DONGENG BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

0
6
deviantart.com

DONGENG BAWANG MERAH BAWANG PUTIH

Kisah ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Alkisah pada zaman dahulu, di salah satu kampung di Yogyakarta, ada sebuah keluarga yang cukup harmonis. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak perempuan bernama Bawang Putih. Ayah dari gadis itu bukanlah seorang pedagang besar, namun kehidupan mereka terbilang damai, rukun dan harmonis. Sayangnya, keharmonisan mereka harus terhenti karena kepergian sang ibu untuk selama-lamanya.

Bawang Putih sangat terpukul atas kepergian ibunya. Bawang Putih jadi sering menyendiri dan merasa kesepian. Beruntung di desa itu ada seorang janda yang baik hati, panggil saja ia Mbok Jana. Mbok Jana sering berkunjung ke rumah Bawang Putih untuk sekedar membawakan makanan dan menemani mereka ngobrol. Mbok Jana juga tidak segan-segan mau membantu membersihkan rumah Bawang Putih. Keberadaan Mbok Jana membuat ayah Bawang Putih tertarik untuk menikahinya dan bertujuan agar Bawang Putih tidak merasa kesepian lagi.

Sang ayah pun bertanya pada putri semata wayangnya perihal sang ayah akan menikah lagi dengan Mbok Jana.

“Anakku Bawang Putih menurut ayah Mbok Jana adalah sosok ibu yang penyayang. Mungkin akan lebih baik jika ia menjadi bagian dari keluarga kita,” kata ayah Bawag Putih.

“Menurutmu bagaimana?” tanya ayah Bawang Putih lagi.
Bawang Putih memahami maksud dari ayahnya.

“Menurut Putih, Mbok Jana bisa membuat suasana rumah kita menjadi ramai, Ayah. Putih jadi tidak kesepian lagi. Ditambah lagi, Mbok Jana memiliki seorang anak perempuan seumuranku yang bernama Bawang Merah,” kata Bawang Putih.

“Putih tidak apa-apa jika ayah menikahi Mbok Jana,” putus Bawang Putih tulus.

Pernikahan pun dilangsungkan dengan sederhana. Setelah menikah Mbok Jana dan putrinya tinggal bersama Bawang Putih dan ayahnya.

Awalnya Mbok Jana dan putrinya bersikap baik pada Bawang Putih, terutama saat sang ayah sedang di rumah. Namun, setelah beberapa lama tinggal di rumah itu, sikap Mbok Jana dan Bawang Merah terhadap Bawang Putih mulai berubah. Sifat buruk mereka mulai kelihatan. Ketika sang ayah sedang tidak berada di rumah, Mbok Jana tidak segan-segan memberikan pekerjaan yang berat kepada Bawang Putih. Mbok Jana juga tidak pernah membiarkan Bawang Putih beristirahat barang sebentar. Dalam sehari Bawang Putih hanya boleh makan sekali saja, bahkan kadang Bawang Putih ditampar jika pekerjaan yang ia kerjakan ada yang salah sedikit.

Berbanding terbalik dengan Bawang Putih yang penuh dengan pekerjaan berat, Bawang Merah sangat dimanjakan oleh Mbok Jana, ibunya. Bawang Merah kerap menyuruh-nyuruh Bawang Putih. Mbok Jana dan putrinya hanya bersantai-santai sambil mengawasi Bawang Putih bekerja. Walaupun mendapat perlakuan yang buruk, Bawang Putih tetap sabar.

Sampai suatu ketika sang ayah meninggal dunia. Ini membuat Mbok Jana dan Bawang Merah semakin bersikap semena-mena terhadap Bawang Putih. Setiap harinya, Bawang Putih harus bangun super pagi untuk menyiapkan segala keperluan Mbok Jana dan Bawang Merah dari mulai menyiapkan makanan sampai air hangat untuk mandi. Segala pekerjaan rumah tangga yang mengerjakan adalah Bawang Putih.

Hingga suatu pagi, seperti biasa Bawang Putih membawa pakaian-pakaian yang kotor ke sungai. Namun, sayangnya saat ia sedang mencuci ada salah satu pakaian yang hanyut. Dan yag lebih buruk dari itu adalah pakaian yang hanyut adalah pakaian milik Bawang Merah. Bawang Putih panik, ia segera menyusuri sungai. Sayangnya, walaupun ia sudah mencari hingga ke hilir, pakaian itu tidak ditemukan.

