Cinta Pertama Tak Direstui, Cinta Keduaku Memilih untuk Meninggalkanku

0
42

Halo, namaku Ratih. Umurku 28 tahun. Status belum menikah. Pekerjaanku sebagai guru di salah satu sekolah dasar swasta di Semarang.

Kamu pasti bertanya-tanya, sudah berumur 28 tahun kok statusnya masih single, tapi percayalah nggak ada perempuan yang sudah berumur diatas 25 yang mau setia dengan status single-nya, dibalik statusnya yang belum berubah pasti perempuan itu menyimpan alasan lain.

Mungkin saja perempuan itu masih trauma dengan kisah cintanya yang dulu tidak direstui orangtua pihak laki-laki, dan itu membuatnya kapok untuk memulai hubungan baru, bisa juga karena terjebak cinta bertepuk sebelah tangan, atau bisa juga karena terjebak masa lalu dan itu membuat si perempuan susah move on, dan aku yakin masih banyak alasan lainnya yang membuat perempuan-peerempuan itu belum beranjak dari status single-nya.

Salah satunya aku. Aku termasuk perempuan yang mengalami cinta tak direstui orangtua dan cinta bertepuk sebelah tangan.

Dulu, seperti kebanyakan remaja umum lainnya, aku juga pernah mengalami cinta pertama.

Aku mengenal cinta pertama sekaligus pacar pertamaku di kampus. Kami satu universitas tapi beda jurusan, kami bertemu karena kami satu organisasi di kampus.

Tapi, walaupun kami satu kampus, aku tak begitu mengenalnya. Aku hanya sering melihatnya setiap kali berangkat dan pulang kuliah.

Saat bertemu di organisasi, barulah kami mulai saling ngobrol. Ternyata dia juga sudah tahu siapa aku, hanya saja kami sama-sama terlalu malu untuk saling sapa.

Aku dan dia sama-sama anak rantau, dia dari Jakarta dan aku dari Surabaya. Sebagai anak rantau, temanku masih sedikit, begitu juga dia. Merasa sama-sama butuh teman, kami mulai berteman sejak saat itu.

Kami juga saling bertukar nomor HP.  Supaya lebih mudah saat salah satu dari kami butuh bantuan.

Komunikasi kami sangat lancar, dan aku paling senang kalau udah ngobrol bareng dia. Bawaannya nyambung terus dan kayak nggak akan putus. Kadang kalau harus lembur pekerjaan dari organisasi, aku dan teman-temanku mampir ke kos-annya dia atau kadang juga ke kos-anku. Kadang aku juga menghabiskan waktuku di kos-an dia cuma untuk sekedar ngobrol bareng, dan dia juga melakukan hal yang sama, kadang dia mampir ke kos-anku untuk sekedar ngobrol bareng.

Keseringan bareng, ternyata nggak sehat buat kesehatan jantungku, gara-gara kebersamaan kami yang sederhana aku jatuh cinta padanya, tiap bareng jantungku mesti jedag-jedug nggak jelas. Tapi, aku nggak berani ngomong duluan, aku takut, kalau perasaanku bertepuk sebelah tangan.

Tapi, suatu hari, dia mengatakan padaku kalau dia nyaman denganku. Dia ingin hubungan kami lebih dari sekedar teman.

Tentu aja, aku setuju dengan permintaannya. Cinta pertamaku membalas perasaanku.

Umurku dengannya hanya selisih 1 minggu, seperti remaja-remaja pada umumnya, aku juga ngerasain gimana asyiknya menghabiskan waktu dengan pujaan hati. Setiap hari aku dan dia bertemu di kantin, janjian pulang bareng dan kencan di malam minggu.

Seiring berjalannya waktu, aku menceritakan hubungan kami pada orangtuaku, aku juga mengenalkan dia pada orangtuaku. Sayangnya, orangtuaku menolak hubungan kami, mereka nggak merestuinya. Dan mereka nggak memberi tahuku alasan mereka menolak hubunganku dengan pacarku.

