Dua Minggu Tersesat di Hutan Kalimantan

0
56

Hai, aku Andrew. Hari ini aku akan menceritakan pengalamanku tersesat selama dua minggu di hutan kalimantan.

Perjalananku dimulai pada awal Agustus tahun 2016, aku berangkat ke Serawak Malaysia setelah aku kehilangan pekerjaanku. Waits, aku nggak dipecat lho ya. Hanya saja, hari itu bos besarku datang ke kantor dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, dia bilang begini ‘udahan aja ah’. Hmmm, rasanya saat itu aku kecewa. Biar bagaimana pun aku sudah menjalankan bisnis perusahaan selama tiga tahun setengah, dan pekerjaan ini juga yang membuatku sukses pindah ke Queensland, tapi sayangnya, perusahaan mengalami kolaps.

Mungkin, aku kedengaran agak kecewa dan jengkel, tapi sebenarnya aku merasa lega.

Dan setelah tragedi kehilangan pekerjaan itu, aku memutuskan untuk tidak terburu-buru mencari pekerjaan lagi. Aku mau menikmati masa-masa tidak terikatku, jadi untuk itu aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar, ya sejenis traveling, dan kayaknya aku juga butuh waktu untuk merenungi apa sih yang aku prioritaskan dalam hidup dan sebenarnya apa sih aku cari di kehidupanku ini.

Destinasi liburan yang aku pilih saat itu adalah aku ingin ke Serawak, Malaysia. Jadi aku memesan tiket pesawat ke Malaysia, yang kemudian membuatku jadi bocah petualang dadakan yang berbekal ransel di Serawak selama hampir 3 bulan.

Dan for your information, etnis di Serawak itu beraneka ragam, dari etnis melayu (yang mayoritas muslim), etnis tinghoa, dan warga suku dayak, yang merupakan penduduk pribumi. Setiap etnis yang aku sebutkan tadi, masing-masing punya sejarah yang unik di Kalimantan.

Untuk suku Dayak, mereka mengikuti tradisi dan hidup di daerah pedalaman Kalimantan dengan suku mereka sendiri, bahasa mereka sendiri, pakaian tradisional yang khas, dan makanan yang menurutku enaaaaaaaak banget. serius deh, kamu harus coba.

Aku betah banget kumpul sama orang-orang di sana, aku juga menyukai pemandangannya. Karena melihat pesona yang ditawarkan oleh Serawak, aku memutuskan untuk pergi ke taman nasional  dengan niat mendaki Gunung Mulu, yang memiliki tinggi kurang lebih 2.400 meter diatas permukaan laut.

Awalnya aku ingin sampai puncak dalam waktu sehari, atau mungkin lambat-lambatnya sehari semalam deh. Soalnya, di Tasmania, aku ini udah sering naik gunung, jadi aku pikir ini akan sangat gampang. Dan aku perkirakan sehari pasti kelar.

Jadi intinya, aku itu merasa jumawa dan takabur di saat aku harusnya mempersiapkan diri dan menjadi manusia siaga.

Kemudian, tiba di hari H aku mendaki, itu adalah tengah hari pertama, aku sampai di kamp tertinggi. Di tengah pendakian, hujan deras mengguyurku, dan keadaan itu membuatku untuk menginap semalam di pondok kayu, sebelum aku naik ke puncak pagi hari. Merasa yakin bahwa aku tidak akan berlama-lama di gunung, aku menghabiskan semua perbekalanku sebelum tidur.

Saat shubuh aku mulai naik lagi. Perjalanan menuju puncak cukup mudah, setelah potret sana sini, aku memutuskan untuk pulang. dan inilah awal mula keadaan menjadi carut marut.

 

Setelah berjalan beberapa kilometer dari puncak, aku salah belok euy. Begok nggak tuh? Aku melintasi sungai dan jalan setapak, aku berusaha kera mengingat jalan pulang, tapi sia-sia, aku tak ingat apa-apa. dan aku tidak menemukan jalannya.

Aku mencoba untuk tetap tenang.

“jangan panik andrew, jangan panik andrew.”

Itu adalah kalimat penenangku saat itu. Sore berubah menjadi malam, aku belum panik, karena aku punya keyakinan kuat kalau aku akan menemukan jalan pulang dalam beberapa jam.

