Demi Supaya Aku Sembuh dari Sakit, Suamiku Berakhir Tragis

0
5

Dalam bahasa jawa aku pernah mendengar istilah ‘garwa’. Garwa sendiri merupakan kependekan dari ‘sigaraning nyawa’, kalau diartikan ke bahasa Indonesia artinya belahan jiwa. Di balik sebutan itu terkandung makna bahwa istri adalah “sigaraning nyawa” atau “belahan jiwa” bagi sang suami. Dulu aku mendengar penjelasan itu dari suamiku, awalnya kurang paham degan maksudnya, tapi waktu dijelaskan kenapa nama kontakku di HP-nya ‘Garwa’ aku langsung tersipu-sipu malu. Kata suamiku, ‘garwa’ itu sebutan paling romantis yang pernah ada, karena sebutan ‘garwa’ itu sebutan kehormatan bagi seorang istri di tanah jawa.

Aku yang tadinya mau ngambek, nggak jadi ngambek gara-gara penjelasan yang amat filosofis itu. Dasar aku!

Orang-orang memanggilku Luluk. Aku cuma seorang ibu rumah tangga yang sehari-harinya hanya mengurus anak dan suami di rumah. Ternyata jadi ibu rumah tangga itu nggak semudah kelihatannya lho. Bisa dibilang sama-sama melelahkan. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Dari sebelum shubuh sampai aku beranjak tidur. Pagi-pagi aku akan disibukkan dengan menyiapkan sarapan untuk anak dan suamiku, setelah itu aku akan sibuk membereskan rumah dari cuci piring, ngepel sampai cuci baju. Setelah itu baru bisa nafas. Lalu sore harinya aku akan memasak lagi untuk makan malam bersama dengan anak dan suamiku.

Jadi, kalau aku minta pakai jasa ART maka itu artinya jatah belanjaku akan berkurang. Suamiku bukan pegawai yang bergaji tinggi, dia hanya seorang driver ojol. Sebagai istri yang baik, aku tidak ingin menjadi beban bagi suamiku dengan banyak menuntut hal-hal yang sebenarnya masih bisa aku lakukan.

Awalnya suamiku tidak bekerja sebagai driver ojol. Dia tadinya karyawan sebuah PT, namun karena suatu hal PT itu melakukan pengurangan karyawan secara besar-besaran dan suamiku termasuk di dalamnya. Keluar dari PT, suamiku melamar banyak perusahaan, tapi tak satu pun memanggilnya untuk tes. Aku terus memberikan support terbaikku.

Karena keadaan yang menghimpit kami, ditambah uang pesangon yang sudah habis suamiku pun akhirnya memilih menjadi tukang ojek. Dia selalu mangkal di dekat terminal atau pasar. Menjadi tukang ojek juga tidak semudah yang terlihat, kadang suamiku tidak mendapat penumpang sama sekali dan pulang dengan tangan hampa.

Dan di era sekarang, aku sangat berterima kasih dengan teknologi dan penemu aplikasi OJOL. Aplikasi itu menyelamatkan suamiku dari situasi menganggur. Saat tahu OJOL sedang buka lowongan tukang ojek besar-besaran, suamiku langsung mendaftar. Dan ekonomi kami mulai membaik.

Keadaan kami semakin membaik saat suamiku dipanggil kerja di perusahaan teknik. Dia mulai sedikit demi sedikit mengurangi jam terbangnya sebagai driver ojol.

Bagiku, suamiku adalah kepala keluarga terbaik yang pernah aku temui. Dia tidak pernah menyakiti aku. Dia tidak pernah merokok dan minum alkohol. Dia juga suami yang sangat peduli dengan keluarga.

Apalagi saat ini aku sedang sakit-sakitan. Kemungkinan untukku sembuh sangat kecil. Tapi suamiku berusaha mati-matian agar aku bisa kembali sehat. Dia mulai menambah jam terbangnya lagi dalam mencari nafkah. Dia kerja serabutan. Apa saja asal halal dan menghasilkan uang katanya. Kata suamiku aku harus sembuh walaupun ia tahu kalau uang yang kami butuhkan untuk berobat sangat banyak.

Selama aku sakit, yang bisa aku lakukan hanya terbaring di tempat tidur, dia mengambil peranku sebagai ibu rumah tangga. Tiap pagi, dia akan menyiapkan sarapan untukku dan anakku. Baru setelah itu dia pergi berangkat kerja sekalian mengantar anakku sekolah.

Lalu seharian aku hanya tidur-tiduran di rumah. Dia sering khawatir saat meninggalkan aku di rumah, tapi aku berusaha baik-baik saja agar dia tidak terlalu memikirkan aku. Dia akan selalu bilang begini padaku ‘jika saja aku punya banyak uang, aku akan membawamu ke rumah sakit dan membiarkanmu di rawat di sana agar aku bisa tenang saat bekerja.’ Lalu aku akan bilang padanya bahwa ia tak perlu melakukan itu, karena aku akan baik-baik saja di rumah.