Tapi, aku masih keukeuh dengan perasaanku, aku tetap melanjutkan hubunganku. Aku percaya bahwa hubunganku dengan pacar pertamaku masih bisa diperjuangkan.

Lalu, tiba saatnya pacarku mengenalkanku pada orangtuanya, aku setuju saat aku diajak liburan ke Jakarta.

Kami berdua berangkat naik kereta ke Jakarta. Tiba disana, kami dijemput oleh adik pacarku.

Tiba di rumahnya, aku belum bertemu dengan siapa-siapa, kedua orangtuanya saat itu sedang bekerja. Jadilah aku hanya tiduran di kamar tamu, itung-itung aku istirahat karena perjalanan Semarang-Jakarta yang lumayan melelahkan. Sampai malam tiba aku belum bertemu orangtua pacarku. Pikirku, mungkin besok pagi saat sarapan.

Keesokan harinya, aku menyibukkan diri di dapur untuk membuat teh hangat. Aku harus menetralkan perasaan kurang percaya diriku saat nanti akan dikenalkan pada orangtuanya.

Tapi, belum sempat aku memperkenalkan diri siapa aku, orangtua pacarku mengatakan mereka tidak bisa menerimaku sebagai pasangan anaknya. Dan aku mendengar semua percakapan orangtua pacarku dengan pacarku. Orangtua pacarku dengan keras nggak merestui hubungan kami.

Saat mendengarnya, yang bisa kulakukan hanya menangis dan berlari menuju kamarku, aku langsung mengepak baju-bajuku.

Pacarku kaget dengan apa yang sedang aku lakukan. Aku katakan padanya bahwa aku ingin pulang ke Surabaya. Aku butuh waktu. Dia nggak menjelaskan apa-apa padaku.

Saat perkuliahan kembali dimulai, dia menemuiku, dia bilang padaku kalau hubungan kami nggak bisa diteruskan. Dia lebih memilih orangtuanya daripada aku.

Saat itu aku merasa seperti orang bodoh, dulu saat orangtuaku menolaknya, aku membelanya mati-matian, tapi sekarang dia malah mengakhiri tanpa melakukan usaha sedikit pun. 2,5 tahunku terasa sia-sia.

Tapi, tak apa. keluarga memang segalanya dan aku belajar menerima kenyataan. Aku yakin ini yang terbaik.

Setelah putus dari pacar pertamaku, aku agak menutup hati. Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun.

Aku fokus dengan kuliahku dan setelah lulus aku mencari pekerjaan di kampung halaman.

Aku diterima di sebuah sekolah dasar swasta sebagai guru.

Setelah sekian lama aku menyendiri dan menutup hati untuk yang lain, tepat di hari pertama aku akan mulai mengajar aku melihat cinta keduaku.

Kami tanpa sengaja berpapasan di depan ruang kepala sekolah. Dia menatapku bingung, aku juga sama bingungnya.

Kupikir dia itu sales buku yang datang ke sekolah-sekolah, ternyata aku salah. Dia sama sepertiku, dia juga seorang guru. Waktu pertama kali lihat, aku nggak ada perasaan apa-apa. dia bukan tipeku, di berbadan gelap dan juga kurus, lebih cocok jadi sales buku daripada guru, pikirku. Sedangkan tipeku adalah laki-laki yang tinggi, berisi dan juga putih, serta laki-laki itu harus lebih smart dariku.

Tapi, biar bagaimana pun juga aku dan dia adalah partner guru. Empat bulan kami bekerja sama, kami sering bertengkar nggak jelas dan saling sindir,walupun pertengkaran kami nggak sampai ke pertengkaran serius sih. Tapi, gara-gara itu aku dan dia makin dekat. Kalau aku dan dia sedang luang, pulang sekolah kami akan jalan bareng. Kadang juga aku di antar sampai ke rumah, walaupun cuma jalan kaki. Tapi aku sangat senang, aku merasa bahagia karena aku punya teman ngobrol bareng saat jalan kaki ke rumah. Kalau jalan-jalan ke mall kami naik kendaraan umum, tapi aku merasa aman saat pergi berdua dengannya.