Bukannya menunggu matahari pagi, aku malah terus berjalan di dalam hutan, dan mengira-ngira jalan keluar dari hutan.

Dalam hati yakin banget jalan yang lewati sudah benar dan aku yakin kalau jalan keluar sudah dekat.

Dan eng ing eng, ternyata aku salah. Semakin jauh aku berjalan, aku semakin kehilangan arah.

Sampai waktu fajar, aku udah nyasar-nyasar nggak jelas, tpi tetap aja, dasar akunya yang sombong dan over confidence, aku tetap dengan keyakinan bahwa aku akan menemukan jalan keluar.

Dua hari, tiga hari, dan seterusnya aku udah nggak bisa menghitung lagi berapa lama aku nyasar di hutan.

Selama tersesat aku hanya makan sedikit. Awalnya, aku menemukan segenggam buah-buahan hutan yang aku enggak tahu apa nama dan jenisnya. Rasanya tuh, asem dan aneh. Sesudahnya, aku menemukan buah berwarna kekuningan yang kulitnya berduri, ukurannya kira-kira sebesar Cherry besar. Dan rasanya sama anehnya dengan buah yang pertama aku temukan.

Tapi, aku tetap memaksa tenggorokanku untuk menelan buah-buahan itu. Dan untuk menghilangkan rasa getirnya, aku meminum air yang aku kumpulkan dari sungai-sungai sepanjang perjalanan.

Dalam hati aku berdoa, semoga buah-buahan yang aku makan tadi tidak beracun.

Di tengah acara nyasarku, penemuan buah yang rasanya aneh dan tidak enak terus berlanjut, berikutnya aku menemukan buah yang lebih besar dan berwarna gelap.

Jangan tanya rasanya, hieks, sama enggak enaknya dengan buah-buahan yang pertama. Dan beberapa hari setelahnya, aku menemukan pakis lokal, biasa disebut paku pakis. Aku tahu tanaman ini bisa dimakan warga Serawak. Lalu aku memakan pakis itu, dan saat itulah aku sadar kalau aku bisa saja membakar lebih banyak energi daripada apa yang aku konsumsi.

Lalu hari berikutnya, aku mendaki gunung lagi, aku pikir aku bisa mencari tahu dimana aku sebenarnya. Aku mencoba mengikuti matahari ke arah barat, menuju sungai besar di kawasan ini, yang membuatku memutuskan untuk berjalan ke selatan menuju Park HQ. Meski demikian, kanopi hutan membuatku kesulitan mengikuti matahari, selain itu ada beberapa gunung juga yang menghalangi. Kendala lainnya juga berupa jalanan setapak berbatu yang bikin susah berjalan.

Dan hasilnya kamu tahu sendiri, sangat mustahil mencari arah. Ditambah lagi aku tidak punya peralatan yang memadai.

Jadi aku berjalan, memanjat, tidur, dan makan kapanpun aku bisa.

Di tengah perjalananku yang tersasar di negeri antah berantah seperti ini, membuatku merenung dan berpikir dalam. Tiba-tiba bayangan orang-orang yang aku khianati muncul. Aku melakukan pengkhianatan denmi petualangan.

Aku jadi malu sendiri karena sudah ceroboh dan tersesat. Tapi, aku tidak pernah marah dengan situasi seperti ini, menurutku marah-marah dan putus asa hanya akan menghabiskan energi, jadi daripada aku kehabisan energi untuk sesuatu yang tidak penting, aku lebih memilih untuk mengalokasikan tenagaku untuk mencari jalan keluar.

Aku percaya dan yakin, aku akan selalu baik-baik saja. kalimat itu adalah mantra terbaik untukku selama tersesat.

Tapi, jujur saja, badanku rasanya nyeri. Dan aku juga mulai berhalusinasi tentang makanan dan orang-orang yang mungkin tidak akan aku lihat lagi. Perasaanku juga labil, kadang merasa damai, kadang panik, walaupun lebih banyak paniknya sih. Tapi, aku terus memaksa diriku untuk terus berjalan untuk temukan jalan keluar.

Dan di malam hari, entah aku tidak tahu ini malam ke berapa, aku diserbu oleh pasukan semut. Aku berusaha mengusir semut-semut tidak berperikemanusiaan itu dengan menyalakan senter, padahal aku tahu, senter itu hanya akan menyala sebentar, karena batrenya nyaris habis.