“Bagaimana ini,!” gumam Bawang Putih pada dirinya sendiri dengan nada cemas
“Ibu dan Bawang Merah pasti marah,” Bawang Putih masih cemas

Bawang Putih pun memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Bawang Putih menceritakan kejadian sebenarnya. Mbok Jana sangat murka. Dipukulinya Bawang Putih dengan rotan hingga lebam.

“Dasar, ceroboh! Cari baju itu dan jangan pulang sebelum ketemu,” hardik Mbok Jana

Bawang Putih kembali lagi ke sungai dengan hati sedih. Air matanya terus menetes, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia mencari pakaian itu mulai dari tempatnya mencuci baju hingga ke hilir sungai.

Bawang Putih terus berjalan menyusuri sungai hingga ia bertemu dengan seorang nenek-nenek bertubuh raksasa. Dengan takut-takut Bawang putih mendekati nenek raksasa tersebut dan menanyakan soal pakaian yang hanyut.

“Permisi, Nek. Apakah nenek melihat sebuah pakaian yang hanyut di sungai ini? Pakaian itu berwarna merah,” tanya Bawang Putih

Nenek raksasa itu menangguk.

Betapa leganya Bawang Putih, ternyata pakaian Bawang Merah yang hanyut disimpan oleh nenek raksasa tersebut.

“apakah aku boleh memintanya, Nek?” tanya Bawang Putih
“Boleh, dengan syarat kau mau membantuku memasak,” Nenek itu mengajukan syarat.

Bawang Putih yang sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah bersikap biasa saja. Hanya saja ia sempat bergidik ngeri ketika melihat peralatan memasak nenek raksasa. Peralatan itu berasal dari tulang-tulang manusia. Bawang Putih berusaha bersikap biasa.

Setelah selesai dengan urusan membantu memasak, pakaian Bawang Merah pun dikembalikan oleh nenek raksasa.
Namun, sebelum Bawang Putih berbalik menuju rumahnya, si nenek menghadiahi Bawang Putih sebuah labu. Saat itu Bawang Putih ditawari apakah akan memilih yang besar atau yang kecil. Baawang Putih adalah anak perempuan yang tidak serakah. Ia memilih labu yang berukuran kecil.

“labu ini kau buka saat sudah sampai di rumah,” ucap nenek itu

Bawang Putih menngangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada si nenek.
Setibanya di rumah, Bawang Putih membelah labu tersebut. Betapa terkejutnya dia, ternyata isi labu tersebut berupa emas. Ibu tiri dan saudara tirinya yang melihat labu Bawang Putih langsung merebut dan menanyai bagaimana Bawang
Putih mendapatkan banyak emas seperti itu.

Bawang Putih pun menceritakan semuanya.

Keesokan harinya Mbok Jana menyuruh Bawang Merah mengikuti apa yang dilakukan oleh Bawang Putih. Sama seperti Bawang Putih, Bawang Merah bertemu nenek raksasa dan disuruh membantu nenek raksasa memasak. Karena Bawang Merah tidak pernah memasak, jadilah ia membantu dengan asal-asalan.

Setelah selesai, nenek itu memberikan hadiah yang sama. Namun karena Bawang Merah adalah anak yang serakah, ia memilih labu yang besar. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia berlalu pulang kembali ke rumahnya.

Sesampainya di rumah dengan tidak sabar ia dan ibunya membuka labu itu, namun sayangnya isi dari labu itu berbeda dari isi labu milik Bawang Putih. Labu itu berisi hewan-hewan berbisa, yang menyerang dan membunuh mereka. Mereka pun akhirnya tewas. Dan Bawang Putih terbebas dari keduanya. Emas yang semula direbut oleh ibu tiri dan saudara tirinya pun ia ambil kembali dan ia jual guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pesan untuk kita semua, jangan seperti Bawang Merah yang sudah tukang nyuruh, manja serakah pula. Endingnya dia dimakan hewan-hewan berbisa kan? Nah, Bawang Putih adalah contoh yang baik untuk ditiru, dia mandiri dan memiliki hati yang sabar serta tulus. Dan yang namanya kebaikan akan selalu kembali kepada siapa yang melakukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here