Selisih umur kami terpaut 10 tahun, tapi dia nggak merasa terbebani dengan perbedaan usia yang sangat jauh itu. Saat itu perasaanku belum tumbuh, hanya sebatas merasa nyaman, aku masih menganggapnya teman biasa.

Sayangnya, banyak yang nggak suka dengan kebersamaan kami. Kata mereka, kami itu terlalu berbeda, dari usia, suku dan status pekerjaan.

Sikap orang-orang yang seperti itu, membuat kami mau nggak mau melakukan pertemuan di luar lingkungan sekolah dan selama masih di sekolah kami bersikap profesional, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Terlalu sering menghabiskan waktu bareng, sedikit demi sedikit membuat hatiku terbuka untuk mulai menyayangi dia, walaupun sebenarnya agak sakit,karena aku nggak tahu dia menganggap apa hubungan kami. Kemana saja dia mengajakku, aku akan mengiyakan. Aku belajar menerima dan menyukai apa yang ia suka tapi aku tak suka.

Tapi, aku merasa semua penantianku sia-sia. saat aku belajar menyayanginya dan perasaan itu mulai tumbuh, dia masih belum mengakui aku sebagai pacarnya atau calon istrinya.

Tiga tahun kebersamaanku dengannya, aku selalu mengikuti keegoisannya dan belajar menerima semua kekurangannya. Saat dia butuh bantuan, aku selalu berusaha untuk menjadi orang pertama yang membantunya.

Seperti saat dia ingin membeli barang-barang yang dia mau dan dia nggak punya cukup uang lalu dia mengatakan kalau dia mau pinjam uangku, aku  dengan sukarela meminjamkan uangku. Walaupun setelah itu kadang dia nggak membayar utangnya, tapi aku tetap berusaha menjadi yang terbaik untuknya.

Sudah tiga tahun lebih kami bersama, tapi baginya aku tetap teman biasa, biasa untuk dimaki, biasa diajak pergi kemana saja dia mau, dan biasa dia marahi.

Kadang aku juga mengatakan rasa cemburu dan iriku pada pasangan-pasangan lain padanya, tapi dia masih belum mau menganggapku ada. Dan saat itu kami bertengkar hebat, sampai dia mengacungkan pisau di depanku.

Saat pertengkaran hebat itu berlangsung, aku memberanikan diri mempertanyakan statusku.

Apa arti diriku baginya, kenapa dia selalu egois, padahal aku sama sekali nggak pernah menuntut apapun dari dia. Apakah ketulusanku menerima dia apa adanya masih kurang begitu meyakinkan dia untuk menerimaku sebagai calon istrinya?

Aku mengerti keadaannya, aku tak pernah minta kado valentine atau kado ulang tahun karena aku tahu keuangannya yang untuk makan saja masih belum cukup. Saat itu dia hanya diam saja. tak menjawab pertanyaanku.

Tapi suatu hari, saat dia pulang dari futsal, aku melihatnya jalan bareng dengan perempuan lain. Dia kelihatan begitu bahagia. Dari situ aku tahu, kalau selama ini, cintaku bertepuk sebelah tangan.

Keesokan harinya dia mengirimiku pesan whatsapp, katanya, jangan dekat atau datang atau mencarinya di kos lagi, cukup sampai disini.

Hatiku hancuurr.

Semua pengorbananku sia-sia. Ketulusan cintaku disia-siakan.

Setelah ditinggalkan tanpa perasaan, aku sudah tidak lagi menghubungi dia. Kontaknya aku hapus. Dan semoga aku juga bisa menghapus semua kenanganku dengannya. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here