Untuk upaya pertahanan diri, aku mengambil batu kecil dan aku mulai menggerus semut-semut yang mencoba mendekat dan menggigitku. Senterku kadang mati kadang nyala, menyinari kekerasan yang aku lakukan terhadap para semut.

Ketika belasan ekor semut sisanya sudah mati dan menjauh, aku meletakkan senter di atas kepala dan mencoba mencari posisi yang nyaman untuk tidur.

Luka-luka di betis terasa pedih, tidak hanya itu aku juga harus menahan nyeri di kaki. Nyeri kaki itu gara-gara aku yang terus berjalan menelusuri sungai dan sepatuku robek, dan menggores telapak kaki. Akibatnya aku terkena infeksi, ya ampun, rasanya nyut-yutan banget kalau dipaksakan buat jalan, dan setelah lewat sehari mulai berbau busuk. Dan aku pikir solusi satu-satunya untukku saat ini adalah aku kembali tidur dan menikmati alam bawah sadar.

Dan gara-gara serangan yang dilakukan oleh pasukan semut malam itu, aku merasa pagi jadi terlalu cepat muncul. Aku bergegas mengabsen nyawa agar cepat berkumpul, mengambil kaus kaki yang masih basah, dan dengan hati-hati membersihkan tanah liat yang menguning di kakiku.

Setelah itu aku membalik kaus kaki dan menggulungnya, lalu aku mengenakan sepatuku lagi.

Aku mencoba untuk berdiri, dan baru aku sadari fisikku semakin lemah. Dan rasanya sangat mustahil untukku melewati hari untuk menghadapi jalan berbatu dan langit yang tertutup pohon dan gunung.

 

Setelah berjalan selama beberapa jam, aku berhenti sejenak. Aku mendengar suara-suara yang familiar. Suara apa itu? Semoga suara manusia ya Tuhan.. lalu aku melihat dari kejauhan sebuah papan kayu berjalan.

Saat itu aku jadi yakin, aku tidak sedang berkhayal. Yang aku dengar bukan hanya suara manusia, tapi juga suara manusia berbahasa inggris. Suara-suara itu sedang mengeluhkan cuaca panas di sini.

Jantungku berdegup kencang dan aku mencoba berjalan menuju papan kayu berjalan itu. Aku menerobos pepohonan dan mengira-ngira seberapa jauh aku sudah berjalan ke arah selatan sampai akhirnya aku bertemu manusia.

Masih jauh, tapi bodo amat. Yang penting aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

Dan… ternyata lagi-lagi aku salah. Saat aku mendekat, aku sadar kalau papan kayu berjalan itu hanyalah pohon tumbang.

“TOLOOOOOOONG!” teriakku sekencang mungkin pada turis-turis yang suaranya masih bisa kudengar.

Dan mereka tidak menyahut. Ya Tuhan… kenapa enggak nyahut sih? Apa mereka nggak tahu kalau aku benar-benar butuh pertolongan.

“PLEASE!” aku berteriak lagi. Dan kemudian aku berteriak lagi, kali ini dengan nada memelas. “Pleeeeeeeeeeeeeeease?”

Tetap tidak ada yang menjawab. Tidak ada papan kayu berjalan apalagi turis di sekitarku. Aku mengalami delusi dan tentu saja aku masih tertsesat. Di momen itulah, aku perlahan merasa tidak mungkin untuk diselamatkan.

Tapi, takdir berkata lain, beberapa hari kemudian, para tim pencari Malaysia berhasil menemukanku. Mereka melakukan pencarian dengan mengunakan helikopter.

Mereka menemukanku dalam kondisi kakiku yang dipenuhi lintah. Melihat keadaanku yang sangat lemah, mereka segera membawaku ke Rumah Sakit Miri.

Aku tidak tahu awal mula pencarian yang dilakukan oleh tim pencari Malaysia padaku. yang jelas aku sangat bersyukur, karena ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan untuk mencapai ulang tahunku yang ke 26 dan bertemu dengan ibuku.

Tapi, walaupun aku mengalami hal buruk seperti yang tadi aku ceritakan, aku masih tetap ingin melanjutkan perjalananku di Serawak dan Sabah. Hehew,

Dari perjalananku aku mendapat satu pelajaran, bahwa sehebat apapun kamu, jangan pernah jadi orang yang sombong dan takabur, nanti bisa berakibat fatal sepertiku.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here