Eva Carneiro, Dokter Tim yang Kariernya Dihancurkan Mourinho

0
168

Menjadi idola publik di tengah deretan muka-muka masam di bangku cadangan Chelsea, Eva Carneiro seharusnya menikmati karier indah untuk ukuran seorang dokter tim.

Akan tetapi, kariernya praktis hancur dalam suatu momen.

Chelsea sedang dalam kondisi kalah jumlah pemain saat Eden Hazard tergeletak dalam laga melawan Swansea di laga pertama Liga Inggris 2015/16. Carneiro melakukan tugas rutinnya dengan melakukan pertolongan ke Hazard. Sekilas tak ada yang salah dari momen ini, tapi begitu ia kembali ke tempat duduknya, ia mendapat tatapan mengerikan dari Jose Mourinho.

Sang pelatih yang gagal meraih tiga poin murka karena dengan tindakan Carneiro merawat Hazard, jumlah pemain di lapangan hanya berjumlah sembilan. 9 melawan 11 dan Mou menyayangkan kegagalan timnya mencuri gol karena pekerjaan Carneiro. “Semua stafku, baik itu dokter tim atau kitman, seharusnya memahami pertandingan. Dia (Carneiro) membuat tim berjuang dengan delapan pemain,” ujar Mou seusai laga.

Tiga hari kemudian Carneiro diumumkan tak akan lagi mendampingi tim di setiap pertandingan. Ia hanya diperbolehkan bertugas di sesi latihan. Beberapa minggu kemudian, di bawah tekanan media dan dugaan pelecehan seksual, dia memilih ke luar dari Chelsea.

Ia lalu menggugat Chelsea ke pengadilan, dan memenangi gugatan tersebut. Chelsea diharuskan membayar denda sebesar 5 juta poundsterling dan mengakui bahwa Carneiro tak pernah salah.

Hidup Carneiro bisa saja lebih buruk. Pada pekan ketika Carneiro dikonfrontasi Mourinho, sang mantan pacar mengungkap sesuatu ke publik. Ia mengatakan, “Carneiro ialah perempuan yang gila hubungan seks. Suatu waktu saat dia marah, dia mengatakan pernah tidur dengan salah seorang pemain. Dia mengatakan padaku tentang itu hanya untuk membuatku bersalah, tapi aku yakin itu benar-benar pernah terjadi.”

Bagaimanapun, hingga kini ia belum kembali ke sepak bola. Ia bahkan tidak pernah menonton sepak bola sejak dipecat Chelsea. “Kalau boleh jujur, hampir butuh waktu setahun untuk membuatku kembali menonton sepak bola. Laga final Liga Champions 2016 ialah satu-satunya pertandingan yang sanggup membuatku bertahan di depan televisi tahun itu,“ ucap sang dokter pada 2016.

Kini, ia membuka klinik olah raga sendiri di Harley Street. Ia masih mencintai sepak bola.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here