Cerita Dua Anak Lelaki dengan Segenggam Kacang

0
5
http://sayangianak.com/benarkah-mengasuh-dua-anak-laki-laki-itu-lebih-sulit-daripada-anak-perempuan-ini-10-kiat-mengasuh-kakak-adik-laki-laki/

Di sebuah kota kecil tinggalah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari seorang ibu muda dengan kedua anak laki-lakinya. Ibu muda ini adalah janda dan dikenal ramah sekaligus pekerja keras sehingga mampu mencukupi kebutuhannya dan kedua anak laki-lakinya. Meski begitu ibu muda ini memiliki dua anak laki-laki yang perangainya tidak bisa dikatakan baik.

Keduanya memiliki sifat iri satu sama lain sehingga nyaris tidak pernah akur, karena apapun yang diberi sang ibu dijamin jadi rebutan. Tabiat kedua anak inipun sudah dikenal seantero kota dan memang kadang membuat sang ibu malu sendiri. Sebenarnya sang ibu muda ini ingin sekali menegur kelakuan kedua anak laki-lakinya. Namun dirasa belum waktunya mengingat keduanya masih anak-anak.

Selain iri kedua anak laki-laki ini juga dikenal cukup serakah, sehingga apapun yang diinginkan musti didapatkan. Ketika melihat ada teman bermainnya yang memiliki mainan atau makanan enak mereka berdua tidak ragu untuk merebutnya. Hingga suatu ketika ada anak laki-laki lain yang menangis meraung-raung karena mainan barunya direbut oleh kedua anak laki-laki si ibu muda tadi.

Anak tadipun mengadu pada ibunya, dan tanpa tedeng aling-aling langsung melabrak si ibu muda.

“Hei kamu, kalau punya anak itu dididik yang baik. Jangan diajari merebut barang orang! Lihat anaku jadi menangis begini…”, murka ibu anak laki-laki yang mainannya direbut tadi.
“Maaf Bu, saya tidak paham. Ada apa ini?”, ucap ibu muda merasa bingung.

Mendengar perkataan ibu muda, ibu anak yang menangis tadi pun langsung melotot dan wajahnya merah padam seolah menahan amarah.

“Anakmu itu sudah merebut mainan anakku sampai menangis. Kembalikan mainan anakku sekarang juga!”, bentaknya pada ibu muda.

Melihat hal ini maka ibu muda yang baik hati inipun hanya bisa mengelus dada dan segera mencari kedua anak lelakinya. Ternyata memang benar keduanya tengah berebut mainan berbentuk kapal kecil dari logam yang terlihat mahal. Sudah tentu ibu muda tahu mainan itu bukan pemberiannya karena tak akan mampu membeli mainan mahal seperti itu.

Mencoba mengambil mainan kapal tersebut, ibu muda memohon dengan tutur kata lembut kepada kedua anaknya. Namun apa daya kedua anaknya malah marah-marah dan membentaknya. Sampai ibu anak lelaki yang mainannya direbut tadi turun tangan. Langsung merebut mainan anaknya yang sudah direbut dan bergegas pergi meninggalkan ibu muda dengan kedua anak lelakinya yang gantian menangis keras.

Ibu muda merasa malu dan sebenarnya juga marah namun masih bingung harus berbuat apa agar kedua anak lelaki kesayangannya sadar. Kemudian bisa menjadi anak laki-laki yang baik seperti anak lain pada umumnya. Malam harinya si ibu muda tak mampu memejamkan matanya barang sedetik. Hatinya gundah memikirkan kedua anak lelakinya yang selalu digunjingkan tetangga serakah dan suka iri satu sama lain.

Menjelang dini hari, terbersit sebuah ide sederhana di benak sang ibu muda. Iapun bertekad akan mengeksekusi ide tersebut untuk membuat kedua anaknya memiliki perangai yang baik.

Pagi pun tiba dan ketika terbangun ibu muda langsung mendengar kokokan ayam jantan milik tetangga. Rencana yang terlintas di pikirannya semalam pun segera dilakukan pagi itu juga. Ibu muda kemudian pergi ke dapur, ia membuka sebuah panci kecil usang yang diberi penutup dari logam yang sudah reyot bukan main.

Rupanya di dalam panci tersebut terdapat simpanan kacang tanah, ia menyimpannya karena tahu kedua anak lelakinya menyukai olahan kacang tersebut. Keduanya selalu menghabiskan camilan dari kacang tanah buatannya. Pagi-pagi sekali ibu muda kemudian mulai mengolah kacang tanah dan menyiapkan bumbu istimewa favorit keluarganya turun-temurun.

Usai kacang tanah ini matang iapun segera mendinginkannya, lalu membersihkan stoples kecil dari kaca pemberian orangtuanya dulu. Dimasukan kacang olahan tersebut ke dalam stoples kecil tadi lalu diletakan di meja makan. Bergegas ibu muda memanggil kedua anak lelakinya yang masih tidur nyenyak karena hari ini kebetulan hari libur sekolah.

Kedua anaknya pun turun dengan riang, karena saat keluar dari pintu kamar tercium aroma bumbu kacang tanah khas buatan ibunya. Tanpa komando dan aba-aba keduanya pun berlari ke arah dapur lalu langsung girang bukan kepalang melihat stoples penuh dengan kacang berbumbu istimewa favoritnya. Berhubung keduanya memang dikenal iri dan juga serakah, maka langsung menyadari jika kacang tanah berbumbu sedap tersebut hanya ada sedikit.

Stoples kaca kecil ini memang hanya mampu menampung kacang dalam jumlah terbatas. Tanpa sadar keduanya pun berebut stoples berisi kacang tersebut. Bahkan keduanya tak segan terlihat saling menendang, menjambak, memukul, dan lain sebagainya satu sama lain. Melihatnya ibu muda merasa sedih dan hatinya teriris.

Mendadak salah satu anak lelakinya berhasil merebut stoples kaca tersebut, diayunkannya ke dekat tubuhnya. Sembari memasukan salah satu tangannya ke dalam mulut stoples. Ia terlupa jika stoples tersebut ukurannya kecil maka mulut stoples pun tidak lagi cukup untuk tangannya. Sayangnya saking serakahnya anak tersebut tetap memasukan tangannya ke dalam stoples. Kemudian berusaha untuk menggenggam kacang sebanyak mungkin.

Melihat hal tersebut saudara satunya lagi tak tinggal diam, tetap berusaha untuk merebut stoples kacang tersebut. Sampai pada akhirnya stoples ini terbentur tepian meja dan isinya pun berantakan serta tumpah semua ke lantai yang kotor. Tangan salah satu anak lelaki yang berhasil memasukan tangannya ke stoples pun terlihat tersangkut di mulut stoples.

Kacang berbumbu sedap yang diinginkan keduanya pun tak pelak tidak bisa lagi dimakan karena kotor semua jatuh ke lantai rumah. Melihat hal ini sang ibu pun mendekati keduanya.

“Lihatlah nak, dengan berebut maka tak ada yang menang. Semuanya kalah dan tidak menerima keuntungan apapun. Coba tadi kalian saling berbagi dijamin kacang berbumbu lezat ini sudah masuk ke mulut kalian. Mulai sekarang cobalah untuk saling berbagi dan jangan serakah lagi…” terang ibu muda, dan disambut oleh pelukan kedua anak lelakinya yang terlihat menangis tersedu-sedu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here