sesampainya di depan pintu rumah, janda tua langsung memeluknya. Lanny menangis tersedu-sedu dan menyesali sikapnya yang keras kepala.

Janda tua memaafkan sikap anak angkatnya.

Setelah kejadian itu, Lanny tidak keras kepala lagi. Dan sepatu merah yang selalu menjadi kesayangannya, ia simpan dalam kotak dan tak pernah ia pakai lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here