Enam Cara Guardiola Memenangi Liga Inggris

0
47

Pep Guardiola menjuarai Liga Inggris musim lalu dengan memecahkan rekor poin terbanyak dan memainkan sepak bola indah. Berikut resepnya…

1. Dominasi Penguasaan Bola
Chelsea pada musim sebelumnya atau Leicester pada musim sebelumnya lagi membuktikan tim juara tidaklah harus pandai menguasai bola. Akan tetapi, Guardiola mengembalikan marwah penguasaan bola dengan mengantarkan City ke tangga juara dengan mengandalkan permainan indah yang membutuhkan penguasaan bola. Dengan rata-rata penguasaan bola 66,4 persen dan umpan terselesaikan 89%, City memuncaki klasemen dua indikator tersebut, sekaligus memuncaki klasemen keseluruhan dengan selisih 21 poin dari tim kedua.

2. Bola Panjang Ederson
Tipe permainan membutuhkan seorang kiper yang pandai mendistribusikan bola. Guardiola selalu menekankan seorang kiper tidak boleh hanya mampu menggunakan tangannya. Dan Ederson, selain punya kemampuan menghentikan tembakan lawan, bukan sembarang distributor: ia berbeda dari Claudio Bravo dalam hal memindahkan bola. Bravo melakukan hal minimal: memnidahkan bola secara diagonal ke sisi sayap. Ederson jauh lebih dari itu: ia punya akurasi umpan lambung yang luar biasa. City memanfaatkan aturan tidak-offside bola dari tendangan gawang, sehingga Ederson dapat langsung mengantarkan bola ke tiga pemain terdepan yang menunggu di belakang bek.

3. Bek Sayap Menusuk ke Dalam
Guardiola sebelumnya meminta bek sayapnya untuk merangsek hingga posisi gelandang. Kyle Walker dan Fabian Delph yang jadi bek sayap musim lalu bermain dengan instruksi sedikit lebih ke dalam. Seringkali, Delph yang posisi aslinya ialah gelandang, menjadi pemain yang memberi tenaga tambahan di tengah lapaangan alih-alih menyisir sayap. Posisi lebih ke dalam ini pula yang membuat Walker ditaruh sebagai bek tengah di timnas Inggris di Piala Dunia 2018.

4. Sayap yang Mumpuni
Di Barcelona, Guardiola memasang penyerang tengah yang ditaruh di sayap seperti Thierry Henry atau David Villa. Di Bayern Munich, ia menggunakan inverted winger dalam diri Arjen Robben dan Frank Ribery, yang selalu berusaha menusuk dari tepi, lalu mencari celah menggunakan kaki terkuat. Di City, ia memakai sayap yang sesuai dengan kaki terkuatnya. Leroy Sane yang kidal bermain di kiri, sebaliknya Raheem Sterling di kanan. Keduanya amat sering menempati posisi lebih melebar dari bek sayap, menunggu kiriman matang dari Kevin De Bruyne.

5. Faktor De Bruyne dan David Silva
De Bruyne dan Silva ialah dua pemain kreatif yang bisa mencipta fantasi bagi tim, tapi taka da yang pernah benar-benar menggunakan dua tipe pemain tersebut secara bersamaan di Liga Inggris masa silam. Apa lagi, mereka berdua merupakan dua pemain menyerang dari tiga gelandang, yang di sisi defensif diisi Fernandinho. Kreativitas dua orang ini membuat Sane dan Sterling cukup menunggu di sisi lapangan.

6. Umpan “Ekstra”
Semua pemain di dunia akan menembak jika mendapat peluang bagus, tapi pemain City tidak. mereka akan melewatkan kesempatan itu, dan malah mengumpan ke rekan yang berpeluang jauh lebih bagus. Sterling misalnya, mencetak gol dalam banyak kesempatan karena kemurahan hati rekan setimnya. Alhasil, empat pemuncak top assist di Liga Inggris diisi Pemain City: De Bruyne (15 assist), Sane (12), serta Silva dan Sterling (11).

Begitulah, cara Guardiola menangani tim itu memang menarik untuk ditelisik. Di Musim tiga, kita lihat apakah ia mampu mempertahankan level di titik tertinggi, terlebih lawan juga sudah berbenah. City saat ini sama-sama memiliki 20 poin dengan Liverpool dan Chelsea di puncak klasemen Liga Inggris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here