Cinta Sejati Putri Tikus

0
24

Cinta Sejati Putri Tikus

Di sebuah negeri ada seorang laki-laki tua yang memiliki tiga orang anak laki-laki. Anak-anaknya sudah dewasa namun belum menikah. Sang ayah merasa sudah waktunya, anak-anaknya memiliki pendamping hidup.

Seperti tradisi nenek moyang mereka, bahwa jika akan mencari jodoh mereka harus menebang pohon. Jatuhnya pohon dijadikan acuan arah kemana mereka akan mencari pendamping hidup mereka.

Ketiga anaknya tidak banyak bertanya walaupun sedikit heran.

“Namun, kalian harus menanam pohon terlebih dahulu sebelum menebang. Kalian tidak boleh merusak alam. Satu pohon yang kalian tebang, itu berarti tiga pohon harus kalian tanam,” jelas sang ayah.

Sang ayah memang sangat mencintai alam. Dia tidak mau tradisi mencari jodoh dengan menebang pohon menjadi sebab rusaknya alam.

Anak pertama memulai menebang pohon. Pohonnya tumbang ke arah barat. Arah barat menuju desa tetangga. Dia tersenyum senang. Dia merasa akan mudah menemukan jodohnya.

Anak kedua mengikuti kakaknya. Dia menebang pohonnya. Pohonnya tumbang ke arah timur. Itu artinya daerah perkotaan. Dia tersenyum puas. Dia merasa dapat menemukan seorang wanita cantik di kota.

Anak bungsu mengikuti kedua kakaknya. Dia berdoa agar pohon yang ia tebang menunjukkan arah yang benar. Setelah pohon tumbang, pohonnya jatuh ke arah utara. Utara berarti hutan. Anak bungsu terkejut.

Dia pun ditertawakan kedua kakaknya. Menurut kedua kakaknya, siapa yang akan si bungsu temukan di hutan. Di hutan hanya ada banyak binatang.

Si bungsu tetap merasa yakin bahwa ia akan menemukan jodohnya di hutan.

Pada hari yang telah ditentukan mereka bertiga berangkat menuju arah tujuan masing-masing.

Si sulung ke barat. Anak kedua ke timur. Dan si bungsu ke utara.

Singkat cerita si sulung bertemu dengan seorang gadis di desa itu. Gadis itu memiliki rambut indah bergelombang dan mata yang indah. Dia langsung menyatakan tujuannya bahwa ia ingin memperistri gadis itu. Gadis itu menerima permintaan laki-laki itu. Si sulung merasa senang. Dia sudah mendapatkan jodohnya. Dia pun memutuskan kembali ke rumah.

Si putera kedua juga sudah bertemu dengan seorang gadis kota yang cantik. Gadis itu memiliki kulit putih dengan senyum yang sangat manis. Gadis itu juga menyatakan kesediaannya menjadi istri putera kedua. Putera kedua pulang dengan hati riang.

Si bungsu tidak menemukan apa pun di hutan. Dia hampir putus asa. Saat merasa lelah dan ingin menyerah si bungsu melihat sebuah rumah yang cukup besar. Dia memutuskan untuk beristirahat di dalam rumah itu.

Ketika dia masuk ke dalam ia disambut oleh seekor tikus yang mengenakan pakaian seorang puteri. Tikus itu merasa terkejut dengan datangnya seorang pemuda dan merasa senang.

“Selamat datang wahai pemuda tampan. Ada angin apa hingga kau datang kemari?” tanyanya.
“Aku ingin mencari seorang kekasih untuk aku jadikan istri. Namun aku belum menemukannya sampai sekarang,” kata si bungsu sedih.

Si tikus merasa kasihan. Lalu dia menawarkan sebuah ide.

“Bagaimana jika aku saja yang menjadi kekasihmu?” tawarnya.
“Tapi kau hanya seekor tikus,” kata si bungsu.
“Walaupun aku seekor tikus, aku akan memberikan seluruh cintaku padamu dan aku hanya akan setia padamu,” jelas si tikus lagi.

Si bungsu berpikir. Dia pikir tak ada salahnya mencoba. Dia pun menerima penawaran si tikus. Si tikus tampak senang. Si bungsu pun pulang dengan perasaan lega.

Setibanya di rumah, kedua saudaranya bercerita mengenai kekasih masing-masing. Mereka berdua menanyai si bungsu bagaimana rupa bentuk kekasih hatinya yang ia temukan di hutan. Kedua saudaranya menertakan si bungsu yang menacari kekasih di hutan. Namun, si bungsu menjawab santai.

“Dia sangat imut, lembut, halus, dan penyayang.”

