Cerita Tukang Masak yang Licik

0
5
https://pixabay.com/en/cartoon-chef-chubby-comic-cook-1299636/

Dahulu kala di sebuah kota kecil tinggallan seorang pria setengah baya yang pandai memasak dan dikenal sebagai seorang koki yang handal. Koki ini bernama Tito, keahliannya dalam meracik bumbu dan memperlakukan bahan masakan memang sudah diakui senatero kota. Sangat mudah bagi Tito untuk mendapatkan banyak uang dari keahliannya dalam memasak. Beruntung Tito kemudian dipinang oleh seorang tuan tanah bernama Gery untuk dijadikan koki pribadinya.

Tito pun cukup memasak sesuai pesanan tuannya yang memang tidak banyak karena Gery sendiri adalah seorang duda kaya. Meski begitu Gery menggaji Tito cukup besar sehingga tak sampai setahun koki handal ini punya tabungan banyak dan tubuhnya pun semakin tambun. Sayangnya meski dikenal sebagai koki yang pandai meramu bahan dan bumbu masakan dengan cerdas.

Rupanya tak banyak diketahui orang jika Tito ini memiliki sifat yang licik, dan hanya diketahui oleh para koki yang pernah bekerja bersamanya. Kelicikan ini ternyata tidak pernah sekalipun memberikan karma bagi Tito, sehingga semakin licik dan juga serakah. Bahkan Gery yang mempekerjakannya pun tidak tahu watak buruk koki pribadinya ini.

Suatu ketika, Gery datang ke dapur dengan wajah sumringan. Didatanginya Tito dan menyampaikan titah.

“Tito, hari ini aku akan kedatangan tamu istimewa. Ayam gemuku di belakang tolong dimasak dan olah dengan bumbu istimewa sebagai sajian untuk tamuku nanti.”
“Baik tuan Gery, akan saya lakukan”, jawab Tito.

Tito pun tak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk mengeksekusi perintah tuannya. Datang ke belakang rumah bersama sebilah pisau dapur yang tajam. Tanpa butuh waktu lama dua ekor ayam tuannya yang gemuk sudah kehabisan nafas dan siap untuk diolah menjadi ayam panggang menggiurkan. Butuh waktu satu jam lebih untuk membuat daging ayam gemuk tersebut siap dipanggang supaya aromanya keluar dan warnanya semakin cantik.

Setelah matang, Tito kemudian mengecilkan api panggangan. Lalu tak berselang lama tuannya datang ke dapur.

“Ayamnya sudah matang tuan, ini tetap saya letakan di pemanggang supaya saat disajikan ke tamu tetap dalam kondisi hangat.”, Terang Tito kepada Gery.

Namun wajah Gery nampak resah, barulah diketahui Tito jika tamu yang ditunggu tuannya belum juga datang. Gery kemudian berujar akan menjemput temannya siapa tahu tersesat di jalan. Tito pun memastikan tamunya akan datang atau tidak.

“Tuan, saya akan menunggu tamu tuan sampai. Tapi jika terlalu lama, akan sangat sayang kalau ayamnya basi tidak ada yang memakan. Maka saya akan memakannya sampai habis.”
“Baik, tidak apa-apa. Nanti jika tamuku batal datang silahkan habiskan ayam panggang itu dan sisakan sedikit untukku makan malam.”, ucap Gery pada Tito.

Bergegas Gery pun memacu kudanya di istal untuk menjemput tamunya yang memang terlambat datang. Melihat tuannya sudah pergi jauh, Tito pun menunjukan sifat liciknya. Ia mengendap ke kamar tuannya untuk mencuri anggur terbaik yang disimpan di ruang dekat brankas. Tuannya tentu tidak menyadari jika anggurnya habis, karena sering terlupa menyimpan anggur. Pasalnya anggur semakin lama disimpan maka akan semakin enak.

Siapa sangka usai menghabiskan sebotol penuh anggur terbaik Gery, Tito pun merasakan pertunya kosong. Sangat lapar dan tanpa menunggu kepastian dari Gery langsung menghasbiskan dua ekor ayam beserta lauk lain yang sudah diolahnya. Perutnya yang buncit ternyata mampu menampung semua makanan tersebut dalam sekali makan.

Setelah semua hidangan habis, tiba-tiba tuannya beserta tamu istimewanya telah sampai. Tito pun mendapat perintah untuk menghidangkan menu spesial yang sudah disiapkan kepada tamunya. Berhubung hidangan sudah habis tanpa sisa karena masuk ke perut Tito semua sampai perutnya terasa penuh. Maka Tito pun mencoba mencari akal agar tuannya tidak menyadari kelakuan buruknya.

Diapun mendatangi tamu istimewa Gery di ruang tamu, kemudian menyampaikan sesuatu.

“Tuan, kumohon cepatlah pulang. aku kasihan kepadamu yang masih sangat muda.”, ucap Tito sungguh-sungguh sampai tidak terkesan berbohong sama sekali.
“Ada apa wahai koki gendut?”, tanya tamu itu penasaran dan sedikit kalut.
“Tuanku tengah ke dapur dan memilih pisau terbaiku disana. Tahukah engkau apa yang direncanakannya?”, tanya Tito skeptis dan dijawab gelengan oleh tamu muda tersebut. “Tuanku berencana memotong kedua telingamu untuk dijadikan koleksi berikutnya.”

Ucapan Tito barusan langsung memberi efek wajah ketakutan dan merah padam di tamu tersebut. Tanpa berpikir panjang tamu tersebut pun berlari keluar rumah Gery dan tidak sanggup menengok ke belakang saking takutnya.

Sementara di dalam rumah, Gery pun keluar menuju ruang tamu dan mendapati Tito hanya berdiri sendirian disana.

“Tito, dimana tamu istimewaku? Aku sudah lapar, aku ingin mengajaknya bersantap sampai kenyang.”
“Tuan, dua ekor ayam gemuk yang sudah saya panggang tadi dibawa kabur semua oleh tamu tuan. Sepertinya hendak dimakan sendiri.”
“Apa???!!”, Gery pun menyahut sembari kaget sekaligus marah, “Tidak punya sopan santun! Aku saja kelaparan disini apa iya ayam istimewaku malah dibawa kabur hanya seorang tamu?”

Gery pun bergegas berlari menyusul tamu istimewanya yang disangka kabur membawa dua ekor ayam untuk makan malamnya. Perut yang kosong membuat akal sehatnya tidak bekerja dan hendak merebut ayam istimewanya kembali. dikejarnya tamu tadi yang masih terlihat di depan sana sambil berlari kencang dan berteriak.

“Hei kamu, kembali kesini! Aku lapar..”, terang Gery.

Mendengar teriakan lapar dari Gery, tamu tadi semakin ketakutan. Muncul kecurigaan dia akan dibunuh dan dijadikan santapan makan malam. Maka iapun terus berlari dan begitupun dengan Gery.

Aksi kejar-kejaran tersebut tentu tidak perlu terjadi jika Gery tidak mudah terhasut. Sebab sebelum percaya perkataan orang lain sebaiknya memastikan dulu kebenarannya sehingga tidak salah langkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here