Selama aku sakit, suamiku bekerja sangat keras. Ia mencari banyak tambahan untuk aku berobat dan kebutuhan sehari-hari kami. Sampingannya tidak hanya sebagai driver ojol, tapi dia juga menerima orderan mengantar makanan.

Setiap pulang bekerja, aku akan melihat wajah lelah suamiku. Belum hilang lelah yang ia dapat, ia harus disibukkan dengan pekerjaan rumah yang padat. Suamiku harus menyiapkan makan malam untukku dan anak kami. Dia kepala keluarga yang bertanggung jawab. Dan dia juga benar-benar menemaniku saat sehat dan saat aku sakit.

Suatu hari, tidak biasanya sampai jam 8 malam suamiku belum sampai rumah. Malam itu suamiku benar-benar membuatku sangat khawatir.
“Kok ayah belum pulang bu?” anakku sudah 10 kali bertanya padaku tentang ayahnya yang belum pulang.
“Mungkin ayah sedang banyak orderan, nak.”

Ya, mungkin suamiku sedang banyak orderan, aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
Sambil menunggu suamiku aku meminta anakku menyalakan televisi. Tapi sampai jam 12 malam, suamiku tak kunjung pulang. Aku tidak bisa kemana-mana, tubuhku masih lemah. Dan anakku sudah terlelap. Aku berusaha menelepon suamiku ke Hp-nya, tapi nomornya tidak aktif. Maka aku berusaha tetap tenang dan berpikir positif bahwa HP-nya sedang lowbat dan dia akan pulang besok pagi.

Hingga pagi menjelang, tak ada tanda-tanda suamiku pulang. Suamiku tidak meneleponku sama sekali. Kekhawatiranku semakin bertambah saat nomornya susah untuk dihubungi. Apakah hp-nya benar-benar lowbat?

Karena bingung mau melakukan apa, aku meminta anakku untuk menyalakan televisi. Salah satu stasiun televisi itu menayangkan beberapa berita terbaru. Dari berita tentang kasus korupsi sampai berita kecelakaan.

Tiba di berita kecelakaan aku berhenti memencet-mencet ponselku.

Dari berita yang ditayangkan ada berita kecelakaan truk sampah dengan seorang pengendara kendaraan bermotor. Truk sampah itu dikabarkan terguling ke bahu jalan dan pengendara sepeda motor juga terpelanting jatuh ke sisi bahu jalan lainnya. Diketahui jika sopir truk itu tidak sadarkan diri dan pengendara sepeda motor tewas di tempat. Mulanya aku tidak terlalu peduli, tapi saat pembaca berita mengatakan bahwa yang tewas adalah seorang driver ojol, perasaanku jadi tidak enak.

Suamiku dari semalam tidak pulang dan tidak memberi kabar. Biasanya jika dia akan pulang terlambat dia akan menelponku. Tapi kenapa dari kemarin sore tidak ada kabar apa-apa darinya?

Aku berusaha menepis perasaan tidak enakku. Suamiku baik-baik saja. Dia hanya belum sempat memberiku kabar.

Tapi, tetanggaku yang seprofesi dengan suamiku mengetuk-ngetuk pintu rumahku dengan brutal. Aku meminta anakku untuk membukakan pintu secepat yang anakku bisa.
Dengan nafas yang ngos-ngosan, tetanggaku itu mengatakan bahwa suamiku mengalami tabrakan dengan sebuah truk sampah. Dan nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Jadi, yang diberitakan di televisi itu benar? Driver ojol itu adalah suamiku, dan suamiku tewas di tempat?

Aku dan anakku saling berpelukan. Kata tetanggaku, jasad suamiku sedang dalam perjalanan ke rumah. Suamiku memang pulang pagi ini, tapi dalam keadaan tidak bernyawa. Dan ia meninggal saat sedang mencari nafkah untuk keluarga.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Yang aku tahu saat itu adalah bahwa aku kehilangan ‘garwa’-ku, sigaraning nyawaku telah pergi untuk selama-lamanya.

Ini adalah akhir hidup dari seorang suami yang bertanggung jawab, ia menjalankan perannya sebagai kepala keluarga dengan baik hingga nafasnya berhenti. Ia memperjuangkan hidup belahan jiwanya hingga jantungnya berhenti berdetak. Sebenarnya bukan aku yang menjadi belahan jiwanya, tapi dialah sesungguhnya belahan jiwaku.

Terima kasih suamiku sudah pernah menjadi bagian dari hidupku dan mau menjadi belahan jiwaku, semoga kau tenang disana! Aku mencintaimu sepenuh hatiku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here