Kedua saudaranya tercengang. Kemudian mereka berdua berhenti menertawakan si bungsu.

Suatu hari sang ayah ingin menguji kemampuan para calon istri anak-anaknya. Maka ia meminta pada anaknya untuk dibuatkan roti paling lezat dari masing-masing calon istri mereka.

Keesokan harinya mereka bertiga berangkat menuju rumah calon istri mereka.

Calon istri si sulung membuat roti gandum yang sangat besar berisi coklat terbaik. Si sulung merasa puas dengan hasil kerja calon istrinya.

Calon istri putera kedua membuat roti gandum berukuran sedang namun cukup lembut dan rasanya cukup lezat. Putera kedua merasa senang.

Si bungsu adalah yang paling khawatir dengan kekasih tikusnya. Dia merasa ragu akan kekasihnya. Menurutnya kekasihnya tak mungkin bisa membuat roti. Dengan wajah sedih dia menemui kekasihnya. Puteri tikus yang melihat kesdihan wajah kekasihnya menjadi penasaran.

“Hai, kenapa wajahmu sangat sedih?” tanya putri tikus.
“Ayahku meminta para kekasih anak-anaknya membuatkan roti yang lezat, tapi kau hanya seekor tikus. Apa kau bisa membuatkan roti yang sangat lezat?” jelas si bungsu.
“Tenang saja. Aku bisa membuatkannya. Tunggu saja,” kata puteri tikus lembut.

Detik berikutnya dia membuntikan lonceng tiga kali dan ratusan tikus bermunculan.

“Carikan aku gandum terbaik dari seluruh dunia. Bawa kemari,” perintah puteri tikus.

Tikus-tikus itu berlarian kesana kemari. Mereka langsung melaksanakan perintah dari sang puteri. Si bungsu terkesima akan tikus-tikus itu.

Sekembalinya para tikus, tuan puteri segera mengolah gandum-gandum terbaik itu menjadi roti yang sangat lezat. Si bungsu sangat senang. Kini ia lega. Ternyata kekasih tikusnya bisa membuat roti.

Ketiga bersaudara itu kembali ke rumah dengan membawa roti hasil kerja dari calon istri masing-masing.
Sang ayah cukup puas dengan hasil dari kedua anak tertuanya. Tiba giliran si bungsu dia benar-benar merasa sangat puas.

“Roti ini sangat lezat, anakku. Bagaimana kekasihmu membuatnya?” tanya sang ayah.
“Dia membunyikan lonceng tiga kali dan para pelayannya datang kemudian melaksanakan perintah darinya untuk mencari gandum terbaik. Kemudian dia mengolahnya menjadi roti gandum putih yang sangat lezat,” jelas si bungsu.
“Wah, kalau begitu jelas kalau calon istrimu seorang puteri, anakku,” puji sang ayah.

Si bungsu merasa senang akan pujian ayahnya. Sedangkan kedua saudaranya berhenti menertawakannya.

Keesokan harinya, sang ayah mengatakan bahwa ia harus menguji para calon istri ketiga anaknya sekali lagi. Dia ingin para calon istri anaknya menenun kain untuknya.

Kedua kakak tertua si bungsu merasa bahwa para calon istri mereka akan membuatkan kain tenun yang sangat indah. Si bungsu lagi-lagi merasa takut kekasih tikusnya gagal.

Maka hari itu berangkatlah mereka.

Calon istri si sulung membuatkan kain tenun dari bahan katun kasar. Namun melihat hasil tenunan sang kekasih si sulung cukup puas.

Calon istri putera kedua membuatkan kain tenun perpaduan dari kain katun dan linen. Hasilnya cukup memuaskan putera kedua.

Si bungsu sangat resah. Saat bertemu kekasih tikusnya dia mengatakan permiantaan ayahnya.

“Ayahku memintamu untuk menenun kain untuknya, apakah kau bisa?” tanya si bungsu khawatir.
Lagi-lagi puteri tikus tersenyum.
“Tenang saja, sayang. Aku akan membuatkan kain tenun yang sangat indah untuk ayahmu,” kata puteri tikus.

Detik berikutnya dia membunyikan lonceng tiga kali dan muncul ratusan tikus.
“Carikan aku benang terbaik dari seluruh negeri!” perintahnya.

Seketika para tikus itu berlarian kesana kemari menuruti perintah puterinya.

Setelah menemukan benang terbaik dari seluruh negeri para tikus itu memberikannya pada sang puteri. Sang puteri segera menenun dengan sungguh-sungguh.

Setelah beberapa waktu hasil tenunannya sudah menjadi kain yang sangat halus dan indah. Dia memasukannya ke dalam kulit kacang.
“Nah, berikan ini pada ayahmu, sayang,” katanya.

Si bungsu sanagt senang. Ternyata kekasih tikusnya bisa melakukan semua keinginan ayahnya.

Setelah sampai di rumah, ia dan kedua kakaknya memberikan kain-kain hasil tenunannya pada ayahnya.

Dari si sulung sang ayah hanya mengatakan bahwa kain tenunan calon istrinya cukup bagus. Dari putera kedua dia hanya mengatakan lumayan. Ketika tiba si bungsu menyerahkan kain hasil tenunan kekasih tikusnya sang ayah berdecak kagum.

“Bagaimana calon istrimu membuatnya?” tanya sang ayah.
“Dia membunyikan lonceng tiga kali dan para pelayannya datang kemudian mencarikan benang terbaik dari sleuruh negeri untuk ditenun,” jelas si bungsu.
“Jelas sekali calon istrimu seorang puteri,” puji sang ayah.
“Dia memang seorang puteri,” kata si bungsu.

Kedua kakaknya merasa tidak percaya dengan yang dialami si bungsu.

Tiba saatnya sang ayah meminta pada ketiga anaknya membawa para calon istrinya ke rumah. Maka berangkatlah ketiga laki-laki itu menuju calon istri masing-masing.

Si bungsu berjalan dengan riang menuju hutan. Ketika sampai ia menjelaskan tujuannya pada puteri tikus.

Puteri tikus sangat gembira. Dia segera mengenakan gaun terbaiknya. Dan menyiapkan kereta kecil untuk dirinya. Kereta mungil itu ditarik oleh empat ekor tikus.

Mereka berjalan beriringan.

Tiba di sebuah jembatan mereka berpapasan dengan seorang yang berjalan dari arah berlawanan. Orang itu tidak suka melihat tikus melintas di jembatan, tiba-tiba menendang tikus-tikus itu hingga masuk ke dalam sungai.

Si bungsu terkejut dan marah.

“Kau menendang kekasihku,” katanya marah.
“Dia hanya seekor tikus,” kata orang itu tanpa merasa bersalah kemudian pergi.

Si bungsu sangat sedih. Kekasihnya telah hanyut bersama derasnya air sungai. Kini ia tidak bisa mengenalkan kekasihnya pada ayahnya. Dia berjalan dengan langkah gontai menuju rumahnya.

Namun, dia dikejutkan dengan adanya sebuah kereta yang sangat indah ditarik oleh empat ekor kuda. Dan di dalamnya ada seorang puteri yang sangat cantik jelita.

“Sayang, kemarilah. Duduk bersamaku,” ajak puteri itu.

Si bungsu amat bingung. Dia tidak mengenal sang puteri.
“Tapi siapa kau?” si bungsu masih heran, dia memutuskan bertanya.
“Aku adalah kekasih tikusmu yang dulu. Kau sudah menyelamatkanku dari kutukan. Jika saja orang tadi tidak menendangku ke sungai mungkin aku akan tetap menjadi tikus. Dan kau bisa menyayangiku ketika menjadi tikus dengan tulus. Sekarang kemarilah duduk bersamaku. Kita harus segera menemui ayahmu dan melangsungkan pernikahan kita di istana,” jelas sang puteri panjang lebar.

Si bungsu terkesima. Dia kemudian naik ke dalam kereta. Ia sangat bahagia. Ternyata kekasih tikusnya seorang puteri yang sangat cantik jelita.

Setibanya di rumah ayahnya, si bungsu segera mengenalkan kekasihnya. Kedua kakaknya memandang si bungsu iri. Mereka tidak menyangka adiknya akan mendapatkan seorang puteri.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan seorang puteri yang sangat cantik, anakku?” tanya ayah mereka.
“Aku menebang pohon dan pohonnya tumbang ke arah utara. Kesanalah aku pergi dan bertemu kekasihku,” kata si bungsu
Kedua saudaranya mengatakan bahwa mereka juga pasti akan mendapatkan seorang puteri jika pohon yang mereka tebang menunjuk arah utara. Namun, sayangnya mereka tidak mungkin mendapatkan puteri karena kala itu puteri sedang dalam wujud seekor tikus. Dan kedua saudara itu pasti tidak akan mau memiliki kekasih seekor tikus. Si bungsu berbeda dari mereka berdua, si bungsu memiliki hati yang baik dan mau menerima keadaan puteri saat dalam berwujud seekor tikus.

Pernikahan sang puteri dan si bungsu berlangsung meriah dalam istana. Sang puteri telah menemukan cinta sejatinya. Mereka hidup bahagia selamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here